Kumpulan Fakta Menarik ‘Hakim Petarung' Artidjo Alkostar, Calon Dewas KPK

Jumat, 20 Desember 2019 – 03:00 WIB

Artidjo Alkostar (istimewa)

Artidjo Alkostar (istimewa)

JAKARTA, REQnews - Nama Artidjo Alkostar cukup wangi dalam sejarah hukum tanah air. Pria kelahiran Situbondo 22 Mei 1948 itu dikenal sebagai salah satu hakim Agung MA yang tak pandang buluh memberikan vonis kepada para koruptor. Berikut sejumlah fakta seputar Artidjo Alkostar yang dihimpun REQnews dari berbagai sumber.

Artidjo Alkostar Bukan Nama asli

Dalam buku Artidjo Alkostar: Titian Keikhlasan, Berkhidmat untuk Keadilan, Artidjo menceritakan tentang asal-usul namanya. Artidjo diambil dari nama 'Artijja' artinya tukang protes.

Sedangkan, nama Alkostar sendiri, merupakan nama yang salah dilafalkan. Semestinya, Alkostar yang dimaksud adalah 'Alkautsar'. Namun, petugas Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil salah menangkap lafal ayah Artidjo kala menyebutkan nama anaknya.

 

Petarung sejak kecil

Keberaniannya sudah teruji saat Artidjo kecil berani untuk ikut karapan sapi atau mengikuti tradisi keket dan kokol (gulat).
Kokok adalah olahraga tradisional yang diperagakan saat kemarau datang. Biasanya masyarakat Kumbangsari melakukan tradisi itu untuk meminta hujan.
Mereka akan membuat lingkaran, lalu dua orang di dalam lingkaran itu, akan menjatuhkan lawan hingga jatuh terlentang. Para petarung harus menerima apapun hasilnya secara ksatria. Bahkan yang kalah ada yang sampai keseleo atau patah tulang.

 

Sosok yang Bersahaja

Sekitar tahun 2000, Artidjo diterima menjadi Hakim Agung. Bukannya tinggal di rumah mewah, ia malah mengontrak rumah di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat. Lantaran dekat dengan kantor. Bahkan Artidjo sering ke MA dengan salah satu kendaraan umum khas ibu kota yaitu Bajaj.

 

Tak pernah bermimpi menjadi hakim

Siapa sangka, algojo MA yang ditakuti para koruptor itu, tak pernah berkeinginan menjadi seorang hakim? Sejak dulu, Artidjo menyenangi dunia pertanian. Dia berharap bisa masuk ke Universitas Gadjah Mada dengan bidang favoritnya itu.
Akan tetapi, takdir berkata lain. Pendaftaran sudah tutup. Temannya lalu menyarankannya untuk mendaftarkan diri ke Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Setahun berikutnya, Artidjo terlanjur nyaman dan jatuh cinta dengan dunia hukum. Dia melupakan impian lamanya itu.

Pernah Diancam dibunuh hingga disantet

Rupanya pengalaman masa kecilnya yang keras ikut membentuk kepribadian Artidjo menjadi sosok pemberani. Setelah mengaji, biasanya ia akan mengikuti pencak silat, baik dengan tangan kosong, pakai pisau, celurit, pedang dan sebagainya.


Saat masih jadi pengacara, ia pernah menangani kasus pembunuhan misterius dalam tragedi Santa Cruz Timor Timur (kini Timor Leste). Dalam penyelesaian kasus itu dia diancam bahkan mau dihabisi, dibunuh di Timor-timor. Beruntung, sang pembunuh salah kamar masuk sehingga nyawa Artidjo selamat. Allah melindunginya.


Tak hanya itu, Artidjo juga pernah mendapat ancaman misterius saat membela korban kasus penembakan misterius (Petrus) di Yogyakarta. Akan tetapi, darah Madura yang mengalir di tubuhnya, membuatnya tak gentar. Sekali lagi, Tuhan masih menyayangi dia sehingga selamatlah dari maut. (Binsasi)