Profil Pollycarpus, Dari Pilot Garuda dan Tudingan Anggota BIN

Sabtu, 17 Oktober 2020 – 21:02 WIB

Pollycarpus Budiharjo (Foto: Istimewa)

Pollycarpus Budiharjo (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Pollycarpus Budihari Priyanto akhirnya menyusul aktivis HAM Munir Sais Thalib. Eks pilot Garuda Indonesia tersebut meninggal dunia pada 17 Oktober 2020.

Pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 26 Januari 1961 meninggal akibat virus COVID-19. Mengutip dari berbagai sumber, pria yang sempat diduga anggota BIN itu terseret kasus pembunuhan Munir pada 7 September 2004 lalu.

Kala itu Pollycarpus berada satu pesawat dengan aktivis HAM tersebut di kelas bisnis Garuda Indonesia nomor penerbangan GA-974 menuju Amsterdam. Kala itu, ia dan Munir juga terlihat berinteraksi di Bandara Changi Singapura.

Pada 19 Maret 2005 Pollycarpus ditetapkan tersangka. Dalam persidangan Pollycarpus sempat dituntut hukuman seumur hidup, namun, ia hanya Pollycarpus dijatuhi penjara 14 tahun oleh majelis hakim.

Pada 2006, Pollycarpus mengajukan kasasi. MA lalu memutuskan Pollycarpus tidak bersalah atas kasus pembunuhan Munir. Namun hakim menghukumnya dua tahun penjara karena terbukti menggunakan surat palsu dalam perjalanan ke Singapura, karena saat itu mengaku sebagai kru tambahan.

Putusan kasasi terhadap terdakwa Pollycarpus itu diambil dalam rapat musyawarah majelis hakim yang terdiri atas hakim ketua Iskandar Kamil dan hakim anggota Atja Sondjaya serta Artidjo Alkostar. Hakim Artidjo Alkostar memberikan pendapat berbeda (dissenting opinion) dalam putusan kasasi itu.

Dalam rapat musyawarah itu, Artidjo menyatakan dakwaan pertama terbukti dan seharusnya Pollycarpus dijatuhi hukuman seumur hidup, sesuai dengan tuntutan JPU. Ia mengatakan setuju dengan pertimbangan hukum PN Jakarta Pusat yang menggunakan metode `aposteriori`, yaitu dari suatu akibat, dicari petunjuknya, untuk menemukan sebabnya. Ada bukti-bukti yang saling menguatkan posisi Pollycarpus sebagai pembunuh Munir.

Kejagung kemudian mengajukan PK. MA mengabulkan PK tersebut dan memvonis Pollycarpus 20 tahun penjara pada Januari 2008. Belakangan Pollycarpus mengajukan PK atas PK tersebut. MA pun mengabulkan PK Pollycarpus dan memotong hukumannya menjadi 14 tahun penjara.

Pada 2014, Pollycarpus dibebaskan. Dia mendapat pembebasan bersyarat dari Kementerian Hukum dan HAM setelah mendapat sejumlah potongan hukuman dan pada 2018, akhirnya Pollycarpus bebas murni.

Usai bebas murni, Pollycarpus dikabarkan bergabung dengan Partai Berkarya besutan Tommy Soeharto. Pada 2018 lalu, Sekjen Partai Berkarya ketika itu Badarudin Andi Picunang mengatakan, partainya menerima Pollycarpus bergabung di partai besutan Tommy Soeharto karena telah memenuhi syarat yang ditentukan.

“Pak Polly ini mendaftar di salah satu kabupaten terjaring namanya. Karena kan kita tidak melihat latar belakang dari semua calon anggota itu kan. Yang penting memiliki KTP, WNI, dan sudah berumur 17 tahun, ya kita berikan KTA,” kata Andi.

Namun belakangan, Pollycarpus menyatakan hal berbeda. Dia mengatakan, tidak mau masuk parpol karena tidak suka politik, namun hanya mengakui pernah ditawari oleh Partai Berkarya untuk jadi kader.
"Saya enggak ikut partai. Tawaran partai dari teman-teman saja ngajakin. Tapi saya enggak suka politik," ujar Pollycarpus kala itu.