Jacklyn Choppers, Reserse Sakti yang Pernah Tertembus 12 Peluru Penjahat dan Gak Mati

Rabu, 25 November 2020 – 11:02 WIB

Aiptu Jakaria (Foto: Istimewa)

Aiptu Jakaria (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Jika seseorang memilih menjadi polisi berarti siap mempertaruhkan nyawa. Termasuk siap merasakan panasnya timah peluru jika tertembak dalam bertugas. 

Lalu apa jadinya jika ada polisi yang tubuhnya tertembus 12 peluru senjata pejahat saat bertugas? Pasti dalam benak pikiran masyarakat awam, si polisi itu tewas di tempat kejadian. 

Namun itu semua terbantahkan dengan apa yang dialami polisi 'sakti' satu ini. Dia adalah Aiptu Jakaria alias Jacklyn Choppers

Dikenal dengan gaya nyentrik dan punya rambut gondrong terurai, Jacklyn adalah anggota Subdit IV Jatanras Ditkrimsus Polda Metro Jaya.

Selama bertugas, ia tak pernah absen mengungkap kasus kejahatan kelas atas. Mulai dari perampokan sadis di Pulomas, kasus mutilasi Ryan Jombang, hingga kasus pembunuhan yang dilakukan John Kei dan Hercules.

Pria yang akrab disapa Bang Jeck ini pun seperti terbiasa hidup berdampingan dengan bahaya. Namun, tak pernah terpikir baginya untuk keluar dari dunia yang penuh dengan risiko ini.

“Cita-cita gue itu jadi polisi. Pekerjaan nomor satu,” ujar Jeck.

Karena menangkap penjahat, tak sedikit yang menaruh dendam terhadapnya. Keluarga terdekat Jeck pun jadi pelampiasan sasaran kemarahan mereka.

Contohnya, pada tahun 2005, beberapa tetangga menyambangi rumah keluarga Jeck untuk mengusir dan menyuruh mereka segera pindah dari rumah yang saat itu mereka tempati.

Pasalnya, Jeck baru saja menangkap bandar narkoba yang tinggal tak jauh dari kediamannya. “Tetangga sendiri gue tangkep. Jadi mereka marah,” ujar Jeck.

Tak hanya itu, anak dan istri dari Jeck sempat jadi sasaran penculikan oleh salah seorang penjahat.

“Ada yang datang ke rumah waktu Bapaknya (Jeck) baru aja berangkat. Ini (anak) baru dua bulan. Bapaknya katanya kecelakaan. Jadi ini disuruh ikut,” kata Tina (43), istri dari Bang Jeck.

Namun, Tina tak lantas percaya dengan hal tersebut. Pasalnya, Jeck baru saja berangkat beberapa saat sebelum orang tersebut datang, sehingga ia merasa tak mungkin dalam waktu yang sangat singkat Jeck mengalami kecelakaan.

Ia pun segera menelepon Jeck untuk mengonfirmasi. Benar saja, Jeck yang baru berangkat kerja dalam kondisi baik-baik saja.

Tak hanya keluarga, Jeck juga sempat secara langsung merasakan duka yang menjadi konsekuensi atas profesinya. Pada tahun 2006, Jeck sempat ditugaskan menangkap komplotan perampok mesin ATM.

“Beberapa itu sudah ditangkap. Tapi beberapa masih kabur ke Lampung, kita kejar ke Lampung, lalu ternyata pelaku ke Bandung, ya, kita kejar ke Bandung,” katanya.

Hanya berbekal dua jam waktu istirahat, Jeck dan rekan-rekannya yang baru tiba di Lampung segera berangkat ke Bandung untuk mengejar sang perampok.

Ia mendapat informasi bahwa pelaku berada di salah satu pasar tradisional di Kota Bandung.

Saat baru tiba, beberapa anggota kepolisian yang telah terlebih dahulu berada di lokasi mengingatkan Jeck bahwa pelaku membawa senjata api, sehingga harus ekstra hati-hati.

“Pas di dalam situ dibilang hati-hati. Ternyata, pelaku selain punya senjata (api) juga punya granat,” ujar Jeck.

Dengan informasi yang ia dapatkan, Jeck segera masuk untuk menangkap sang pelaku. Tak lama setelah masuk, Jeck berhadapan langsung dengan pelaku yang sejak lama telah ia incar.

Pelaku segera mengeluarkan senjata api miliknya dan menembak berkali-kali ke arah Jeck. Jeck masih ingat betul peristiwa penembakan tersebut.

Pasalnya, Jeck tidak pingsan usai dihujani 12 peluru di tubuhnya. Bahkan saat itu Jeck tidak sedang mengenakan rompi anti peluru.

“Waktu ketembak itu kerasa. Nggak pingsan. Ketembak 12 peluru,” ujar Jeck.

Jeck segera dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani operasi. Sembilan peluru berhasil dikeluarkan dari tubuhnya.

Namun, tiga lainnya hingga kini masih berada di dalam tubuh Jeck. “Tiga masih ada nih. Buat kenang-kenangan,” candanya.

Jeck sempat ditawari pindah dari posisinya di Jatanras usai tragedi penembakannya tersebut. Ia pun sempat bertugas di kantor untuk beberapa bulan.

“Gak nyampe enam bulan, empat bulanan kayaknya, karena langsung dipindah ke serse lagi,”

Jeck mengaku tidak betah ketika harus menjalani rutinitas di kantor. Ia mengaku lebih kerasan mengungkap kejahatan dan menangkap penjahat langsung dari jalanan.

“Waktu itu ya malah nonton patroli nonton berita gitu, nggak betah,” ujarnya.

Sejak saat itu, Jeck kembali ke zona nyamannya di Jatanras dan menyatakan tak ingin lagi dipindah.

Ketika ditawarkan untuk pindah ke lokasi ataupun unit lain dengan alasan keamanan, Jeck selalu menolak. “Jangan pindah. Kalau pindah itu artinya polisi kalah sama penjahat. Nggak boleh kalah!," ujarnya.