Djohansyah, Lawyer Terinsipirasi dari Tarung Derajat

Sabtu, 21 November 2020 – 10:32 WIB

Djohansyah, SH (foto:Reqnews)

Djohansyah, SH (foto:Reqnews)

Djohansyah, SH

JAKARTA, REQNews - Dalam pergaulan sehari-hari kita kerap mendengar ungkapan “pendekar hukum”. Ungkapan tersebut secara tidak langsung menggambarkan betapa eratnya tempaan sebagai pendekar dengan empati terhadap seseorang yang menderita akibat ketidakadilan.  Jiwa seperti itulah yang dimiliki  pengacara T. Djohansyah.

Kesadaran penuh  pria bertubuh atletis ini untuk menjadi pengacara tumbuh ketika dia menggeluti tarung derajat. Tempaan keras bela diri asli Indonesia ini mengajarkan tentang bersikap fair. Praktisi tarung derajat yang disebut petarung memiliki jiwa dan perilaku yang tidak menyombongkan diri. Petarung terkesan seperti orang yang penurut dengan sikapnya yang tunduk demi menghindari keangkuhan. Hal ini tergambar dalam semboyan tarung derajat  “Aku ramah bukan berarti takut. Aku tunduk bukan berarti takluk.” 

Namun, mendapatkan keadilan itu tidak mudah. Banyak orang yang seharusnya mendapatkan keadilan tapi justru malah menjadi korban ketidakadilan. Keadilan harus diperjuangkan. Agar berhasil perjuangan itu membutuhkan strategi sehingga tidak berakhir konyol.  Semua filosofi tarung derajat tersebut diaplikasikan dalam kehidupan dan pekerjaan.

Pengalamannya bertarung membuat pria berdarah Aceh ini sangat sensitif dalam pekerjaan. Itulah yang kelak menjadi bekal untuk memperbaiki kondisi hukum di Indonesia. Dia mencontohkan sebuah pertarungan tunggal melawan 20 -30 orang. Dalam situasi seperti ini melarikan diri dianggap sebagai keputusan paling rasional. “Hanya di film-film saja kita bisa menang. Dengan beladiri kita dididik keras tapi jangan konyol. Olahraga ini full body contact.

 Tapi saat sekarang tentunya saya bukan zamanya lagi pake otot. Di bela diri saya diajarkan bahwa kita harus pake otak dan otot. Kombinasi ini harus sinergi. Kita harus berstrategi,” ungkapnya.Pemahaman atas strategi memudahkan Djohansyah dalam memilih jalan kehidupan yang bakal ditapakinya.

 Sebagai advokat dan aktif di organisasi saya bisa berperan memberikan masukan dalam pembuatan undang-undang.  Paling tidak saya bisa memberikan peran serta saya untuk perbaikan hukum di Indonesia yang suram,” katanya.

Selepas kuliah, Djohansyah bergegas mengabdikan ilmunya sebagai advokat. Dia tidak berminat menjadi hakim atau jaksa. Bergabug dengan kantor hukum  Andi Fachri menjadi fondasi kariernya di dunia pengacara. “Saya sudah solid ingin jadi advokat setelah tamat kuliah,” tegasnya. Setelah bekerja keras selama tujuh tahun, Djohansyah diangkat menjadi partner di kantor hukum tersebut.

Dalam menjalankan profesi advokat Djohansyah memegang prinsip kebenaran dan tidak mau masuk dalam permainan kotor yang menambah suram wajah hukum Indonesia. Dia hanya mau menangani klien yang ingin dibela karena mencari keadilan, bukan semata menghendaki kemenangan dengan segala cara. 

“Kalau orang ingin miliknya tidak diambil orang mari datang ke saya biar kita buat pagarnya sehingga bisnisnya ke depan lancar,” katanya.

 Djohansyah sebenarnya lahir dari keluarga hukum. Ayah pria kelahiran Papua itu berprofesi sebagai praktisi hukum dan dosen di Universitas Cendrawasih. Namun, sang ayah sangat moderat dan tidak pernah mengharuskan dia menjadi ahli hukum. Bahkan, Djohansyah mengaku tidak suka melihat buku hukum milik ayahnya yang tebal dan memenuhi sebagian besar isi rumahnya.

