Peran Nama dari Sudut Pandang Pemulihan Aset

Chuck Suryosumpeno

Ahli dan Praktisi Pemulihan Aset (Asset Recovery)

Jumat, 29 Mei 2020 – 12:45 WIB

Peran Nama dari Sudut Pandang Pemulihan Aset

Peran Nama dari Sudut Pandang Pemulihan Aset

JAKARTA, REQnews - Pemberian nama untuk seorang anak yang baru lahir oleh orangtua merupakan hal yang sangat lazim dilakukan. Karena dibalik sebuah nama anak biasanya tersimpan harapan dan doa orang tua.

Pemberian nama dimungkinkan memiliki banyak variasi dalam berbagai bahasa. Biasanya orang tua menginginkan nama anaknya spesifik dan berharap akan senantiasa diingat orang. Oleh karenanya, mereka tak segan membuat variasi terhadap nama-nama yang pernah ada.

Lazimnya nama yang biasa dipakai antara lain diambil dari nama orang-orang terkenal dan kata yang memiliki makna khusus dalam berbagai bahasa, seperti identifikasi dari keindahan, profesi orang tua, berbagai jenis bunga dan lain-lain.

Maka akan sangat aneh saat ada orangtua yang memberi anaknya yang baru lahir dengan nama yang unik dan tidak lazim, apalagi bila yang memberi nama itu seorang public figure seperti Elon Musk sebagaimana berita yang beredar, CEO Tesla tersebut memberikan nama pada anaknya yang baru lahir sebagai X Æ A-12 Musk. Namun belum lama sang bayi menyandang nama itu Elon menggantinya menjadi X Æ A-Xii.

Perbuatan Elon Musk ternyata dianggap melanggar aturan pemerintah California tentang tata cara pemberian nama anak yang mengharuskan nama terdiri dari rangkaian huruf abjad a – z, tidak boleh dalam bentuk angka.

Momen pemberian nama Elon Musk tersebut sontak menjadi trending news ditengah isu Covid-19 yang menyita perhatian masyarakat dunia saat ini. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia pemulihan aset, isu pergantian nama anak Elon Musk tersebut menggelitik penulis untuk ikut mencermati isu tentang ‘nama’. Karena dipandang dari sudut pemulihan aset, nama seseorang juga termasuk dalam kategori ‘aset’, saat nama tersebut memiliki value. Nama juga menjadi penting dalam dunia kejahatan, terutama dalam proses pemulihan aset kejahatan.

Esensi Sebuah Nama
Nama adalah sebutan atau label yang diberikan kepada sebuah benda, seorang atau sekelompok manusia, suatu tempat, suatu atau sebuah produk (dalam bentuk merek produk), selain itu nama juga bisa digunakan sebagai sebutan atau label sebuah gagasan atau konsep yang biasanya digunakan untuk mengenali dan membedakan satu sama lainnya.

Nama bukanlah sekedar rangkaian kata yang tersusun dengan indah. Bahkan dimasa Kekaisaran Romawi, nama seseorang diatur oleh negara. Nama untuk warga negara pria Romawi Kuno terdiri dari tiga bagian atau biasa disebut dengan tria nomina, yaitu: praenomen (nama depan), nomen (atau nomen gentile, atau gentilicium) dan cognomen (nama dalam garis keluarga). Kadang selain ketiga nama tersebut masih ada pula cognomen kedua atau ketiga, yang disebut dengan agnomen.

Di era Romawi Kuno, nama seseorang tidaklah statis, tetapi dapat berubah-ubah sesuai dengan status atau koneksi sosialnya. Contoh yang paling jelas adalah nama Kaisar Augustus yang terlahir pada tahun 63 SM dengan nama Gaius Octavius dan pada tahun 27 SM Senat Romawi menganugerahkan gelar Augustus. Sehingga nama regnal resminya adalah IMP·CAESAR·DIVI·F·AVGUSTVS (baca: Imperator Caesar Divi Filius Avgustvs yang berarti Imperator Caesar Augustus atau Putra Yang Didewakan).

