Menakar Nasib Bankir di Era Digitalisasi Perbankan

Jenthu Apolunanto

Pemerhati Perbankan

Senin, 27 Mei 2019 – 10:42 WIB

Ilustrasi era digitalisasi perbankan

Ilustrasi era digitalisasi perbankan

REQnews - Digitalisasi telah mengubah wajah perbankan. “We need banking but we don’t need banks anymore,” kata Bill Gates (1997). Pernyataan ini merupakan kode keras kepada pihak perbankan bahwa konsumen perlu transaksi perbankan tapi tidak ingin terikat waktu dan tempat yang bernama bank. Sekaligus merupakan peluang berinovasi teknologi agar perbankan dapat menembus pasar.

Di Indonesia, perbankan baru dapat menembus 54 persen pangsa pasar masyarakat (Skartiningron, 2017). Jadi peluang merebut pasar masih cukup besar, bersaing dengan sesama bank maupun lembaga layanan teknologi finansial atau fintech. Kode keras masa lalu yang tampaknya sudah menjelma sebagai tantangan hebat di depan mata para Bankir.

Perubahan itu diprediksi meningkatkan keuntungan bagi bank karena meningkatkan efisiensi dan memangkas biaya perbankan sebesar 30 persen (Indef, Seminar Indofintech, 2017). Di sisi lain, efisiensi perbankan dapat berarti dampak buruk bagi karyawannya. Telah sering terdengar pemutusan hubungan kerja terhadap para bankir karena perbankan melakukan penggabungan atau akuisisi atas nama efisiensi.

Demikian pula dengan efisiensi yang ditimbulkan oleh digitalisasi perbankan. Penggunaan e-banking tidak lagi memerlukan kasir (teller) di bank. Pembukaan deposito secara daring yang sering kali dibumbui gimmick marketing suku bunga yang lebih tinggi, tidak lagi memerlukan petugas layanan pelanggan (customer service).

Bahkan permintaan fasilitas kredit di lembaga tekfin (yang akan ditiru perbankan) tidak lagi melalui jalur konvensional melalui relationship manager dan analis kredit. Teknologi kecerdasan buatan akan mengolah data-data calon debitur saat yang bersangkutan melakukan aktivitas daring dan menghasilkan kesimpulan apakah pemohon tersebut layak diberikan fasilitas kredit atau tidak.

Lalu bagaimana dengan nasib para bankir yang tidak diperlukan jasanya lagi di era digitalisasi? Apakah mereka akan menambah panjang deretan pengangguran di negeri kita?

Digitalisasi industri dan perbankan
Apa itu digitalisasi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, digitalisasi berarti proses pemberian atau pemakaian sistem digital. Sistem ini berkaitan dengan pemberian informasi, yang mana sebelum ada sistem digital ini kita mengenal sistem analog. Sistem analog adalah sistem pengiriman informasi melalui gelombang elektronik bersifat variabel dan berkelanjutan (sebagai contoh adalah gelombang radio).

Sistem digital adalah sistem pengiriman informasi dengan mengubah sinyal menjadi bilangan biner (1 dan 0) sehingga proses pengiriman informasi relatif lebih mudah dan cepat serta minim kesalahan. Bila bingung dengan definisi ini, kita dapat membandingkan dua macam ember air, dimana sistem analog adalah ember yang terisi setengah sedangkan digital adalah ember yang terisi penuh (mewakili bilangan 1) dan ember kosong (mewakili bilangan 0).

Bila terjadi guncangan pada ember (yang mewakili kesalahan sistem), maka air pada ember terisi setengah akan bergejolak pada batasan yang tidak terukur. Sistem akan sulit membedakan apakah ada gangguan atau tidak karena guncangan tadi tidak mengubah jumlah air, dan bahkan perubahan posisi air masih dianggap oleh sistem sebagai ember yang berisi setengah.

Sedangkan pada sistem digital, ember yang berisi penuh (mewakili bilangan 1) bila terkena goncangan akan menumpahkan air sehingga jumlah berkurang dan posisi air berubah, sehingga sistem akan mendeteksi terjadinya kesalahan. Itulah mengapa saat ini dunia lebih cenderung memodernisasi proses pemberian informasi dengan sistem digital, karena minim kesalahan.

Digitalisasi telah merambah ke hampir semua industri. Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intellegent) di dalam industri menimbulkan dampak efisiensi dan produktivitas yang diimpikan oleh produsen dan konsumen. Bermula dari revolusi industri yang timbul karena penemuan mesin uap, diikuti penemuan daya listrik yang memacu munculnya industri manufaktur.

Selanjutnya adalah penemuan internet sebagai sumber informasi dan pertukaran data, lalu menjelma menjadi internet of things yaitu menghubungkan seluruh perangkat yang dapat terhubung dengan internet, self driving cars atau mobil yang dapat berjalan sendiri, dan robot, mengubah aktivitas dunia sepenuhnya. Perangkat menjadi saling terhubung untuk menyelesaikan kebutuhan manusia, dan meminimumkan tingkat interaksi manusia dalam proses tersebut.

