Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Ketua MK: Baru Buku Ini, Bisa Membuat Saya Meneteskan Air Mata

Selasa, 12 Maret 2019 – 21:00 WIB

Anwar Usman (foto:istimewa)

Anwar Usman (foto:istimewa)

JAKARTA, REQNews - Ketua MK Anwar Usman menghadiri sekaligus memberikan ceramah kunci pada acara Launching dan Bedah Buku karya penulis Hazairin, mantan aktivis 1998, di Aula Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Mbojo Bima. 

Dikutip dari mkri.id, dalam acara tersebut, turut hadir pejabat Pemkab dan Pemkot Bima seperti Wakil Bupati Bima, Dahlan M. Noer, Sekda Kab Bima Taufik HAK, Asisten II Setda Kota Bima Alwin Yasin, kalangan Akademisi dan para Mahasiswa di sejumlah Perguruan Tinggi Bima. 

Mengawali paparannya, Anwar menyampaikan keharuannya setelah membaca isi buku berjudul “Nurani Keadilan, Refleksi Diri dan Keberagaman” karya Hazairin.

Anwar pun meneteskan air mata haru saat membaca buku karya anak bangsa, putra asli Bima. "Buku ini karya tulis putra Bima yang berjudul Nurani Keadilan, Refleksi Diri dan Keberagaman. Terus terang, baru buku ini yang membuat saya terharu dan meneteskan air mata," ucapnya pria kelahiran Bima, 31 Desember 1956 ini. 

Namun di sisi lain, Anwar merasa terpukul karena Bima masih dinilai sebagai daerah terbelakang di Indonesia, salah satunya dari aspek pendidikan. Padahal banyak tokoh sukses di pentas nasional yang berasal dari Bima. "Bahkan dua Putra Bima pernah menjadi Ketua MK, jadi sangat disayangkan jika saat ini Bima belum memiliki Universitas sendiri, harusnya Bima lebih maju lagi," tuturnya singkat. 

Sebelumnya, Penulis Buku, Hazairin AR dalam sambutan singkatnya menegaskan bahwa inti dari semua diskursus yang dibangun dalam bukunya itu mengajak umat manusia agar tidak hanya berpikiran cerdas tetapi juga harus masuk ke alam berpikir yang tercerahkan. Sebab, hanya dengan itu kita baru bisa bicara ada keteladanan secara personal, ada keteladanan secara berkelompok dan ada keteladanan dalam kehidupan bernegara. 

Menurut Hazairin, keteladanan itu bukan hanya sebuah kata atau tafsir, tapi keteladanan itu tumbuh karena dia dituntut oleh hati nurani sebagai satu rupa sejati umat manusia. "Intinya dia harus punya varian, yang pertama amanah sebagai penyampai kebenaran, kemudian cerdas membuat diplomasi dan dapat dipercaya," papar pria yang saat ini mengabdi di BNN Pusat ini. (nls)