Fenomena Organized Crime di Tengah Pandemi

Chuck Suryosumpeno

Ahli dan Praktisi Pemulihan Aset (Asset Recovery)

Rabu, 06 Mei 2020 – 11:07 WIB

FENOMENA ORGANIZED CRIME DI TENGAH PANDEMI

FENOMENA ORGANIZED CRIME DI TENGAH PANDEMI

JAKARTA, REQnews - Pandemi Covid-19 diyakini telah mendatangkan perubahan pola kehidupan masyarakat dunia. Disrupsi terjadi diberbagai sektor termasuk dunia kejahatan, baik yang berskala kecil dan besar seperti organized crime (kejahatan yang dilakukan secara terorganisir) dan double crime (kejahatan yang dilakukan oleh penegak hukum).

YAKUZA adalah salah satu organisasi yang melakukan kejahatan secara terorganisir. Kejahatan yang dilakukan Yakuza sangat berbahaya dan beroperasi di hampir seluruh pelosok dunia, termasuk Indonesia.

Kata Yakuza  bermakna ‘tidak ada gunanya’. Pada awalnya adalah istilah ini diciptakan oleh para jurnalis saat kehancuran Jepang paska Perang Dunia II. Awalnya mereka adalah Machi-yokko (satuan tugas) yang terdiri dari pedagang, pegawai, dan orang biasa yang mau menyumbangkan tenaganya secara sukarela. Machi-yokko ini dibentuk untuk melindungi desa-desa dari serangan para kabuki-mono yaitu para samurai yang kehilangan tuan yang sering membuat onar. Di kalangan rakyat Jepang abad ke-17, kaum machi-yokko ini dianggap seperti pahlawan.

Hingga akhirnya anggota machi-yokko ternyata tidak ingin kembali pada profesi awal dan memilih tetap menjadi preman. Ada dua kelas profesi para machi-yokko, yaitu kaum Bakuto (penjudi) dan Tekiya (pedagang). Istilahnya saja sebagai pedagang, tetapi mereka tetap menjalankan profesi sebagai preman. Mereka membentuk kelompok-kelompok kejahatan yang memperdagangkan barang di pasar gelap dan menjamin keamanan para pedagang dan pemilik toko, mereka menghasilkan uang melalui kegiatan ilegal seperti pemerasan, kejahatan keuangan, perjudian, prostitusi dan perdagangan obat bius ditengah crowd (keramaian) atau yang dalam bahasa Jepang dinamakan 'shinogi'.

Kekerasan antar geng diantara para Yakuza sendiri mencapai puncaknya pada tahun 2000, sebagai  akibat persaingan diantara mereka untuk menguasai Tokyo dan kota besar lainnya.

Seiring perkembangan sosial ekonomi Jepang, Yakuza merambah ke sektor bisnis konstruksi dan pasar uang dengan menggunakan teknik intimidasi untuk mendapatkan harga kompetitif.

Namun walaupun keberadaan organisasi ini kontroversial, tetapi nyatanya masyarakat menerima keberadaan mereka secara diam-diam. Bahkan mereka berhasil membaur dengan bisnis legal lainnya.

Sampai masyarakat berhenti menerima "geng" sebagai organisasi kejahatan yang diperlukan sebagai ‘malaikat pelindung’ yaitu sejak prefektur di Jepang, yaitu sebuah istilah untuk menyatakan suatu wilayah yang memiliki kekuasaan tersendiri atau wilayah seperti zaman Diokletianus yang membagi Kerajaan Romawi menjadi empat wilayah.

Prefektur mirip seperti negara bagian atau provinsi yang dipimpin oleh pemimpin tunggal, melarang warga berbisnis dengan Yakuza 2010. Sejak saat itu masyarakat mulai berhenti menerima geng sebagai ‘kejahatan yang diperlukan’ untuk mempermudah permasalahan yang dihadapi. Masyarakat mulai menyadari bahwa sejatinya geng ini adalah masalah.

Dalam masyarakat Jepang, pekerjaan ‘kotor’ secara tradisional dilakukan oleh kaum Burakumin yaitu kelompok orang buangan. Meskipun tidak semua anggota Yakuza berasal dari golongan ini namun mereka selalu memposisikan diri sebagai kekuatan anti-sosial.

