Miris! Kisah Buruh Serabutan Sakit-sakitan dan Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah

Minggu, 17 Mei 2020 – 10:02 WIB

Miris! Kisah Buruh Serabutan Sakit-sakitan dan Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah

Miris! Kisah Buruh Serabutan Sakit-sakitan dan Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah

SERANG, REQnews - Kondisi gubuk yang ditempati Amin (35), seorang buruh serabutan di Kampung Wedas Nenggang, Desa Sindangsari, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang memang jauh dari kata layak. Ukuran cuma 2x2 meter berdinding seng, terpal dan karung bekas di bawah anyaman daun kelapa.

Tak ada kamar mandi ataupun ruang tamu seperti laiknya rumah pada umumnya. Bahkan untuk keperluan mandi, cuci, kakus, Amin terpaksa ikut ke tempat pemandian umum di kampungnya.

Gubuk itu ditempatinya bersama sang istri dan satu anaknya yang masih balita. Namun gubuk itu berdiri bukan di atas tanah miliknya, tapimilik sebuah perusahaan. 

"Gubuk dapat bikin sendiri, sehari-hari biasa nyangkul lahan PT (perusahaan) digarap aja. Jualan daun singkong di pasar atau kuli panggul, sehari paling dapat Rp 50 ribu kalau lagi sehat," katanya.

Memang benar, elaki malang ini tengah menderita sakit. Namun ia sendiri tak tahu penyakit yang dideritanya lantaran tak memiliki BPJS untuk berobat. Kaki kirinya nampak bengkak kemerahan dan menyebabkan kulit mengelupas. 

Sambil menahan rasa sakit yang dideritanya di bagian kakinya, Amin tetap berusaha tegar menjalani nasibnya saat ini yang terkadang bekerja sebagai kuli panggul di Pasar Petir. 

 

Bekerja sebagai buruh serabutan, kerap kali membuat penghasilannya tak menentu. Pun dari pekerjaan sampingan menjadi petani singkong tak juga mendapatkan penghasilan yang pasti.

Singkong yang ditanam Amin tidak dilakukan di tanah miliknya. Dia memanfaatkan lahan orang lain untuk ditanami singkong. Dari cocok tanam itu, daunnya dipetik kemudian dijual. Sedangkan, umbinya dipanen kemudian dijual jika sudah saatnya tiba.

Kehidupan Amin pun kian menyedihkan, saat pandemi corona melanda Indonesia. Ia terpaksa berpisah dengan keluarga kecilnya. Istri dan anaknya terpaksa diungsikan ke rumah orang tuanya. Langkah itu dilakukan Amin lantaran kesulitan mencari nafkah di tengan kondisi seperti saat ini.

 

Sedihnya, selama bertahun-tahun keluarganya belum pernah terjamah program bantuan dari pemerintah baik pusat maupun daerah. Mulai Jaminan Sosial Rakyat Banten Bersatu (Jamsosratu), Program Keluarga Harapan (PKH) hingga Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang khusus diberikan bagi masyarakat terdampak covid-19.

Kini Amin hanya berharap ada uluran tangan agar bisa bertahan hidup di tengah sakit yang dideritanya di tengah Pandemi Corona. (Bins)