Tidak hanya Romawi, dinasti Kerajaan Mataram juga mengenal dan menerapkan hal yang sama, Sri Sultan HB X bergelar Ngarso Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalogo Ngabdurrahman Sayidin Panotogomo Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sadoso Ing Negari Ngayogyakarto Hadiningrat. Beliau terlahir sebagai BRM Herjuno Darpito dan seiring dengan tugas serta tanggung jawabnya dalam Keraton maka beliau kemudian bergelar KGPH Mangkubumi selanjutnya jumeneng sebagai Sultan Yogyakarta. Kedua nama tersebut diatas menunjukkan bahwa nama juga menyiratkan gelar maupun kedudukan sosial penyandangnya.

Hal tersebut membuktikan bahwa nama bukanlah sekedar rangkaian kata yang tersusun tanpa makna. Ada ‘value’ didalamnya, seperti value Kaisar Augustus adalah kekaisarannya, demikian pula halnya dengan Sultan HB X adalah kasultanannya. Semakin besar nama seseorang, maka semakin besar valuenya. Karena itulah nama menjadi sangat berharga, nama identik dengan aset bagi penyandangnya. Hal tersebut sangat disadari oleh seorang Elon Musk. Maka ia ingin memberikan value pada nama anaknya. Value yang dimaksud adalah masa depan.

Aset dalam terminologi pemulihan aset dipahami dan dimaknai dalam pengertian yang luas. Pemulihan aset adalah instrumen yang dapat dipergunakan dalam berbagai kepentingan dan masuk dalam semua ruang lingkup pengertian aset, baik aset menurut pengertian umum, ekonomi, akuntansi, termasuk didalamnya aset hasil atau terkait kejahatan (aset yang dihasilkan dari tindak kejahatan).

Nama dalam Perspektif Kejahatan
Nama bisa digunakan untuk melakukan kejahatan, seperti terjadi baru-baru ini beberapa mobil mewah kedapatan terdaftar atas nama orang lain yang secara finansial tidak mampu membeli mobil tersebut. Jelas mereka sama sekali bukanlah pemilik yang sesungguhnya (legitimate owner). Kejadian tersebut merupakan salah satu bentuk penghindaran pajak progresif kendaraan bermotor dengan mengaburkan legitimate ownership.

Mengaburkan legitimate ownership juga dilakukan oleh para pelaku kejahatan untuk menyembunyikan uang atau aset hasil tindak kejahatannya. Hal tersebut dikenal dengan istilah ‘placement’ dalam tindak pidana pencucian uang. Prakteknya adalah dengan memanipulasi atau mengubah uang atau aset yang dihasilkan dari kejahatan ke bentuk yang tidak mencurigakan dengan menempatkannya ke dalam sistem keuangan dengan berbagai cara.
Sangat jelas tindakan tersebut merupakan salah satu tindak kejahatan yang menjadi objek utama dalam step pertama proses pemulihan aset hasil kejahatan, yaitu penelusuran aset atau asset tracing.

Tak jarang pelaku kejahatan sengaja mengganti nama dengan mendapatkan pengesahan nama barunya di pengadilan (masih sangat mudah dilakukan di Indonesia dan beberapa negara berkembang lainnya, terutama negara yang menerima kewarganegaraan ganda), kemudian mendaftarkan nama barunya tersebut untuk mendapatkan kartu identitas baru dan berbagai dokumen diri. Kemudian ia akan dengan mudah melenggang dengan identitas dan nama barunya untuk menyimpan aset hasil kejahatannya.

Bilamana digali lebih dalam, maka akan sangat banyak ditemukan fakta keterkaitan nama seseorang dengan tindak kejahatannya. Apalagi di era digital seperti sekarang ini, orang seakan dimanjakan dengan berbagai kecanggihan teknologi sehingga mereka bebas berkreasi tanpa batas. Namun seiring dengan hal tersebut, kreasi negatif juga tak kalah gencar bermunculan, bentuknya adalah tindak kejahatan.

