Profil AKBP Purwadi yang Bakal Berpangkat Kombes Per 1 Juli 2020

Sabtu, 27 Juni 2020 – 20:32 WIB

Bakal Berpangkat Kombes, Nih Penelitian AKBP Purwadi Soal Kasus Penyimpangan Seksual Anak

Bakal Berpangkat Kombes, Nih Penelitian AKBP Purwadi Soal Kasus Penyimpangan Seksual Anak

JAKARTA, REQnews - Satu lagi perwira menengah Polri bakal menyandang pangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes). Dia adalah Kepala Kepolisian Resor kota (Kapolresta) Batam, Rempang dan Galang (Barelang) AKBP Purwadi Wahyu Anggoro.

Kenaikan pangkat itu secara resmi bakal disandangnya pada 1 Juli 2020 mendatang. Hal itu tertuang dalam surat telegram Kapolri Nomor: STR/351/VI/KEP./2020 yang dikeluarkan pada tanggal 25 Juni 2020 lalu. STR itu pun sesuai dengan keputusan Presiden republik Indonesia nomor 44/Polri/tahun 2020 tanggal 17 Juni 2020 tentang kenaikan pangkat ke Kombes Pol periode 1 Juli 2020.

Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Harry Goldenhar mengatakan, selain Kapolresta barelang ada tiga perwira menengah di Polda Kepri juga mendapatkan kenaikan pangkat di lingkungan Polda Kepri dari AKBP menjadi Kombes.

Pertama Kabid TIK Polda Kepri AKBP Agus Fajar Sutrisno menjadikan Kombes pol, selanjutnya yakni AKBP Dudus Herley Devidson yang saat ini menjabat Auditor tingkat III Itwasda Polda Kepri. Dan yang terakhir AKBP Eko Budhi Purwono auditor tingkat III Itwasda Polda Kepri.

"Tanggal 1 Juli 2020 empat pamen ini akan di Koprapotkan," ujarnya.

Sebagai informasi, AKBP Purwadi sebelumnya menjabat sebagai Kasubbagstik Rokulrum Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri. Ia juga pernah menjabat sebagai Kapolres Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Mantan Kapolsek Laweyan, Solo ini merupakan anggota Polri bergelar Magister Ilmu Hukum (MH). Pria kelahiran 9 November 1971 ini meraih gelar tersebut dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Tahun Akademik 2016/2017.

Dalam tesisnya, ia mengangkat masalah kekerasan seksual dengan judul, 'Korban Kekerasan Seksual: Studi Kasus Penyimpangan Seksual Terhadap Anak di Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta'.

Mengutip situs journals.ums.ac.id, Purwadi menjelaskan bahwa berita kejahatan dapat menjadi contoh cara melakukan kejahatan. “Banyak kejahatan dimensi baru kemudian ditiru oleh pelaku wajah baru seperti kasus terorisme, narkoba, korupsi dan pelecehan seksual,” tulis AKBP Purwadi dalam thesisnya.

Menurut dia, kejahatan yang menjadi fenomena baru adalah penyimpangan seksual, yaitu perilaku seks yang tidak sesuai dengan norma agama, norma hukum, atau norma susila. Setidaknya ada tiga permasalahan pokok, yaitu: (1) Pola pelaku kekerasan seksual; (2) Aspek perlindungan hukum; (3) Upaya-upaya yang dilakukan dalam pencegahan agar anak-anak tidak menjadi korban kekerasan seksual.

Lebih detail, hasil penelitiannya bahwa pelaku kekerasan seksual memiliki kesamaan pola perilaku, yaitu pelaku memiliki penyimpangan seksual, rentang usia pelaku dengan korban, faktor kedekatan secara fisik dan tempat tinggal. Selain itu ada faktor bujuk rayu, paksaan, tipu muslihat atau janji-janji imbalan hingga motivasi pelaku untuk memperoleh kesenangan atau kepuasan.