Profil Denny Siregar, Musuh Kadrun yang Dilaporkan ke Polisi
JAKARTA, REQnews - Nasib sial dialami pegiat media sosial Denny Siregar. Pemilik nama lengkap Denny Zulfikar Siregal ini dilaporkan ke Polres Tasikmalaya Kota atas dugaan tindak pidana penghinaan serta pencemaran nama baik.
Tak cuma itu, pria kelahiran Medan, 3 Oktober 1973 ini diduga melakukan perbuatan tidak menyenangkan penggunaan foto tanpa izin. Kasus ini bermula usai Denny memposting foto dengan judul 'Adek2ku Calon Teroris yg Abang Sayang' yang diposting di akun Facebook-nya pada 27 Juni 2020.
Denny pun membantah jika dirinya memposting foto itu untuk melakukan penghinaan. Pun ia menambahkan bahwa foto tersebut dipakai sebagai ilustrasi. Sayangnya, pernyataan Denny tersebut ditolak mentah-mentah Ketua Forum Mujahid Tasikmalaya Nanang Nurjamil menyatakan.
Menurut Nanang, pernyataan itu hanya menjadi alasan dari Denny Siregar untuk menyembunyikan kesalahannya. Padahal, kata dia, secara jelas dia menggunakan foto orang lain tanpa izin.
"Pertama, tidak mungkin sebuah postingan, subtansinya tidak ada korelasi dengan foto. Kedua, menurut Undang-undang hak cipta, dia tidak boleh memasang foto milik orang lain, tanpa izin yang punya, itu sudah jelas di atur dalam Undang-undang hak cipta. Ketiga, memang dipostingan dia dituliskan ilustrasi, tapi di media dia tidak ada menyebut itu ilustrasi," kata Nanang, Minggu 5 Juli 2020.
Sebab, lanjutnya, dengan Undang-undang Hak Cipta saja, Denny Siregar sudah melanggar apalagi Undang-undang ITE. Apalagi foto yang diposting Denny Siregar merupakan santri di Pondok Pesantren Tahfidz Quran Daarul Ilmi Kota Tasikmalaya.
"Itu santri kami di Daarul Ilmi, dimana terorisnya? Kan tidak nyambung antara subtansi yang ia sampaikan dengan foto, terorisnya dimana anak itu? Kalau disangkutpautkan dengan teroris kegiatannya juga tidak nyambung itu aksi kok dibilang teroris," ujarnya.
"Lagian, anak-anak itu baru selesai mengaji aksi 313 (tahun 2017 lalu di Jakarta)," kata dia lagi.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Quran Daarul Ilmi Kota Tasikmalaya Ustaz Ahmad mengatakan, soal foto ilustrasi yang disebutkan Denny Siregar dipostingan Facebook nya.
"Ilustrasi? Kita paham juga bahasa bahasa jurnalis (jurnalistik), kita juga paham tulisan-tulisan ya, kalau itu ilustrasi bahasa dia 'Adek2ku Calon Teroris yg Abang Sayang' ada kaitannya dengan foto itu, kalau ilustrasi kenapa tidak ambil kartun dan lainnya," katanya.
"Apakah dia tidak tahu itu santri kita? Saya yakin dia tahu itu santri, karena santri saya semenjak 212 ikut ngaji, kalau ilustrasi biasalah bahasa dia, karena santri kita kan benar-benar, orang tahu itu santri kita," ujarnya.
Menanggapi hal itu, Denny Siregar terlihat beberapa kali memposting tanggapannya di Twitter. Bahkan, sejak hari pelaporannya, Denny terlihat sudah delapan kali membuat cuitan.
Dari sekian cuitan itu, ada dua cuitan yang bernada ejekan terhadap kelompok kadrun (Kadal Gurun). "Menghadapi kadrun adalah jalan ninjaku," demikian bunyi cuitan Denny.
Itulah Denny Siregar, yang disebut Permadi Arya sebagai The King of Media Sosial.
Dalam perjalanan hidupnya, Denny menghabiskan masa kecil di Bandung, remaja di Jakarta. Kemudian pindah ke Surabaya hingga ia menyelesaikan pendidikan sarjana di sebuah universitas swasta di Kota Pahlawan itu.
Sejak masa kuliah, ia sudah bekerja di beberapa radio. Ilmu jurnalistik ia dapatkan di Radio Suara Surabaya. Ia kemudian pindah ke Bali untuk melihat kehidupan yang berbeda, dan sempat meraih penghargaan The Best National Sales di perusahaan multinasional.
Selain itu ia juga aktif membangun beberapa stasiun radio di Jawa Timur, satu di antaranya adalah Radio Pendidikan di Dinas Pendidikan Jawa Timur. Tulisan-tulisannya tentang agama dan karakter politik Indonesia banyak disadur ulang oleh situs media. Mereka menjulukinya pegiat media sosial.
Ia banyak menyentil perilaku manusia dalam beragama dan tokoh-tokoh terkenal dengan gaya bahasa yang lugas dan terkadang memainkan bahasa satir. Tulisannya yang fenomenal di antaranya Surat Cinta untuk ISIS yang ia tulis pasca-bom di Jakarta. Tulisan itu tersebar di mana-mana.
Ada satu ciri khas Denny Siregar dalam menulis. Ia hampir selalu menyertakan secangkir kopi dalam setiap tulisannya. Secangkir kopi baginya adalah sebuah filosofi hidup yang sarat makna, antara rasa pahit dan manis menyatu menghadirkan kenikmatan.
Redaktur : Rani
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.