Indonesia adalah pengguna aktif internet. Populasi masyarakat Indonesia tahun 2018 berkisar 265 juta jiwa, 50% nya adalah pengguna internet atau berkisar 132,5 juta jiwa, 123 juta pengguna aktif internet bergerak (mobile) menggunakan telepon pintar, dan 106 juta adalah pengguna aktif sosial media. Perbankan menyikapi hal ini sebagai peluang pemasaran sejak tahun 2000-an dengan mulai menggelar pembayaran elektronik (e-banking), dan membangun sistem jaringan.

Tetapi bila boleh jujur, lembaga tekfin adalah pemacu kompetisi digital di sektor keuangan. Pesaing lain yang tak kalah beratnya adalah sistem pembayaran elektronik oleh perusahaan non keuangan yang semula ditujukan untuk kepentingan pengelolaan keuangan sendiri kemudian berkembang menjadi sistem pembayaran terpadu yang bekerja sama dengan para merchant (contoh T-cash, dan GoPay).

Bank Indonesia secara aktif ikut mengawal kompetisi digital ini dengan mengeluarkan kebijakan Lembaga Keuangan Digital (LKD) yang mulai dirilis tahun 2013 dan merupakan pengejawantahan dari sistem perbankan tanpa cabang (branchless banking). Menurut BI, LKD adalah kegiatan layanan jasa sistem pembayaran dan/atau keuangan terbatas yang dilakukan tidak melalui kantor fisik, namun dengan menggunakan sarana teknologi antara lain mobile based maupun web based dan jasa pihak ketiga (agen), dengan target layanan masyarakat yang belum terlayani oleh jasa perbankan.

Sedangkan untuk pengaturan lembaga tekfin, BI telah merilis aturan-aturan baru pada tahun 2017, untuk melegalisasi sekaligus mengatur peminjaman dana dari lembaga keuangan non bank yang selama ini tidak diperkenankan dan hanya dapat dilakukan oleh pihak perbankan dan lembaga keuangan lainnya.
Minimumnya tingkat interaksi manusia terhadap proses digitalisasi menimbulkan dampak negatif yaitu berkurangnya lapangan pekerjaan. Baik dari sektor industri sendiri maupun dari pihak perbankan.

Contoh yang terkini adalah penggunaan uang elektronik pada pembayaran tarif jalan tol. Di setiap gerbang tol tidak ada lagi penjaga loket yang siap menerima uang pembayaran. Hanya ada alat sensor di gerbang tol otomatis (GTO), pengemudi menempelkan kartu pembayaran, palang gerbang tol terbuka dan wuuuzzz…mobil dapat langsung berjalan melewatinya. Tanpa bantuan penjaga sedikitpun.

Masalah sumber daya manusia yang tergantikan oleh mesin ini telah terjadi sejak adanya penemuan yang menimbulkan perubahan besar. Penemuan mesin uap membawa perubahan dari konsep industri agraris menjadi industri manufaktur. Berubahnya profesi petani menjadi buruh industri menyebabkan kegagapan keahlian. Ditambah dengan penemuan listrik yang menyebabkan industrialisasi menjadi lebih masif.

Contoh sederhana adalah pulau Jawa yang bertanah subur dan sesuai untuk bercocok tanam, sekarang sebagian besar lahannya berubah menjadi kawasan industri. Penduduk Jawa cenderung untuk bekerja menjadi buruh daripada petani dengan asumsi kompensasi lebih besar dan cepat didapat. Dibandingkan dengan petani yang harus menunggu masa panen yang panjang waktunya, peluang gagal panen yang besar karena bergantung pada cuaca, dan keuntungan yang kecil dibandingkan dengan biaya produksi. Buruh hanya mengandalkan tenaga, sedikit keahlian, dan tidak perlu mengeluarkan modal.

Hal ini juga lah yang memakmurkan pemodal dengan dana besar. Demikian pula tahapan berikutnya, saat penemuan internet untuk berkirim informasi lalu bertranformasi menjadi penggerak ekonomi digital seperti yang terjadi saat ini. Berbagai profesi pekerjaan pun menghilang, digantikan oleh profesi yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Ancaman dan Peluang Profesi Digitalisasi Perbankan
Ancaman berkurangnya pegawai karena digitalisasi perbankan telah nampak pada sejumlah bank. BPS telah menyatakan hal serupa, tetapi karena pegawai bank relatif lebih sedikit dibandingkan manufaktur maka hal tersebut dianggap tidak terlalu berdampak. Pada periode 2017, pegawai yang berkurang pada bank umum nasional berkisar 500 sampai dengan 1.000 orang.

Sementara kategori bank lainnya menawarkan pensiun dini, atau mengalih-tugaskan karyawan dari posisi teller atau customer service ke bagian pemasaran. Biro Riset BI juga mencatat pengurangan kantor cabang bank pada periode Desember 2015 sampai dengan Agustus 2017 berkurang 314 unit dari 32.949 unit menjadi 32.635 unit (Ellyanawati, 2018)

Bagi para pekerja di sektor perbankan, selain ancaman kehilangan pekerjaan, proses digitalisasi ini juga akan menimbulkan peluang pekerjaan baru. Salah satu contoh penawaran pekerjaan baru adalah sebagai seorang content writer atau penulis konten. Bagi Anda yang belum paham profesi ini, seorang content writer adalah penulis profesional yang menulis konten web atau artikel untuk dipublikasikan di Internet.

