Diam di 700 Hari Penyerangan Novel

Rabu, 13 Maret 2019 – 10:00 WIB

Aksi diam wadah pegawai KPK, Koalisi masyarakat sipil dan para sejumlah wartawan di KPK selama 700 detik dan dalam rangka 700 hari kasus Novel Baswedan (foto : REQnews/Haikal)

Aksi diam wadah pegawai KPK, Koalisi masyarakat sipil dan para sejumlah wartawan di KPK selama 700 detik dan dalam rangka 700 hari kasus Novel Baswedan (foto : REQnews/Haikal)

JAKARTA, REQnews – 700 hari lalu, selepas subuh, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan disiram air keras. Akibatnya, kedua mata novel terluka dan harus mendapat penanganan medis. Selama itu pula, berbagai langkah aparat kepolisian tidak kunjung membuahkan hasil.

Lewat Aksi Diam yang digelar di gedung Merah Putih KPK Selasa malam (12/3/2019), Wadah Pegawai (WP) KPK bersama awak media dan pegiat antikorupsi diam selama 700 detik.

Ketua WP KPK Yudi Purnomo menuturkan bahwa pihaknya sudah berulangkali menyuarakan desakan pengungkapan kasus Novel. Namun, nyatanya semua itu belum cukup. Penyiram Novel masih gelap.

”Akhirnya tiba masanya kami menyuarakan suara kalbu. Kalimat yang hanya bisa terdengar saat diam. Diam adalah bahasa tanpa sandiwara dan kebohongan. Diam adalah bahasa terakhir saat lidah kita semua sudah membeku,” kata Yudi.

Kalimat itu dilanjutkan dengan Aksi Diam. Sampai 700 detik selesai. Lantas ditutup dengan pembacaan salah satu karya Wiji Thukul berjudul Sajak Suara.

Melalui Aksi Diam, WP KPK meminta kejelasan atas penanganan kasus penyiraman air keras terhadap Novel. Permintaan itu didasari lambatnya penanganan kasus tersebut. Jangankan aktor intelektual, pelaku yang begerak di lapangan pun belum diketahui rimbanya.

"Hari ini 700 hari (pasca) penyerangan Novel Baswedan, kami pegawai KPK menunggu realisasi dari pimpinan negeri ini untuk membongkar kasus penyerangan Novel Baswedan,” ungkap Yudi.

Tuntutan itu tidak hanya untuk keadilan terhadap Novel. Melainkan seluruh rakyat Indonesia.

WP KPK khawatir, bila kasus penyerangan terhadap Novel tidak kunjung diungkap, kasus serupa terulang lagi. Itu sangat mungkin terjadi mengingat pelaku yang menyiramkan air keras kepada Novel masih bisa berkeliaran bebas meski sudah melakukan aksi yang keji.

”Pelaku masih bebas beraktivitas, merdeka, tanpa adanya efek jera,” sesal Yudi.

Selain Aksi Diam, kemarin Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi juga menyampaikan sikap mereka. Shaleh Al Ghifari yang berasal dari LBH Jakarta menyampaikan tuntutan Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi. Di antaranya soal pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang independen.

”Melalui keppres yang terdiri atas para ahli, tokoh, dan praktisi yang kompeten dan independen yang bertanggung jawab langsung kepada presiden,” imbuhnya.

Tuntutan itu kembali digaungkan lantaran tim yang ada saat ini dinilai gagal melaksanakan tugas. (*/Oji)