Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!
Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!

Rumah Adat Wologhai, Arsitektur yang Tak Pernah Mati

Rabu, 10 Juli 2019 – 13:00 WIB

Rumah Adat Wologhai (Foto: Dokumen pribadi Risno)

Rumah Adat Wologhai (Foto: Dokumen pribadi Risno)

ENDE, REQnews - Suasana Pagi itu terasa sejuk, jarum jam sudah menunjukan angka tujuh pagi waktu Indonesia bagian timur. Setelah sebelumnya, kami mengunjungi Kelimutu yang fenomenal itu, kami pun bergegas menuju Kampung Adat Wologhai. Letaknya tidak jauh dari Kelimutu, kita membutuhkan waktu 15 menit saja untuk mencapai tempat ini.

Sebelum kami ke kampung adat Wologhai, kami terlebih dahulu menyempatkan diri untuk menikmati santapan makan siang tradsional yang letaknya tidak jauh dari kampung adat Wologhai, masakan di sini luar biasa lezatnya, dengan aneka menu yang menggugah selera. Bahkan teman saya, hanif mendadak jadi vegetarian. Biasanya doi, makan makanan yang cepat saji. Tapi pilihannya mendadak berubah, ia jadi suka makan sayur-sayuran ketimbang daging.

Tak lama berselang, kami pun bergegas ke kendaran untuk berangkat menuju ke Kampung Adat Wologhai. Jujur sich penasaran dengan gaya dan corak arsitekturnya yang hingga kini masih bertahan dan tak lekang oleh waktu. Waktu pun dengan cepatnya berlalu, tour guide yang ikut bersama kami berbicara banyak tentang produk lokal maupun potensi wisata yang sedang dikembangkan oleh pemerintah daerah setempat. Namanya Dominikus Arken(35), pria yang penuh tato ini meski terlihat seram, tapi sebenarnya orangnya baik, ramah lagi. Bagi dia tato merupakan seni bukan suatu kriminalitas.

"Ka’e,saya bisa antar ka e dorang ke pusat kain tenun selain kampung adat” begitu katanya. Menarik juga ya, kalau ada tempat wisata baru. Tanpa banyak pertimbangan kembali, saya dan hanif pun mengiakan keinginan Arken. Namun, sebelum kami bergegas ke kampung tenun, terlebih dahulu kami berkunjung ke rumah adat wologhai.

Kampung adat yang terletak di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur ini menyimpan banyak keunikan dan spesialisasi tersendiri bagi masyarakat adat kebanyakan. Rumah adat ini menjadi tempat untuk berkumpul bagi seluruh masyarakat adat. Dari segi arsitektur, corak rumah adat Wologhai ini masih bernuansa tradisional. Namun, ada perubahan corak semenjak bencana gempa yang melanda daratan Flores dan sekitarnya. Kampung adat ini, berada pada puncak bukit tertinggi di ujung selatan kabupaten Ende. Kampung adat ini, dahulunya merupakan peerkampungan yang ditinggali banyak penduduk. Topografi perkampungan Wologhai ini, berbukit-bukit.
“Dulunya kampung ini ramai sekali namun setelah kejadian gempa hebat di Flores pada tahun 1992, beberapa rumah adat mengalami kerusakan yang sangat parah, akhirnya banyak warga yang mengungsi dan membangun rumah di bawah bagian bukit, kampung yang sekarang ada’’ Ujar Pholus kepada awak media REQnews.com.

Pholus adalah salah satu Mosalaki kedua yang bertugas untuk menjalankan system adat dan kewajiban masyarakat adat untuk dapat mengikuti arahan dari masyarakat adat. Orang Wologhai merupakan salah satu etnik Lio.Sa’o di Wologhai sebanyak sepuluh rumah adat yang dapat berdiri utuh, dan tujuh di antaranya yang sudah selesai di renovasi oleh masyarkat setempat. Rumah-rumah adat ini, dibangun di atas tanah rata bertingkat di mana bagian pinggirnya disusun batuan penahan. Pondasi rumah ditopang sembilan batu ceper berukuran besar yang dapat ditanam didalam tanah sehinga cukup untuk menahan beban rumah sehingga tidak perlu menggali pondasi. Tinggi batu tersebut dari permukaan tanah sekitar 60 hingga 100 cm untuk mendukung struktur rumah berbentuk panggung.

Dari sisi filosofis bentuk bangunan ini menyerupai tubuh manusia. Atap diibaratkan sebagai kepala, tiang utama diidentikan dengan leher, kuda-kuda penopang dihubngkan dengan kedua tangan, dinding ibarat rusuk, serta tiang penyangga diibartkan dengan kaki. Mengikuti filosofi tersebut, maka struktur atap berbentuk kerucut dengan empat mata sisi di mana atap terbuat dari ilalang dan diikat menggunakan ijuk. Tinggi atap bisa mencapai tujuh meter. Seluruh tiang dan lantai serta dinding rumah adat terbuat dari kayu. Hal ini, menurut Mosalaki Wologhai, Pholus rumah ini sengaja dibangun besar karena setiap rumah dapat dihuni hingga belasan kepala keluarga. Menurutnya untuk membangun rumah adat tidak dapat dilakukan dengan cara yang sembarangan. Hal ini dilakukan agar menghindari sanksi adat yang sudah diwariskan oleh para leluhur.

Adapun bahan-bahan yang diperlukan dalam membangun rumah adat tersebut merupakan bahan-bahan pilihan yang tidak dapat ditemukan dalam tempat lain. Salah satunya adalah dinding kayu rumah adat tesebut. Dinding rumah adat tersebut diambil dari hutan dan jenis kayu Ampupu bukan merupakan jenis kayu yang mudah ditemukan ditemapat lain.

Proses untuk membawa kayu tersebut dari tempat asal ke tempat tujuan, tentunya menggunakan adat istiadat yang berlaku. Masyarakat setempat meyakini, bahwasanya dengan struktur rumah adat teresebut dapat bertahan lama, dikarenakan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan rumah tersebut merupakan bahan-bahan pilihan. (RIS)