 “Karena hukum kita mengadopsi hukum Belanda, maka buku-buku  yang ada di rumah itu sebagian besar berbahasa Belanda. Pusing saya melihatnya. Saya merasa tidak pas mendalami ilmu hukum,” kenangnya.

 Di tengah pergaulan dia merasakan pandangan kawan-kawannya terhadap hukum sangat suram. Pandangan suram dan keinginan untuk menegakkan keadilan seperti yang diajarkan tarung derajat itulah yang akhirnya mendorong pria berdarah asli Aceh tersebut  atas kemauan sendiri memutuskan mempelajari ilmu hukum.  “Saya mau sendiri. Karena seringnya beladiri dengan otak dan otot sangat tepat jika dipadukan dengan hukum. Bahkan saya tidak menyadarinya, baru belakangan saya berpikir bapak saya praktisi hukum, kita punya kesamaan,” tuturnya.

Djohansyah menyadari profesi pengacara sangat kompleks, penuh tantangan bahkan ancaman. Meskipun demikian, semuanya harus dilakoni dengan enjoy sebagian sebuah bagian dari hidup yang harus dijalani. Advokat hidup untuk membantu orang lain. “Ancaman adalah bagian dari nama saya. Itu sangat sering. Tapi saya tidak pedulu, karena saya ingin menegakan keadilan. Jika kita berprinsip demikian, tentunya profesi pengacara menjadi pekerjaan yang sangat menyenangkan. Coba Anda bayangkan. Bila seseorang tidak bersalah diancam hukuman mati, kalau tidak ada pengacara itu semua bisa bablas terlaksana [hukuman mati],” tandasnya.

Menjadi advokat harus dapat berteman dengan segala kalangan, dari pejabat sampai penjahat.  Kasus-kasus yang rumit juga menuntut seorang pengacara harus terus belajar untuk mengetahui perkembangan hukum. Dia mencontohkan penerapan Pasal 335 dalam KUHP. Perbuatan tidak menyenangkan itu sangat lebar. “Misalnya, kita berpapasan dan tersenggol depan pintu dengan seseorang,  dan orang itu tidak suka, dia bisa melaporkan kita ke polisi dengan Pasal 335. Sekarang ditambah kalimatnya dengan perbuatan tidak menyenangkan dengan ancaman kekerasan. Makanya kita harus terus tahu dan belajar,” terangnya.

Djohansyah juga sangat memahami arti kesungguhan sebagai kunci sukses sebagai pengacara. Menjadi lawyer, kata dia,  harus bekerja dengan sungguh-sungguh untuk kliennya. Sikap tersebut antara lain tercermin saat dia menangani klien di Batam yang kapalnya ditahan gara-gara surat izinnya tidak lengkap. Dia mengurus kasus tersebut sampai pukul 2 pagi, padahal pada pukul 6 pagi sudah harus bertemu dengan orang di pelabuahan untuk mengurus kapal tersebut. “Saya pikir pulang ke hotel atau tetap di situ. Kalau pulang ke hotel, tanggung karena hanya 2 jam sudah harus balik lagi. Akhirnya saya tidur di kursi. Sekeras itu pekerjaan seorang lawyer, mengaplikasikan hukum atau perjanjian perdata itu yang sulit,” katanya.

Bagi Djohansyah, pengacara harus tahu semua hukum. Seorang pengacara spesialis hukum bisnis,  dia juga harus memahami soal litigasi dengan sempurna karena kebutuhan klien sangat kompleks dan tidak terduga. “Misalnya klien kita seorang direktur diperusahaan besar. Pukul 2 pagi dia minta tolong misalnya anaknya atau saudaranya ada yang ditahan di kantor polisi.  Mau tidak mau kita harus bantu. Kalau kita tolak, ya besok-besok kita tidak dipakai lagi. Itu yang membuat kita harus terus belajar,” katanya.

