Inilah Peran Jaksa Agung Tirtawinata dalam Peristiwa 3 Juli 1946

Minggu, 15 Maret 2020 – 00:04 WIB

Jaksa Agung Tirtawinata (Foto:Istimewa)

Jaksa Agung Tirtawinata (Foto:Istimewa)

JAKARTA, REQnews – Tirtawinata adalah Jaksa Agung yang tampil sebagai penuntut umum pada peristiwa 3 Juli 1946 di Yogyakarta. Tuntutan yang dibaca berangsur pelik, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh besar saat itu.

Mr. Tirtawinata lahir di Tanah Sunda, Bogor, pada tahun 1900. Ia menjadi Jaksa Agung RI ketiga periode tahun 1946 – 1951. Belum setahun mengabdi sebagai Jaksa Agung ia harus menangani kasus berat yang menyeret nama-nama orang besar, termasuk Jenderal Sudirman.

Peristiwa tersebut dikenal sebagai aksi penculikan Perdana Menteri Sutan Syahrir oleh sekelompok organisasi Persatuan Perjuangan. Kelompok tersebut melibatkan orang penting di antaranya, Jenderal Mayor R. P. Sudarsono, Muhammad Yamin, Ahmad Subarjo, dan Iwa Kusuma Sumantri.

Sebagai Jaksa penuntut umum, Tirta melakukan tugasnya membaca fakta-fakta yang didapat dari kepolisian mengenai alur kejadian tersebut.

Saat sesi pembelaan, terdakwa M. Yamin menolak pernyataan-pernyataan Jaksa, ia mengatakan bahwa itu hanyalah tuduhan yang memojokannya dan teman-temannya. Padahal kejadian yang sebenarnya tidak seperti itu.

Meskipun demikian, mereka tidak menyangkal adanya penangkapan. Tapi mereka tidak setuju atas tuduhan penculikan yang disebutkan oleh Jaksa. Karena kata “penculikan” lebih kasar dari kata “penangkapan”.

Setelah semua terdakwa menyatakan pembelaannya. Tirta mendapat info yang mengejutkan dari para terdakwa. Rata-rata mereka menyebut nama Jenderal Sudirman yang memiliki peran penting dalam aksi penangkapan Syahrir.

Dalam persidangan selanjutnya Jaksa memanggil Jenderal Sudirman sebagai saksi. Nyatanya Sudirman memberikan keteranan yang sebaliknya. Ia tidak mengakui andil dalam pertistiwa penangkapan Sutan Syahrir, 3 Juli 1946.

Dengan pertimbangan dan fakta yang ada, Sudirman dinyatakan tidak bersalah oleh Jaksa. Sedangkan Ahmad Soebardjo, Iwa Kusuma Sumantri, Sudarsono, dan M. Yamin, mendapat masing-masing 3 sampai 4 tahun penjara.

Tirtawinata wafat pada tahun 1965 di Jakarta. (Anita)