Burakamin senantiasa berdiri didepan untuk membela masyarakat. Setiap kali bencana besar melanda Jepang, mereka akan bergerak cepat mengirim pasokan bantuan ke seluruh negeri.

Saat pandemi Covid 19 menyerbu, Pemerintah Jepang awalnya mendapatkan kritik karena dianggap lamban merespons. Baru pada tanggal 16 April 2020, pemerintah mengumumkan keadaan darurat nasional dalam upaya untuk menghentikan penyebaran virus corona dan memperkuat sistem kesehatan negara.

Namun disisi lain para pelaku organized crime di Jepang juga bergerak mencoba mengambil keuntungan dari krisis ini. Dengan kata lain, pandemi ini telah menjadi medan baru bagi para pelaku kejahatan terorganisir di negara itu.

Kelompok Yakuza yang lebih tua ditengarai berusaha keras memulihkan reputasi mereka. Sementara kelompok lain yang relatif lebih baru, dikenal sebagai ‘hangure’, berusaha bersaing ketat memanfaatkan krisis ini khususnya untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan peralatan medis.

Garyo Okita, seorang jurnalis dan pakar Yakuza, berpendapat bahwa dengan cara ini kelompok pelaku kejahatan teroganisir berharap untuk kembali diterima secara sosial di hadapan masyarakat. Secara tidak sengaja peluang bisnis baru ini juga menghancurkan bisnis tradisional yang selama ini mereka jalankan, yaitu perdagangan gelap narkoba, perjudian dan industri seks kelas atas.

Kita mungkin masih sangat ingat tentang kapal pesiar Diamond Princess yang dihentikan di pelabuhan Yokohama setelah beberapa penumpang dinyatakan positif Covid-19. Dibalik berita tersebut, ternyata ada satu kelompok Yakuza yang dilaporkan menawarkan bantuan disinfektan ke kapal pesiar tersebut dan setelah 600 penumpangnya akhirnya diizinkan turun, bahkan kelompok ini juga menawarkan untuk mengirim anggotanya membersihkan kapal Diamond Princess saat labuh di pelabuhan. Namun, pemerintah tidak setuju dan menolak tawaran Yakuza tersebut. Demikian yang diberitakan oleh media News Post Seven.

Ketika masker wajah, tisu dan kertas toilet mulai menghilang dari rak-rak di supermarket Jepang pada bulan Februari, beberapa kelompok Yakuza mencari celah dengan membagikan masker secara gratis ke berbagai apotek dan taman kanak-kanak.

Memang, ini bukan kali pertama Yakuza berupaya memanfaatkan krisis menjadi aksi propaganda. Pemimpin kelompok Yakuza terbesar kedua Jepang, Sumiyoshi-kai (telah ditangkap pada 2012) pernah mengirimkan pekerja ilegal untuk membersihkan pabrik nuklir Fukushima yang hancur paska tsunami yang menghancurkan kota Fukushima.

Kemunculan Undang Undang Kejahatan Anti-Organisasional Jepang 1991 telah mendorong kelompok kriminal organisasi seperti Yakuza memudar reputasinya bahkan nyaris hancur. Namun jenis kejahatan ini ternyata tidak punah, karena muncul peluang baru bagi kelompok kriminal Jepang lainnya yang kemudian dikenal sebagai Hangure. Istilah Hangure memiliki arti ‘setengah abu-abu’ atau ‘setengah buruk’.

Hangure muncul saat Atsushi Mizoguchi, penulis buku  ‘Kejatuhan Yakuza’ di tahun 2011 menyebutnya untuk menjelaskan kemunculan kelas penjahat non-afiliasi baru. Hal tersebut merupakan bukti bahwa sirnanya suatu jenis kejahatan ternyata tidak otomatis menghilangkan kejahatan itu sendiri.

Kejahatan akan selalu tumbuh dan berkembang seiring dengan tumbuh kembangnya kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Sebagaimana warna hitam yang akan selalu ada mendampingi warna putih. Maka kejahatan juga akan senantiasa berada disamping penegakan hukum untuk mewakili keseimbangan kehidupan.

Tulisan diatas diharapkan dapat memperbaiki cara pandang kita terhadap kejahatan. Penegakan hukum seyogyanya selalu dikembangkan sehingga tidak tertinggal dengan perkembangan tindak kejahatan.

Penulis: Chuck Suryosumpeno