Kutipan Menarik Terkait Profesi Advokat Yang Dinyatakan Abraham Lincoln

Frans Hendra Winarta

ABRAHAM LINCOLN DAN ADVOKAT

Jumat, 07 Desember 2018 – 12:45 WIB

Abraham Lincoln. Foto: Fastcompany.com

Abraham Lincoln. Foto: Fastcompany.com

OLEH : Prof. DR. Frans Hendra Winarta, S.H., M.H.*

Ada kutipan menarik terkait profesi advokat yang dinyatakan Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat yang ke-16, yang juga merupakan seorang advokat. Kutipan ini diambil dari kumpulan tulisan dan pidatonya yang berjudul “The Collected Works of Abraham Lincoln” (1953). Lincoln pernah berkata begini : There is a vague popular belief that lawyers are necessarily dishonest. Kutipan pernyataan tersebut diperkirakan ditulis Lincoln sekitar 1850 atau kurang lebih hampir 200 tahun lalu.

Pernyataan Lincoln tersebut masih relevan jika dikaitkan dengan dunia advokat saat ini. Boleh dikatakan bahwa hampir tidak ada perubahan yang signifikan mengenai anggapan masyarakat terhadap profesi advokat sejak dulu hingga sekarang. Saya tidak sedang menggeneralisir, tetapi tidak juga bisa mengesampingkan bahwa ada juga advokat yang tanpa tedeng aling-aling rela mengkhianati keadilan hanya demi lembar-lembar rupiah. Namun walau demikian, masih lebih banyak advokat yang jujur dan berintegritas. Profesi advokat sebenarnya, bukanlah profesi yang menghalalkan segala cara demi menjadi advokat yang dibilang sukses dan memiliki harta berlimpah.

Banyak tantangan dan ujian dalam profesi advokat yang terkadang menempatkan seorang advokat di posisi sulit. Ya, kadang-kadang masyarakat memandang sebelah mata terhadap profesi ini dan ini  terjadi karena banyak masyarakat belum memahami bahwa advokat membela kepentingan dan hak hukum klien bukan semata-mata membela perbuatan yang dituduhkan terhadap klien tersebut. Setelah dilakukan pengangkatan sumpah advokat, seorang advokat harus berkomitmen memperjuangkan keadilan, kebenaran, dan hak asasi manusia. Seorang advokat tidak boleh membela klien secara membabi buta, melainkan harus membela sesuai proporsinya. Dalam perjalanan membela kepentingan klien, seorang advokat tidak bisa terlepas sama sekali dari tuntutan pidana maupun perdata saat membela perkara kliennya. Jika dirinya melakukan pelanggaran hukum, misalnya memalsukan bukti, mengecoh polisi, atau menganjurkan klien untuk menghindar dari penegak hukum atau penyidikan, dan mempengaruhi hakim, maka advokat tersebut tidak imun dan bisa dituntut kapan saja, bahkan tindakannya bisa dikategorikan sebagai obstruction of justice atau menghalangi proses hukum.

Singkatnya, menjadi seorang advokat haruslah berpegang teguh kepada perlindungan hak asasi manusia, serta mengawal konstitusi, dan due process of law. Profesi advokat adalah pembelajaran seumur hidup atau disebut juga dengan a lifetime education, di mana kita harus terus belajar serta menimba ilmu baru dari waktu ke waktu. Itu karena hukum selalu dinamis. Jika tidak terus belajar, maka akan tertinggal dengan kemajuan zaman. Saya berharap, agar semua yang telah disampaikan dapat mencerahkan dan memberikan motivasi lebih untuk berkarya dalam status baru yang disandang hari ini, yaitu status sebagai advokat.

Harapan saya adalah para advokat jujur, berintegritas, memiliki idealisme, dan tidak berorientasi kepada materi semata dan saya ingin kembali mengutip  tulisan Abraham Lincoln di atas: If in your own judgment you cannot be an honest lawyer, resolve to be honest without being a lawyer. Choose some other occupation, rather than one in the choosing of which you do, in advance, consent to be a knave.

Jika Anda koreksi diri bahwa Anda tidak dapat menjadi seorang advokat yang jujur, maka lebih baik menjadi orang yang jujur tanpa harus menjadi seorang advokat. Pilihlah profesi lain daripada memilih suatu profesi yang diyakini, namun dari awal Anda berniat menjadi seorang penjahat (bajingan).Selamat berjuang! Fiat Justitia Ruat Coelum! (*)

*Penulis adalah Ketua Umum Persatuan Advokat Indonesia (PERADIN)

Penulis: Frans Hendra Winarta