Sextortion, Kejahatan Kemanusiaan Paling Keji

Chuck Suryosumpeno

Ahli dan Praktisi Pemulihan Aset (Asset Recovery)

Minggu, 26 April 2020 – 16:21 WIB

Sextortion, Kejahatan Kemanusiaan Paling Keji

Sextortion, Kejahatan Kemanusiaan Paling Keji

JAKARTA, REQnews - Selama ini kita hanya mengenal istilah pelecehan seksual dan pemerkosaan untuk melukiskan tindakan pemaksaan hubungan badan yang dilakukan oleh pelaku. Namun seiring dengan berkembangnya tindak kejahatan maka dunia penegakan hukum mulai memperkenalkan ‘Sextortion’.

Sejatinya istilah sextortion berasal dari kata sex dan extortion. Sex diartikan sebagai seks/seksual dan Extortion diartikan sebagai pemerasan.

Sehingga sextortion diartikan sebagai ‘pemerasan seksual’. Beberapa tahun terakhir sextortion menjadi sebutan bagi sebuah tindakan yang dikategorikan sebagai salah satu kejahatan siber karena jenis tindak pidana ini lebih sering dilakukan di dunia siber.

Journal Sexual Abuse (jurnal pelecehan seksual) merupakan jurnal akademik ‘peer-review’ yang menerbitkan artikel tentang berbagai aspek klinis dan teoritis dari tindakan pelecehan seksual, termasuk etimologi, konsekuensi, pencegahan, pengobatan, dan strategi manajemen penanggulangan kejahatannya.

Jurnal ini resmi dikeluarkan oleh sebuah asosiasi yang bertujuan untuk merawat pelaku seksual. Di tahun 2018, jurnal ini pernah memuat hasil sebuah penelitian di Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa tindak pidana sextortion didapati semakin marak.

Para pelakunya mengincar remaja dan anak muda. Dan oleh karenanya dibutuhkan tindakan penanggulangan yang serius dan dilakukan secara berkesinambungan.

Seiring dengan itu, International Association of Women Judges (IAWJ) sepakat untuk menggunakan istilah ‘sextortion’ ini untuk menggambarkan tindakan penyalahgunaan wewenang dimana seks terbukti telah dipergunakan sebagai alat penyuapan kepada pihak yang berkuasa.

Namun satu hal yang perlu dicatat, IAWJ menolak mengelompokan sextortion sama gratifikasi seksual. Fakta ini menurut penulis sangat menarik, karena sextortion dapat menjadi salah satu kejahatan serius yang bersifat borderless (tak berbatas), walaupun sebenarnya penulis sangat yakin jenis kejahatan ini sebenarnya sudah masuk ke Indonesia.

Sextortion dalam Kejahatan Siber
Dari studi yang dilakukan oleh banyak pihak terkait kejahatan sextortion ini, ternyata ditemukan beberapa pola kejahatan sextortion dengan menggunakan sejumlah foto vulgar remaja atau anak muda. Oleh pelaku foto-foto tersebut secara sengaja disebarluaskan di media sosial tanpa persetujuan pemiliknya.

Kemudian pelaku akan menggunakan postingannya tersebut sebagai alat pemerasan dan perbudakan seksual. Dalam kurun waktu bulan Juli hingga Agustus 2018, Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) telah menerima lebih dari 13 ribu laporan tindak kejahatan sextortion. Dan ironisnya angka tersebut cenderung terus meningkat secara tajam.

Profesor Sameer Hinduja dari Sekolah Kriminologi dan Keadilan Pidana di bawah naungan Universitas Florida Atlantik bekerjasama dengan Profesor Justin Patchin, seorang ahli Peradilan Pidana Universitas Wisconsin Eau Claire, menggagas riset terhadap 5.569 siswa sekolah menengah terkait kasus kejahatan sextortion ini.

Dari riset tersebut diketahui lima persen dari jumlah siswa yang menjadi objek risetnya terbukti pernah menjadi korban kejahatan sextortion. Survei ini juga menunjukkan bahwa kejahatan ini sering terjadi pada mantan pasangan romantis.

Mantan kekasih yang berpisah atau pasangan suami istri yang bercerai menjadi pelaku pemerasan dengan mengancam akan menyebarkan foto pribadi mereka. Kebanyakan pelaku kejahatan ini adalah orang yang sangat dikenal oleh korbannya.

Fenomena Kejahatan Serius
Ketika seorang pejabat yang memiliki posisi dan kewenangan tertentu meminta uang sebagai imbalan atas kewenangannya tersebut, maka kita sepakat menyebutnya sebagai suap dan menuding pejabat tersebut telah melakukan tindak pidana korupsi.