Dalam kasus di atas, mendampingi klien tidak bisa ditunda dan harus dilakukan pada saat itu juga. Ada hukumnya bahwa polisi berhak memeriksa warga negara selama  1x24 jam. Jadi polisi berhak memeriksa jam berapa saja.  “Kalau tidak di dampingi pengacara, klien yang tidak pernah berhubungan dengan polisi pasti ada ketakutan,” katanya.

Kasus-kasus yang ditangani Djohansyah memang seimbang antara korporasi dan litigasi. Cakupan pekerjaan yang luas ini mengharuskan seorang pengacara ber-partner dengan pengacara lain. “Kita bekerja sesuai dengan keahlian masing-masing,” katanya.

Menambah ilmu tidak hanya lewat bangku kuliah. Djohansyah memiliki trik tersendiri untuk menambah wawasan. Caranya dengan rajin membaca dan aktif di organisasi Komite Advokat Indonesia (KAI).  Di sana, dia banyak berdiskusi dan bertukar pendapat dengan junior maupun advokat senior yang sarat pengalaman. “Yang paling  mendasar adalah membaca. Kita harus update pikiran kita. Jangan hanya  gadget, kita juga butuh di-update,” candanya.

Selain itu, dengan pengetahuan tersebut seorang pengacara dapat berpikir seimbang, baik dari sisi positif maupun sisi negatif. Kalau tidak berpikir dari sisi negatif seorang pengacara malah tidak berhati-hati. Keseimbangan itu bahkan akan memunculkan idealisme yang dahsyat. Djohansyah memiliki pengalaman saat membela perusahaan asli Indonesia melawan perusahaan asing. “Akhirnya saya terbawa keadaan. Yang keluar bukannya idealisme seorang pengacara tapi idealisme merah putih saya. Karena merasa kenapa Indonesia diinjak-injak  oleh perusahaan asing yang besar,” tegasnya.

Pengetahuan dan wawasan hukum yang dimiliki pengacara kian penting karena masyarakat Indonesia sudah mulai melek hukum. Contohnya dahulu masyarakat umum tidak mengenal yang namanya Peninjauan Kembali (PK) dalam peradilan. Sekarang PK itu seperti satu pilihan ke empat. “Pengadilan negeri kalah menang dia banding, masuk pengadilan tinggi, kalah menang, bisa kasasi kalau belum inkrah. Jadi sekarang ini kasasi ini tidak dianggap karena beranggapan ada PK,” bebernya. Padahal, PK itu dapat diajukan apabila ada bukti baru (novum) sehingga seperti ada peradilan baru.

Namun, dia menyarankan agar masyarakat lebih proaktif dalam memproteksi dirinya, terutama ketika terjun ke dunia bisnis. Dalam membuat perjanian bisnis, sebaiknya jasa pengacara digunakan sejak awal. Kebiasaan saat ini kebanyakan pengacara baru diminta mendampingi klien setelah mereka tersangkut masalah. Padahal, dengan menggunakan pengacara dari awal masalah-masalah yang mungkin akan terjadi dan merugikan bisa dihindari.

“Misalnya ada beberapa orang yang digunakan oleh sebuah perusahaan untuk membantu pekerjaannya meng-handle berita-berita tentang perusahaan tersebut. Kebanyakan pastinya minta dibayar per bulan. Kalau saya sebagai pengacara akan bilang pada klien untuk meminta 24 kali cek mundur karena bayak kontrak diputus di tengah jalan. Kalau kita mengetahui hukum kita bisa memperkirakan apa yang akan terjadi di masa depan,” terangnya.

Sikap tanpa pamrih menyebabkan Djohansyah masih menangani perkara-perkara secara gratis, terutama bagi klien yang kurang mampu. “Secara pribadi dan organisasi saya masih mengangani kasus probono. Probono itu adalah sedekah ilmu. Sedekah itu bukan hanya uang. Pada saat orang tidak bersalah harus dihukum, kita merasa sedih.  Tetapi kalau kita bisa membebaskan itu yang luar biasa,” tuturnya.