Lebih 2 Tahun Penyidikan, Kasus Suap Emirsyah Satar Segera Disidangkan

Kamis, 05 Desember 2019 – 01:00 WIB

Emirsyah Satar

Emirsyah Satar

JAKARTA, REQnews - Setelah 2 tahun 11 bulan, kasus suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat juga pencucian uang yang menjerat eks Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar akhirnya segera disidangkan.

Penyidikan oleh KPK dipastikan telah selesai, persidangan kasus ini akan digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta.

"Penyidik telah menyerahkan tersangka dan barang bukti ke penuntut umum atas nama 2 orang tersangka, yaitu ESA (Emirsyah Satar) dan SS (Soetikno Soedarjo)," ujar Kabiro Humas KPK Febri Diansyah, Rabu 4 Desember 2019.

KPK telah memeriksa sebanyak 80 saksi dalam kasus ini selama hampir 3 tahun lamanya penuntasan penyidikan, sejak diterbitkannya sprindik pada 16 Januari 2017.

Selama 2 tahun itu, penyidik KPK mengungkap temuan baru, yakni berupa aliran dana yang lebih besar dari dugaan awal.

"Dari dugaan awal sebesar Rp20 Milyar menjadi Rp100 Milyar untuk sejumlah pejabat di Garuda Indonesia," kata Febri.

KPK menetapkan Emirsyah Satar bersama Soetikno Soedarjo sebagai tersangka suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat. Emirsyah, yang merupakan mantan Dirut PT Garuda Indonesia diduga menerima suap dari Soetikno selaku beneficial owner Connaught International Pte Ltd.

KPK menduga Emirsyah menerima suap dari Soetikno itu dalam bentuk uang dan barang. Duit yang diduga diterima Emirsyah sebesar 1,2 juta euro dan USD 180 ribu. Emirsyah turut diduga menerima suap dalam bentuk barang dengan total nilai USD 2 juta. Barang-barang itu tersebar di Singapura dan Indonesia.

Terbaru, KPK menjerat Emirsyah dan Soetikno sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Selain itu, KPK menjerat Hadinoto Soedigno sebagai Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia periode 2007-2012 sebagai tersangka pencucian uang tersebut.

Kasus dugaan pencucian uang itu ditelisik KPK dari beberapa temuan baru, seperti dugaan pemberian uang dari Soetikno ke Emirsyah dan Hadinoto untuk membayar sejumlah aset. Aset yang dimaksud antara lain rumah hingga uang di rekening di luar negeri.