Mengenal Ravio Patra, Aktivis yang Ditangkap Polisi usai Ponsel Diretas
JAKARTA, REQnews – Aktivis Ravio Patra tiba-tiba ditangkap paksa oleh polisi. Ia diduga memprovokasi penjarahan nasional serentak pada 30 April 2020 mendatang. Sebelum penangkapan terjadi, Ravio sempat mengumumkan lewat Twitter miliknya @raviopatra, bahwa aplikasi WhatsAppnya diretas.
"Halo semuanya. Ada masalah dengan WhatsApp saya. Mohon untuk tidak mengontak saya via WhatsApp dan jika ada yang berada di satu grup WhatsApp dengan saya tolong segera keluarkan saya dari grup atau, jika tidak bisa minta seluruh anggota grup untuk keluar. Terima kasih," katanya.
Ia juga sempat mengabarkan hal tersebut kepada Koordinator Safenet Damar Juniarto. Ravio juga telah melaporkan kejadian itu kepada Head of Security WhatsApp. Dari hasil penyelidikan, terbukti ada pembobolan pada WA Ravio.
"Akhirnya oleh Head of Security WhatsApp dikatakan memang ada pembobolan" kata Damar melalui keterangan tertulisnya, Kamis 23 April 2020.
Penangkapan Ravio pun menuai kritik pedas dari Koalisi Tolak Kriminalisasi dan Rekayasa Kasus (Katrok). Damar yang juga adalah salah satu anggota Koalisi, menduga penangkapan Ravio berkaitan dengan gencarnya kritik Ravio kepada pemerintahan Jokowi.
Sementara Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menuding Ravio telah menyiarkan berita onar atau menghasut orang untuk berbuat kekerasan dan ujaran kebencian. "Kita tunggu hasil pemeriksaan karena ini diduga menyebarkan berita onar melalui media sosial," katanya.
Lantas siapa sebenarnya sosok Ravio ini?
1. Lulus Unpad dengan Predikat Cum Laude
Ravio berasal dari Sumatera Barat. Ia adalah lulusan Fakultas Hubungan Internasional Universitas Padjajaran angkatan 2011 dan lulus pada 2015 dengan predikat cum laude. Ia menjadi presiden klub yang memenangkan lomba debat yang digelar Universitas Islam Indonesia.
2. Punya Segudang Prestasi
Ia diketahui pernah meraih juara dua debat nasional politik yang digelar Kementerian Pemuda dan Olahraga. Ravio pun pernah menjadi pemakalah terbaik saat mewakili Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unpad dalam pertemuan nasional mahasiswa hubungan internasional ke-24 di Universitas Gajah Mada (UGM) pada 2012. Judul makalah Ravio adalah "Prinsip Nonintervensi dalam Resolusi Krisis Kemanusiaan Rohingya: Kajian terhadap Keamanan Manusia dan Urgensi Legitimasi Badan HAM ASEAN."
Setahun setelahnya, ia mengikuti prosiding nasional mahasiswa hubungan internasional di Universitas Andalas. Karya ilmiahnya bertajuk "Gerakan Separatis sebagai Tantangan bagi Diplomasi Indonesia di Era Paradox of Plenty."
3. Aktif dalam Berbagai Organisasi Kemanusiaan
Ravio juga terlibat dalam Youth Network on Violence Against Children pada 2016 hingga 2018. Organisasi para pemuda melawan kekerasan terhadap anak ini adalah mitra United Nations Children's Fund (UNICEF).
Ravio pernah bekerja untuk Open Government Partnership (OGP) pada akhir 2017. Lembaga ini bertujuan mendorong implementasi forum kepemimpinan Asia-Pasifik mengenai pemerintahan terbuka untuk pembangunan inklusif. Secara bertahap, ia bertugas sebagai konsultan hingga peneliti di Independent Reporting Mechanism (IRM).
4. Gencar Mengkritik Kebijakan Pemerintah
Pria berkacamata ini juga dikenal sebagai sosok yang tak takut mengkritik kebijakan pemerintah. Salah satu temuan yang diteliti Ravio, sepanjang 2016 hingga 2017, adalah tata kelola data di berbagai tingkatan pemerintah Indonesia yang buruk.
Melalui analisis mendalam, ia menyampaikan beragam solusi untuk merinci aturan baku dan bekerja sama dengan berbagai institusi maupun organisasi, salah satunya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Ia juga mengkritisi tentang conflict of interest para stafsus Jokowi. Salah satunya soal Adamas Belva Divara, CEO Ruangguru. Namun kini Adamas sudah berhenti dari jabatan stafsus Presiden Jokowi. (Binsasi)
Redaktur : Oji Ramelan Syahputro
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