Lalu bagaimana jika yang diminta adalah seks? Sebagaimana telah disebutkan diatas, International Association of Women Judges sepakat menggunakan istilah ‘sextortion’ untuk menggambarkan penyalahgunaan wewenang dimana seks menjadi mata uang suap yang dilakukan dengan paksaan.

Selain itu menurut IAWJ, tindak kejahatan sextortion menjadi fenomena yang berdampak sangat buruk pada perempuan serta anak-anak yang rentan terhadap kejahatan ini. Penulis meyakini bahwa bila tindak kejahatan tidak segera diantisipasi maka hampir dipastikan akan menyentuh hampir seluruh sektor termasuk menghancurkan berbagai akses layanan pemerintah, pendidikan, pekerjaan, keadilan, dan bisnis.

Film dokumenter ‘Eye on Africa’ menampilkan fakta miris tentang wanita muda di sejumlah negara di Afrika (tidak hanya di Afrika Barat) yang secara rutin ‘diperas’ untuk menjadi budak seksual. Hal ini merupakan bentuk korupsi terburuk dan yang paling sulit diungkap dan diatasi. Mengingat tidak semua korban memiliki keberanian untuk melaporkan kepada yang berwajib.

Frank Vogl, seorang reporter The Times of London dan juru bicara utama Bank Dunia, mengisahkan bahwa selama lebih dari setahun, tim televisi BBC melakukan penyamaran di Universitas Lagos dan Universitas Ghana, didapati para siswa perempuan diperas secara rutin oleh para professor atau dosen mereka sendiri.  Anak-anak perempuan ini sangat rentan karena mereka telah bersusah payah masuk ke universitas tersebut. Mereka juga harus berjuang untuk mendapatkan nilai bagus sehingga bisa melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. Untuk itulah, mereka dipaksa menjadi pelayan seks.

Dalam salah satu artikelnya tentang  kejahatan ini, Frank menceritakan tentang Rose (21 tahun), mahasiswi di Nigeria yang memiliki latar belakang keluarga miskin, keadaannya yang miskin membuatnya tidak mampu membeli serangkaian materi kuliah yang memang ‘dijual’ oleh dosennya. Materi tersebut adalah bahan bacaan wajib di kelasnya.

Karena tidak mampu membayar dengan uang tunai maka dosen itu meminta bayaran dalam bentuk ‘lain’. Namun Rose dengan tegas menolak. Sang dosen merasa tersinggung dan sebagai hukuman atas penolakannya, Rose mendapat nilai rendah di mata kuliah tersebut sehingga harus mengakhiri pendidikannya.

Rose adalah potret individu yang terlahir dari keluarga miskin dan terpaksa kehilangan harapan untuk keluar dari kemiskinan yang selama ini membelenggu. Kisah ini bukan sekedar potret tentang keterbelakangan ekonomi semata, tetapi tentang tentang kejahatan sistemik yang bisa menimpa siapa saja.

Hasil penelitian Dr Yoojin Choi dari International Anti Corruption Academy di Vienna, menunjukkan fakta bahwa para migran perempuan sangat rentan terhadap tindak kejahatan sextortion. Seperti misalnya, sebagai pembayaran untuk layanan perbatasan dan kontrol petugas bea cukai yang selalu dilakukan dengan sangat ketat pada para migran ilegal.

IAWJ telah lama berupaya untuk menarik lebih banyak perhatian global terhadap permasalahan kemanusiaan ini. Dalam catatan mereka, upaya melakukan tindakan sextortion, selalu disertai unsur korupsi yaitu penyalahgunaan wewenang dalam kedudukan dan/atau jabatan yaitu ada perbuatan meminta (imbalan) atau menerima pelayanan seksual sebagai imbalan atas wewenang yang dipercayakan kepadanya.

Tindak kejahatan ini melibatkan delik materiil korupsi dalam pengertian yang lebih luas, yaitu seseorang yang memiliki jabatan telah menyalahgunakan wewenang yang dipercayakan kepadanya untuk keuntungan pribadi dengan mengabaikan  integritas, keadilan yang diharapkan dari kedudukannya.

Saat ini diperlukan dukungan para pemimpin perempuan dan pegiat kemanusiaan untuk terus menerus melakukan sosialisasi tentang hal ini kepada generasi muda terutama bagaimana cara mereka berteman yang baik dan terhindar dari percobaan pemerasan menggunakan foto-foto pribadi sehingga tidak terperosok pada pergaulan yang salah.

Penulis: Chuck Suryosumpeno