Profil Carlo Tewu, Jenderal Penangkap Imam Samudra yang Jadi Bawahan Erick Tohir

Jumat, 21 Februari 2020 – 18:00 WIB

Irjen Pol Carlo Tewu (istimewa)

Irjen Pol Carlo Tewu (istimewa)

JAKARTA, REQnews – Awal bulan Februari 2020 lalu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengangkat sejumlah wajah baru untuk mengisi jabatan vital di kementerian yang dipimpinnya.

Di antara empat nama yang diangkat, ada sosok Jenderal Polisi yaitu Inspektur Jenderal (Irjen) Polisi (Pol) Carlo Tewu.

Sosok yang masih aktif sebagai Jenderal Polisi dan auditor EY Oil and Gas ditunjuk sebagai Deputi Hukum dan Perundang-undangan BUMN yang baru.

Rekam jejaknya yang paling mentereng adalah ketika berhasil menangkap teroris Imam Samudra. Tak hanya itu, ia juga terlibat dalam penangkapan Tommy Soeharto beberapa tahun silam.

Berikut profil lengkap Carlo Tewu, dari awal karier di kepolisian hingga saat ini.

 

Asli Manado

Nama lengkapnya adalah Carlo Brix Tewu, lahir di Rerewokan, Tondano Barat, salah satu daerah di Minahasa, Sulawesi Utara. Tewu lahir pada 13 September 1962, dan kini sudah memasuki usia 58 tahun.

Tewu bergabung ke kepolisian lewat sekolah Akademi Kepolisian, dan lulus tahun 1985 saat berusia 23 tahun. Di awal penugasannya, Tewu ditempatkan di Timor Timur dengan jabatan Kadit Serse Polda Timor Timur.

 

Pernah Turun Pangkat Gegara Kasus HAM di Timor-timur

Pria asal Minahasa ini pernah mengalami pasang surut selama menjadi polisi. Tahun 1999 saat masih dinas di Timor Timur, ia pernah turun pangkat karena kasus pelanggaran HAM Timor.

Kasus pelanggaran HAM Timor, membuat Tewu yang saat itu telah menjabat sebagai Mayor Polisi harus rela turun menjadi Kapten Polisi. Setelah masalah tersebut, Tewu dipindahkan ke Kasatserse Narkotika Ditserse Polda Metro Jaya.

 

Sosok yang Tegas

Tewu dikenal sebagai polisi yang cadas dan tegas. Lewat perannya, beberapa kasus besar berhasil terungkap dan pelakunya dapat ditangkap. Sebut saja kasus pembunuhan hakim agung Safiudin tahun 2001 silam.

Usai kasus tersebut terpecahkan, nama Carlo Tewu semakin terkenal dan mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa.

 

Penangkapan Tommy Soeharto dan Imam Samudra

Saat masih berada di Ditserse Polda Metro Jaya, Tewu juga berhasil menangkap gembong teroris Imam Samudra.

Sejak awal bergabung dengan di sana, ia dimasukan dalam Tim Kobra bersama perwira lain. Tim yang saat itu dipimpin oleh Tito Karavian ini berhasil menangkap Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto.

Berkat prestasi ini, anggota Tim Kobra mendapatkan kenaikan pangkat, begitu pula Carlo Tewu. Selain kasus Tommy Soeharto, ada juga kasus penangkapan Imam Samudra, gembong teroris di akhir 2002.

Pada 26 November 2002, Imam Samudra berhasil ditangkap Tim Gabungan Antiteror Bom dan Buser Polwil Banten di Pelabuhan Merak Bakauheni. Carlo Tewu berhasil naik pangkat karena ikut terlibat dalam tim tersebut.

 

Jabatan Kian Menanjak

Dua kali terlibat dalam kasus besar, membuat karier Tewu semakin menanjak. Pria berusia 58 tahun ini diangkat menjadi Dir Narkoba Polda Metro Jaya selama beberapa tahun. Pada 2006, ia dipindahkan menjadi Dirreskrimum Polda Metro Jaya selama tiga tahun.

Jabatannya terus naik, di tahun 2009, Tewu ditunjuk sebagai Wadir 1/Kamtranas Bareskrim Polri selama satu tahun. Setelah itu, ia dipindahkan ke Polda Sulawesi Utara sebagai Wakapolda. Setahun berselang, Tewu langsung naik jabatan jadi Kapolda.

2012, Tewu kembali ditarik ke Polri dan menjabat sebagai Karojianstra Sops Polri dan sempat menjadi Dirtipidum Bareskrim Polri sebelum ditarik ke Kemenko Polhukam tahun 2016. Di tengah-tengah jabatan itu, Tewu sempat menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Barat selama beberapa bulan.

Pada 2017, Tewu kembali ke Kemenko Polhukam sebagai Deputi V Bidang Koordinasi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat hingga saat ini.

 

Ditunjuk sebagai Deputi di Kementerian BUMN

Tepat pada Selasa 4 Februari lalu, Carlo Tewu bersama tiga nama lainnya, ditunjuk dan dilantik menjadi bagian dari Kementerian BUMN. Di antaranya ada Susyanto sebagai Sekretaris Kementerian BUMN, Nawal Nely sebagai Deputi Bidang Keuangan dan Manajemen Risiko.

Ada juga, Loto Srinaita Ginting sebagai Staf Ahli Bidang Keuangan dan Pengembangan UMKM. Dan yang terakhir adalah Carlo Tewu sebagai Deputi Hukum dan Perundang-undangan.

Tewu dan tiga pejabat baru Kementerian BUMN telah resmi menjadi pejabat setingkat Eselon I.

 

Alasan Carlo Tewu Ditunjuk

Penunjukan empat nama baru termasuk Tewu oleh Erick terjadi bukan tanpa alasan.

"Pak Carlo, kita pilih dalam hal produk hukum untuk mengawal aktivitas BUMN dan peraturan menteri, dan investigasi fraud di BUMN," ujar Wakil Menteri BUMN Kartiko Wirjoatmodjo waktu itu. (Binsasi)