Nassima al-Sada, Pejuang Persamaan HAM yang Kehilangan Hak dan Dipenjara

Sabtu, 21 November 2020 – 22:32 WIB

Nassima al-Sada (Foto: Istimewa)

Nassima al-Sada (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Nassima al-Sada adalah seorang penulis dan aktivis perempuan di wilayah timur Saudi yang sering berpartisipasi mengkampanyekan hak-hak sipil dan politik, hak-hak perempuan dan hak-hak minoritas.

Perempuan kelahiran 51 tahun silam tersebut, pada 2012 telah mengajukan gugatan terhadap departemen lalu lintas kementerian dalam negeri di pengadilan Dammam sebagai bagian dari kampanye yang lebih besar untuk meminta hak mengemudi dan berpergian tanpa muhrim.

Namun ternyata, ia sendiri kehilangan hak dan kemerdekaannya. Situasi tersebut terjadi setelah Nassima dan puluhan aktivis serta kritikus pemerintah Saudi ditangkap pada Juli 2018 silam.

Nassima merupakan salah satu dari 13 aktivis perempuan Saudi yang dihukum karena meminta hak mengemudi dan berpergian tanpa muhrim. Pada awal Februari 2019, Nassima dimasukkan ke ruang isolasi di Penjara Al-Mabahith di Dammam dan diperlakukan dengan buruk.

Padahal saat itu secara khusus, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dalam satu tahun terakhir telah menjanjikan reformasi di bidang politik, budaya, dan sosial di Arab Saudi, yang sejalan dengan tuntutan Barat. Ia juga menjanjikan reformasi ekonomi dan mencanangkan program ambisius, Saudi Vision 2030.

Dalam sebuah keputusan prematur, Bin Salman memberi kebebasan kepada perempuan Saudi seperti, izin mengemudi, bepergian ke luar negeri tanpa muhrim, kehadiran di tempat-tempat umum, dan mempekerjakan perempuan di berbagai sektor ekonomi dan sosial. Keputusan ini disambut baik oleh para aktivis perempuan dan hak-hak sipil di Saudi.

Namun rezim Saudi justru menangkap dan memenjarakan para aktivis. Saat itu lebih dari 30.000 aktivis sipil, sosial, dan jurnalis berada di penjara-penjara Saudi.

Kejadian tersebut bermula, saat aparat keamanan Saudi memulai gelombang baru penangkapan dan menahan sejumlah aktivis HAM dan hak-hak perempuan, termasuk Nassima al-Sada. Penangkapan tersebut ternyata menyita perhatian dan mengundang gelombang protes internasional.

Banyak lembaga-lembaga internasional dan HAM termasuk Amnesty International, menyatakan keprihatinan terkait penangkapan aktivis di Saudi dan menuntut pembebasan mereka. Menurut sebagian besar orang, rezim Saudi adalah salah satu pelanggar utama HAM di dunia.