Profil Najwa Shihab, Perempuan Makassar yang Paling Dikagumi di Indonesia

Jumat, 16 Oktober 2020 – 15:20 WIB

Najwa Shihab (Foto: Istimewa)

Najwa Shihab (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Nama Najwa Shihab kembali diperbincangkan oleh masyarakat. Kali ini bukan dari dalam negeri, melainkan dari lembaga survei independen di Inggris YouGov. Lembaga survei itu menasbihkan wanita kelahiran 16 November 1977 itu sebagai sosok perempuan paling dikagumi di Indonesia berdasarkan survei online.

Survei bertajuk 'Indonesia's Most Admired 2020 YouGov itu memposisikan Najwa di peringkat pertama dengan total 18.52 persen, sementara di urutan kedua ada mantan Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti yang mendapatkan presentase sebesar 17.53 persen.

Kemudian di peringkat ketiga ada Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan 9.56 persen. Sedangkan posisi keempat ada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dengan 8.01 persen.

Menanggapi hasil survei tersebut, ia mengucapkan terima kasih dan berjanji agar tetap dan terus belajar serta berkarya. "Terima kasih, teman-teman. Insya Allah akan terus belajar dan berkarya," tulis Najwa di Instagramnya.

Najwa mengajak semuanya agar melakukan sesuatu dan memberi dampak yang baik bagi orang-orang sekitar. "Mari berani mengambil pendirian dalam banyak persoalan, sembari terus melihat, mendengar, juga membaca. Cari tahu sebanyak-banyaknya yang memang perlu, lalu lantangkan suaramu!" kata Najwa.

Sosok Lugas

Najwa Shihab adalah putri kedua Mantan Menteri Agama Quraish Shihab ini memang dikenal memiliki pembawaan yang lugas pada saat membawakan program Mata Najwa. Wanita kelahiran Makassar ini memang dikenal sangat berprestasi, terbukti semasa SMA ia terpilih mengikuti program American Field Service (AFS), yang di Indonesia program ini dilaksanakan oleh Yayasan Bina Antarbudaya, selama satu tahun di Amerika Serikat.

Pasca lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, wanita yang akrab dipanggil Nana sempat berencana untuk menjadi seorang pengacara. Namun setelah mengikuti program magang jurnalis di RCTI, ia merasa sangat terkesan dengan pengalaman tersebut dan mengurungkan cita-citanya sebagai seorang pengacara.

Selepas magang dan menyelesaikan pendidikan sarjananya, wanita yang akrab disapa Nana ini mulai bergabung dengan stasiun Metro TV yang saat itu baru saja mengudara. Empat tahun berselang di tahun 20014, ia dipercaya untuk menjadi Production Assistant untuk program Today’s Dialogue.

Sat itu pula ia berhasil mendapatkan atensi publik atas dedikasinya dalam melaporkan kejadian tsunami di Aceh. Totalitas Najwa untuk turun langsung ke lapangan dan melaporkan setiap kejadian mendapatkan apresiasi dari Persatuan Wartawan Indonesia melalui PWI Award.

Pada awal 2008, ia terbang ke Australia sebagai peraih Full Scholarship for Australian Leadership Awards dan mendalami bidang hukum media. Atas keuletannya dalam bekerja, Najwa akhirnya memiliki program sendiri bertajuk “Mata Najwa”.

Program ini pertama kali tayang pada 25 November 2009. Melalui program tersebut ia berhasil menyabet berbagai macam penghargaan seperti Best Current Affairs Indonesian Television Awards 2013, Panasonic Gobel Awards 2017, Presenter Pemilukada Terbaik dari Bawaslu, dan masih banyak lagi.

Setelah 17 tahun, ia memutuskan untuk mengakhiri karirnya di Metro TV. Tak lama setelahnya, ia bersama dengan dua rekan lainnya mendirikan sebuah platform digital content online bernama Narasi TV. Pertumbuhan Narasi TV terbilang cukup pesat, karena di tengah era disrupsi yang berlangsung platform berbasis online memang selalu jadi primadona.

Kecerdasan yang dimiliki Najwa berhasil menginspirasi banyak generasi muda terutama para wanita untuk terus belajar. Tak heran jika ia terpilih sebagai salah satu tokoh perempuan yang paling dikagumi di Indonesia. Menempati posisi pertama, ia berhasil memperoleh sebanyak 18,53% suara disusul oleh mantan Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti yang memperoleh persentase suara sebesar 17,53%.

Kedepannya, Najwa berpesan untuk wanita di Indonesia untuk tidak takut untuk mencapai suatu hal hanya karena terhalang oleh masalah gender. Menurutnya, baik perempuan atau laki-laki berhak untuk menunjukkan ambisi, mimpi, dan harapan untuk menjadi sukses. (Sinta Noviana)