Dalam dunia digital, nama bisa berfungsi sebagai password untuk melakukan kejahatan. Tidak hanya kejahatan pada layer pertama (penulis menyebutnya sebagai ‘layer pertama’ untuk kejahatan pokok atau kejahatan utamanya), maupun kejahatan layer kedua (kejahatan yang mengikuti kejahatan pokok atau utamanya, misalnya pencucian uang, dan lain lain) atau kejahatan layer ketiga, yaitu kejahatan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum, seperti pemerasan kepada para tersangka atau terdakwa atau terpidana dan/atau keluarganya, biasanya diwarnai ancaman bahwa hukuman atau tuntutan akan ditinggikan. Inilah yang disebut sebagai double crime (kejahatan ganda).

Antidote
Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, maka kata antidote berarti penawar. Penulis sengaja meminjam istilah ini untuk memudahkan pemahaman. Sebuah antidote atau penawar adalah substansi yang dapat melawan reaksi peracunan. Kata antidote ini berasal dari bahasa Yunani, αντιδιδοναι atau antididonai, yang berarti ‘memberikan perlawanan’.

Untuk beberapa racun, antidote didapat dengan cara menyuntikkan racun ke badan binatang dalam dosis kecil, lalu mengekstraknya kembali dari darah binatang tersebut. Hasil yang didapat ternyata ekstrak tersebut dapat melawan racun yang diproduksi oleh beberapa binatang seperti ular, laba-laba dan yang lainnya. Proses untuk mendapatkan antidote atau penawar ini bisa dijadikan pola untuk antisipasi kejahatan yang dengan sengaja menggunakan nama lain untuk menyimpan aset tindak kejahatan sebagaimana dijelaskan diatas.

Salah satu contoh best practice pernah dilakukan oleh para praktisi pemulihan aset Belanda beberapa tahun lalu. Saat itu mereka mendapatkan informasi dari praktisi pemulihan aset negara lain, bahwa uang dalam jumlah besar yang merupakan hasil kejahatan direncanakan akan diselundupkan ke Belanda melalui salah satu maskapai menggunakan nama orang yang bukan merupakan legitimate owner. Informasi juga menyebutkan bahwa uang tersebut dimasukkan dalam koper besar dengan ciri-ciri tertentu. Maka para praktisi pemulihan aset Belanda segera bergerak sesuai dengan petunjuk informan.

Mereka sengaja menunggu di depan carrousel bagasi di bandara setempat. Dan setelah menemukan koper yang dimaksud, mereka membuka koper dan memastikan isinya sesuai dengan informasi. Kemudian para praktisi pemulihan aset mengambil uang sebesar USD 5.000 dan diserahkan kepada pihak maskapai untuk membayar bila ada klaim kehilangan dari pemilik koper. Sisa dananya dirampas dan dimasukkan ke kas negara. Walaupun pada akhirnya diketahui tidak pernah ada pihak yang melakukan klaim atas kehilangan koper. Tindakan cerdas yang berfokus pada aset inilah yang disebut dengan penawar sebagaimana disampaikan diatas.

Pada prakteknya Negara sudah harus memiliki dan/atau menyelenggarakan sistem manajemen informasi publik yang akuntabel dan transparan. Utamanya dalam pengaturan dan pengelolaan nama. Semua kategori nama, terutama penggantian nama dan identitas seseorang maupun badan hukum haruslah dapat dengan mudah diakses oleh semua orang agar publik segera menyadari bila ada pihak yang menyalahgunakan namanya. Beberpa negara maju bahkan mencantumkan nama lama seseorang sebagai alias yang selalu melekat pada identitasnya. Jadi bila seseorang berganti nama berkali kali maka akan menjadi misalnya Karyo alias fulan alias fulan alias fulan. Hal tersebut dilakukan karena mereka sangat menyadari bahwa nama tidak hanya kumpulan kata yang tersusun indah melainkan bentuk lain dari aset yang memiliki nilai atau value.

Penulis: Chuck Suryosumpeno