Sosok Susi Pudjiastuti, Wanita yang Paling Dikagumi di Indonesia Versi YouGov 2020

Jumat, 16 Oktober 2020 – 15:45 WIB

Susi Pudjiastuti (Foto: Istimewa)

Susi Pudjiastuti (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Lembaga survei independen di Inggris YouGov menempatkan Susi Pudjiastuti sebagai perempuan nomor dua yang paling dikagumi di Indonesia. Dalam survei bertajuk 'Indonesia's Most Admired 2020 YouGov itu mantan Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti mendapatkan presentase sebesar 17.53 persen.

Skor itu beda tipis dengan posisi pertama yang diduduki Najwa Shihab dengan skor 18.52 persen. Namun Susi cukup berbangga diri, karena dia berhasil mengalahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani di posisi ketiga dengan 9.56 persen, dan posisi keempat ada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dengan 8.01 persen.

Lalu seperti apa sosok eks menteri yang dikenal gaul tersebut? Mengutip pelbagai sumber, Susi Pudjiastuti merupakan wanita kelahiran Pengandaran, 15 Januari 1965.

Ia adalah puteri dari pasangan Haji Ahmad Karlan dan Hajjah Suwuh Lasminah. Meski hanya mengenyam pendidikan sampai Paket C alias setara SMA, Susi adalah pemilik gelar doktor honoris causa yang diberikan saat dirinya menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan dari Kabinet Kerja 2014-2019.

Pelajaran hidup yang menarik diulas dari sosok Susi adalah banyak pengorbanan yang ia lalui untuk mencapai kesuksesan seperti saat ini. Setelah putus sekolah, Susi menjual perhiasannya dan mengumpulkan modal Rp.750.000 untuk menjadi pengepul ikan di Pangandaran pada tahun 1983.

Bisnisnya berkembang hingga pada tahun 1996 Susi mendirikan pabrik pengolahan ikan PT ASI Pudjiastuti Marine Product dengan produk unggulan berupa lobster yang diberi merek "Susi Brand. Pengolahan ikan ini pun meluas dengan pasar hingga ke Asia dan Amerika. Karena hal ini, susi memerlukan sarana transportasi udara yang dapat dengan cepat mengangkut produk hasil lautnya dalam keadaan masih segar.

Pada 2004, Susi memutuskan membeli dua buah pesawat Cessna Caravan menggunakan pinjaman dari sebuah bank BUMN. Hal itu didapatkannya setelah empat tahun berusaha menyakinkan beberapa bank.

Melalui PT ASI Pudjiastuti Aviation yang ia dirikan kemudian, pesawat yang ia miliki itu ia gunakan untuk mengangkut lobster dan ikan segar tangkapan nelayan di Pangandaran ke Jakarta. Dengan menggunakan pesawat, lobster yang dikirim lebih segar dan tingkat kematiannya pun jadi lebih rendah.

Keberhasilannya menyingkat waktu pengiriman produk perikanan hingga berkembang menjadi bisnis aviasi tak lepas dari peran sang suami Christian von Strombeck yang merupakan seorang pilot asal Jerman. Pada saat itu, hanya berselang sebulan sejak Susi membeli pesawat untuk mengangkut ikan, tsunami menerjang Aceh.

Ribuan orang meninggal dunia dan hampir semua akses transportasi yang masuk ke Aceh terputus. Atas inisiatifnya sendiri, Susi meminjamkan pesawatnya untuk mengangkut bantuan selama dua minggu. Namun, ketika Susi akan menarik kembali pesawatnya banyak organisasi kemanusiaan yang ingin tetap memakai pesawatnya.

Mereka bersedia menyewa pesawat Susi untuk mengirim bantuan ke Aceh. Dari sini, Susi kemudian terpikir untuk secara serius terjun ke bisnis penerbangan. Sampai tahun 2012,perusahaan penerbangan milik Susi telah mengoperasikan setidaknya 50 pesawat berbagai tipe.

Susi Pudjiastuti pun ditunjuk sebagai menteri di Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam Kabinet Kerja Joko Widodo dan Jusuf Kalla, yang ditetapkan secara resmi pada 26 Oktober 2014. Sebelum dilantik, Susi melepas semua posisinya di perusahaan penerbangan Susi Air dan beberapa posisi lainnya, termasuk Presiden Direktur PT. ASI Pudjiastuti yang bergerak di bidang perikanan serta PT ASI Pudjiastuti Aviation yang bergerak di bidang penerbangan untuk menghindari konflik kepentingan antara dirinya sebagai menteri dan sebagai pemimpin bisnis.

Selain itu, alasan lain Susi melepas semua jabatannya adalah agar dapat bekerja maksimal menjalankan pemerintahan, khususnya di bidang kelautan dan perikanan. Saat pelantikan, Susi menuai kontroversi karena kedapatan menghisap sebatang rokok dan memiliki tato, sesuatu yang tidak lazim dimiliki oleh menteri Indonesia. Atas tindakannya ini, Susi mendapatkan kritik maupun pujian di media sosial.

Saat ia menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, ia dikenal akan kebijakannya yang tegas terhadap penangkapan ikan ilegal. Namanya bahkan dikaitkan dengan kata "tenggelamkan" yang mengacu kepada hukuman penenggelaman kapal-kapal asing ilegal di perairan Indonesia.

Upaya ini pada akhirnya membuahkan hasil; penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature menunjukkan bahwa kebijakan agresif Susi terhadap penangkapan ikan ilegal telah mengurangi upaya tangkap sebesar 25 persen dan berpotensi menambah jumlah tangkapan sebesar 14 persen dan keuntungan sebesar 12 persen.

Langkah Susi menenggelamkan kapal-kapal pencuri ikan mendapat respon positif dan negatif dari berbagai pihak. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan yang merupakan bagian dari kabinet Jokowi sendiri mengkritik kebijakan Susi soal penenggelaman kapal. (Nurul Amalia)