Tulisan ini nantinya akan mengisi situs atau blog untuk menarik pengunjung dengan tujuan komersial (memasarkan produk) atau agar blog-nya mempunyai lalu lintas tinggi (traffic) sehingga si empunya situs dapat memasang iklan daring dan mendapatkan uang. Penulis konten ini adalah salah satu profesi yang timbul dan berkembang dari konsep digitalisasi.

Pekerjaan di atas hanya salah satu profesi yang timbul dari proses digitalisasi. Menurut World Economic Forum ada empat hal yang mempengaruhi pekerjaan pada masa depan (Ramona, 2017). Pertama, teknologi kecerdasan buatan akan menciptakan profesi pekerjaan baru, dan bukan pengangguran massal. Namun permasalahannya adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan profesi baru yang lebih diinginkan, dan bukan dengan tidak adanya lowongan pekerjaan. Kedua, timbulnya persaingan antar kota (dan bukan antar perusahaan) untuk sumber daya manusia terbaik.

Mengingat jarak dan waktu telah tak terbatas, maka manusia akan memilih tinggal di area mana saja yang dapat memberikan fasilitas terbaik. Opsi untuk tinggal di dekat tempat bekerja akan segera ditinggalkan.

Ketiga, pekerja lepas akan mendominasi posisi kerja. Baik perusahaan maupun karyawan akan memilih opsi ini, karena bagi perusahaan akan lebih efisien dari biaya operasional, sedangkan bagi karyawan kebebasan waktu dan tempat akan lebih utama. Keempat, sistem pendidikan akan lebih holistik dan tidak ada lagi spesialisasi.

Seluruh bidang akan terintegrasi, sehingga penguasaan dan pemecahan permasalahan akan lebih global dan berbasis tugas.
Umumnya, Bankir selama ini terspesialisasi dalam bidang kerjanya. Bankir dengan spesialisasi kredit akan tetap bekerja di areanya, dengan sedikit pengetahuan di bidang perbankan lain.

Demikian pula dengan bagian operasional, tresuri, pemasaran, maupun sistem informasi. Alangkah baiknya bankir mengetahui seluruh hal di luar bagian pekerjaannya sebagai persiapan pengalihan pekerjaan pada era digitalisasi. Selain itu, para bankir yang diperkirakan akan mengalami pengalihan profesi agar dapat sedini mungkin belajar dan beradaptasi dengan calon posisi baru.

Sebagai rujukan, berikut pekerjaan yang akan ditawarkan dengan remunerasi tinggi karena dianggap mempunyai keterampilan langka terkait dengan kemampuan di bidang teknologi:
1. Pekerjaan baru dan spesifik di bidang teknologi, seperti penulis konten, pembuat situs, pembuat koding aplikasi android, dan sebagainya.
2. Pekerjaan yang relatif tidak rentan terhadap digitalisasi yaitu pekerjaan yang melibatkan keterampilan kreatif, sosial, persuasif, dan negosiasi. Contoh pekerjaan di bidang pemasaran, pendidikan, manajemen, serta riset dan pengembangan.
3. Menjauhi pekerjaan yang rentan terhadap digitalisasi seperti administrasi, pekerjaan mekanis (pekerjaan pabrik), pekerjaan yang tidak melibatkan keterampilan sosial atau komunikasi.

Seperti kata Jack Ma, pendiri Alibaba, bahwa bahasa pemrograman adalah bahasa masa depan, maka tidak ada salahnya bankir untuk mempelajari hal tersebut selain bidang keuangan konvensional yang menjadi menu utama perbankan saat ini. Semoga di masa depan tidak ada bankir yang menjadi pengangguran atau pensiun dini di era digitalisasi perbankan.

Sumber bacaan:
Samora, R., 2017, Ketenagakerjaan 4.0 di era Revolusi Industri, Investor Daily, 2017.
Ellyanawati, E.R., N, 2018, Analisa Perkembangan Jumlah Outlet Kantor Cabang dan Kebutuhan Frontliners di Era Digital Banking (Studi kasus di Bank Syariah Anak Perusahaan dan UUS Bank BUMN di Yogyakarta), Seminar Nasional dan Call for Paper Sustainable Competitive Advantage (SCA) 8 Purwokerto, 19 September 2018
Hadad, M.,2017, Tantangan Ekonomi Makro pada Era Digital, Surabaya, 10 Januari 2017
Skartiningron, A., 2017, Tranformasi BRI menuju era Bank 3.0 melalui optimalisasi BRISAT untuk menjawab era digitalisasi perbankan, Thesis S2 Manajemen, UGM, Yogyakarta

Penulis: Jenthu Apolunanto