Migrasi Bisnis Korporasi

Jenthu Apolunanto

Pemerhati Perbankan

Jumat, 24 Mei 2019 – 14:27 WIB

Ilustrasi migrasi bisnis korporasi

Ilustrasi migrasi bisnis korporasi

JAKARTA, REQnews - Rentetan dampak krisis finansial global seakan tiada habisnya. Saat ini, korporat di belahan dunia barat menghadapi realitas stagnasi pasar domestik yang bergerak berlawanan dengan potensi emerging market, yang justru menjadi mesin penggerak pertumbuhan bisnis di masa datang.

Perpindahan fokus penekanan bisnis dari Barat ke Timur merupakan bukti konsekuensi krisis finansial global. Perlu perubahan visi bisnis secara fundamental dan berjangka panjang, yang tentu saja membutuhkan akselerasi implementasi.

Saat ini, tidak aneh mendengar perusahaan multinasional menyatakan target emerging market telah berkontribusi signifikan bagi pencapaian target bisnis global. Kenyataan menunjukan banyak perusahaan multinasional barat telah memindahkan pabrik manufaktur dan memiliki pemasok/klien ke region Asia. Muncul peluang bisnis baru dari perpindahan fokus bisnis yang digerakan oleh krisis (crisis driven).

Peluang baru memerlukan pengelolaan konsentrasi portfolio bisnis dan risiko counterparty, yang terefleksikan dalam cara perusahaan mengelola ekspansi bisnis di wilayah baru. Era satu global bank melayani semua kebutuhan finansial perusahaan multinasional bisa jadi hilang seiring dengan keinginan perusahaan bermitra dengan bank-bank terkemuka di region Asia. Perusahaan ingin mendistribusikan risiko counterparty dan membuat kontijensi bisnis yang terukur.

Pendekatan baru di atas mempunyai hubungan langsung dengan kenyataan bisnis perusahaan lainnya, yaitu rerangka aktivitas treasury dan pengelolaan working capital di emerging market seperti Asia tidak lagi sesulit yang diasumsikan selama ini. Keengganan perusahaan multinasional untuk berpindah pasar gobal belahan timur didasari anggapan pasar keuangannya sangat berisiko dan terpecah (fragmented).

Pelaksanaan risk management regional dan struktur likuiditas diasumsikan tidak memadai karena banyak isu negatif yang melingkupi, seperti kontrol mata uang, model regulasi yang tersebar, kurang kuatnya konektivitas SWIFT dll.

Berbagai faktor bergabung menghadirkan kenyataan bahwa kesulitan dan isu negatif tersebut perlahan menghilang. Peluang bisnis baru pasar Asia diiringi oleh perbaikan peraturan hingga menjadi bersahabat secara antarnegara (multinational friendly).

Perusahaan multinasional juga melihat beberapa bank regional Asia mampu memberikan layanan bisnis/keuangan yang terdiversifikasi dan memiliki ahli bisnis yang dapat ‘bermain’ di regional lainnya antara lain Afrika dan Timur Tengah sekaligus memainkan aktivitas tresuri secara global.

Bagaimanapun, perusahaan tetap melakukan ekspansi ke dalam pasar baru untuk mengejar pertumbuhan sejalan dengan meminimalisir ketergantungan terhadap dana bank dengan memaksimalkan efisiensi modal kerja (working capital) guna memperbesar sumber likuiditas internal.

Banyak perusahaan multinasional yang sudah berekspansi ke Afrika, Asia dan Timur Tengah mengubah cara perusahaan berhubungan dengan tresuri Bank. Selama ini tresuri bank tempat induk perusahaan membuka rekening, dijadikan andalan dalam bertransaksi yang melibatkan valuta asing.

Seiring dengan relokasi pabrik maka perusahaan multinasional akan lebih tertarik menggunakan layanan treasury centre bank yang berada di area tersebut. Beberapa benefit yang akan dirasakan perusahaan terutama pada efisiensi layanan cash management, pengelolaan supply chain, mengelola risiko negara, mata uang dan counterparty secara lebih baik.

Peran baru fungsi tresuri perusahaan dan bank akan terintegrasi ke dalam strategi dan rencana bisnis. Dengan pertimbangan efisiensi biaya dan economies of scale maka para treasurer akan berperan dalam pertumbuhan, risiko dan perencanaan keuangan bagi masa depan dan kesempatan bisnis baru.

Peluang Bank

Secara tradisi salah satu isu utama bisnis perusahaan belahan dunia barat adalah jebakan likuiditas. Namun demikian, isu ini semakin menghilang seiring diperkenankannya pemeliharaan konsentrasi uang kas secara lintas batas negara. Beberapa perusahaan barat yang beralih ke China menikmati kondisi ini melalui transformasi pengelolaan efisiensi working capital dan mobilitas dana.

Lebih jauh, otoritas keuangan China semakin agresif memperkuat basis keuangan dan bisnis di Shanghai. Bila satu perusahaan berniat memindahkan basis perusahaan dan tresurinya ke China mereka akan menikmati berbagai fasilitas yang mengarah pada efisiensi dan penguatan likuiditas. Kondisi yang membuat Singapura dan Hong Kong cemas, mengingat kedua negara inilah yang selama ini menjadi pusat keuangan dan bisnis di belahan dunia timur.

Pusat finansial regional tersebut terlibat secara aktif dalam pengelolaan sovereign risk, khususnya dalam konteks ekspansi ke dalam pasar emerging market. Negara-negara dalam regional ini mempunyai bisnis, peraturan dan lingkungan politik beragam, yang berpengaruh signifikan terhadap penggunaan kapital dan pengembangan operasional bisnis.

Perlu upaya optimalisasi likuiditas lintas batas negara yang dipengaruhi fluktuasi nilai tukar sehingga pengelolaan risiko foreign exchange harus dilakukan secara ketat. Perusahaan-perusahaan Amerika dan Eropa memperkuat kapabilitas pusat-pusat tresuri regionalnya untuk mengelola risiko forex terhadap mata uang eksotik karena perbedaan zona waktu dunia akan membuahkan kerja keras pengelolaan likuiditas di kantor pusat perusahaan.

Telah menjadi trend bagi korporat mengurangi peran perantara dalam supply chain antara proses manufacturing dan akuisisi produk oleh konsumen akhir. Kondisi ini meningkatkan pembayaran via mobile phone. Teknologi informasi telah memasuki berbagai aspek bisnis perusahaan.

Korporat menjalankan ‘strategi distribusi digital’, di mana konsumen membeli langsung ke perusahaan tanpa harus melalui saluran distribusi tradisional dan peritel. Kondisi ini menghemat biaya distribusi produk dan merangsang perusahaan mendigitalkan proses distribusi. Bila perusahaan berhubungan langsung dengan pembeli, maka akan membutuhkan layanan cash management yang berbeda dari bank. Bank meresponnya dengan layanan mobile payment.

Melalui layanan mobile payment,  proses setelmen berbasis mobile akan mengoptimalkan pengelolaan risiko likuiditas dan menjamin keamanan proses collection uang.  Berarti terjadi pergeseran proses dari koleksi fisik uang ke setelmen berbasis mobile (mobile-based settlement).

Bank harus semakin antisipatif menangkap peluang bisnis baru akibat migrasi bisnis perusahaan di bidang cash management, pengelolaan working capital, supply chain, trustee, mobile/internet banking, produk/jasa tresuri, trade finance serta memperkuat branch network. Perlu upaya Bank menyeimbangkan interest income dan fee based income melalui peran sebagai transactional bank bagi para korporat tersebut.

Penulis: Jenthu Apolunanto