Cara Perwira Fredrik Ciptakan Perdamaian Dunia dan Raih Nobel

Selasa, 30 Juni 2020 – 16:01 WIB

Perjuangan Perwira Fredrik Ciptakan Perdamaian Dunia dan Raih Nobel

Perjuangan Perwira Fredrik Ciptakan Perdamaian Dunia dan Raih Nobel

JAKARTA, REQnews – Memiliki pandangan berbeda dengan perwira pada umumnya, tak membuat Fredrik Bajer membuatnya gentar dan terus melangkah hingga terciptanya perdamaian. Ia bahkan rela melepas jabatan perwira muda demi membentuk perdamaian tanpa peperangan. 

Selain menuntut perdamaian, ia juga membantu memperjuangkan kesetaraan gender wanita dan laki-laki. Menurut dia, saat itu wanita dianggap lebih rendah kedudukannya dengan pria, otomatis banyak hak-hak wanita yang diabaikan.

Bahkan tidak jarang pula wanita sering mendapat perlakuan yang tidak pantas oleh laki-laki. Jiwa sosial itulah yang membuat dirinya melupakan jati dirinya sebagai prajurit militer.

Diketahui, pria kelahiran Denmark pada 21 April 1837 ini sebenarnya sudah direncanakan oleh kedua orang tuanya untuk menjadi pendeta. Sebab sang ayah merupakan seorang pendeta yang cukup terkenal di Denmark. Namun ketika sudah tumbuh remaja ia ingin menjadi seorang militer.

Mimpinya pun terwujud dan menjadi perwira militer Denmark. Saat masuk dalam militer ia pernah sekali ikut tempur dalam perang Prusia (Jeman) dan Austria tahun 1864. Dari perang tersebut Jerman menerima kekalahan.

Kekalahan itu membuat dirinya tersadar bahwa perdamaian tidak harus diselesaikan dengan angkat senjata. Tidak perlu adanya kekerasan saat ingin membentuk perdamaian, apalagi menyebabkan nyawa seseorang melayang.

Usai perang prajurit lebih banyak menganggur. Waktu luang itulah ia gunakan untuk membaca buku, mulai dari tentang hukum, sejarah, dan konstitusi. Ia juga menyukai buku filsafat salah satunya karya filsuf Jerman Immanuel Kant.

Ia pun merasa bosan dan memilih untuk mengundurkan diri sebagai prajurit militer. Mengenai pengunduran dirinya dari militer masih menjadi perdebatan beberapa kalangan. Ada yang mengatakan ia mengundurkan diri, tapi ada juga yang bilang kalau Fredrik diberhentikan.

Selepas dari militer, ia beralih profesi sebagai guru, penulis, maupun menjadi pembicara seminar di wilayah Nordik. Yaitu Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia, Swedia, Kepulauan Faroe, Greenland, Savalbard, dan Aland.

Saat menikah dengan Pauline Mathilde perjuangan Fredrik semakin kuat. Mathilde dengan setia menemani perjalanan suaminya untuk mencapai goal perdamaian. Mathilde juga ikut mendirikan organisasi khusus wanita di Denmark pada 1886.

Oragnisasi tersebut fokus membela perempuan agar bisa mendapatkan hak pilihnya. Kemudian hak pilih baru bisa terealisasikan pada tahun 1908 pada tingkat wilayah atau kota, dan tingkat negara di tahun 1915.

Setelah perjuangan atas hak pilih perempuan terselesaikan, tugas Fedrik dan Mathilde selanjutnya adalah memperjuangkan keseteraan gender dalam bidang lain, seperti hukum dan sosial. Perjuangan sepasang suami dan istri tersebut mendapat penghargaan bergengsi yaitu Nobel Perdamaian tahun 1908. Atas perjuangan mereka, kini wanita Denmark bisa menikmati hak pilih di negaranya sendiri.