Profil Kombes Hastry Purwanti, Polwan Forensik di Tragedi Sukhoi hingga Sriwijaya SJ 182
JAKARTA, REQnews - Namanya Kombes Pol Dr dr Sumy Hastry Purwanti Sp F. Ia dikenal sebagai polisi wanita pertama di Asia yang memiliki gelar doktor spesialis forensik.
Sudah menjadi hal biasa bagi Hastry, dilibatkan dalam proses identifikasi jenazah korban kecelakaan pesawat jatuh. Tak terkecuali dalam proses identifikasi jenazah korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182.
Wanita kelahiran Jakarta, 23 Agustus 1970 itu merupakan lulusan Sepa Angk V tahun 1998. Ia mengawali karir kepolisian pada 1999. Kala itu ia menjabat Pasi Polipol Dis Dokkes Polda Jateng.
Kemudian pada 2003, dr Hastry dipercaya sebagai Pama Bid Dokkes Polda Jateng. Karirnya semakin cemerlang, ia pun melanjutkan pendidikannya.
Hingga pada 2010, ia berhasil lulus dari SELAPA ANGK XLII. Tak sampai itu saja, pada 2015 ia pun lulus dari pendidikan kepolisan pada Diklat PIM II.
Karirnya pun terus meningkat,l. Itu dibuktikan dengan sejumlah jabatan yang pernah ia duduki. Mulai dari Kasubbid Dokpol Bid Dokkes Polda Jateng 2012, Kabiddokkes Polda NTB 2017, kemudian pada 2018 sebagai Kasubidoksik Yan Dokpol RS Said Sukanto.
Selanjutnya, pada 2018 dipercaya sebagai ahli utama RS Said Sukanto, tahun 2019 menjadi Ka instalansi forensik RS Said Sukanto. Hingga tahun 2020 ia menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Prof. Awaloeddin Djamin Semarang.
Kemudian, banyak kasus yang pernah dr. Hastry tangani. Seperti sebagai Tim DVI korban Bom Bali I 2002, Lion Air Crash - Solo 2004. Kemudian, Tim DVI korban Bom Kedubes Australia di Jakarta 2004, korban pesawat Mandala - Medan 2005.
Dokter ahli forensik kelahiran Jakarta itu, juga pernah menjadi Tim DVI korban Bom Bali II 2005. Kemudian, tim identifikasi teroris Wonosobo 2006, korban gempa bumi Yogyakarta 2006. Lalu, korban kapal KM Senopati Nusantara 2006, korban Garuda Air Crash Yogyakarta 2007.
Kemudian ia pernah bergabung bersama tim identifikasi jatuhnya pesawat Casa 212 TNI AU di Bogor 2008, pesawat Hercules TNI AU yang jatuh di Madiun 2009. Kemudian, Tim DVI korban Bom Hotel JW Marriott Kuningan Jakarta 2009, teroris Noordin M Top 2009.
Hastry pun pernah menanganinya korban pesawat Sukhoi SSJ di Gunung Salak Bogor 2012, korban pesawat Air Asia 2015. Selanjutnya, pada tahun 2014 sebagai tim DVI korban pesawat MH-17 di Rusia, dan sejumlah kasus lainnya. Ia juga sebagai tim dokter eksekusi terpidana mati di Nusa Kambangan dari 2008-2016.
Sejumlah penugasan di luar negeri juga pernah Hastry emban. Seperti sebagai Tim DVI Briving Bush Fire Melbourne pada September 2009 dan Tim DVI Lama pesawat MH-17, pada tahun 2014.
Dari pengalaman yang ia dapatkan, dr. Hastry juga menulis beberapa buku terkait dengan forensik. Seperti, "DARI TRAGEDI BALI HINGGA TRAGEDI SUKHOI - Keberhasilan DVI Indonesia dalam Mengungkap Berbagai Kasus (2013) – Diterbitkan dalam 2 bahasa."
Kemudian ada "ILMU KEDOKTERAN FORENSIK UNTUK KEPENTINGAN PENYIDIKAN (2014)," "MENGENAL DNA – Populasi Batak, Jawa, Dayak, Toraja, dan Trunyan (2016)," serta "KEKERASAN PADA ANAK & WANITA PERSPEKTIF ILMU KEDOKTERAN FORENSIK (2017)."
Saat ia meraih gelar Doktor, dr. Hastry melakukan penelitian yang bahkan sangat berguna untuk kecepatan identifikasi jenazah. Karena bisa melihat suku dari DNA jenazah.
Disertasi yang dilakukan dr. Hastry yaitu meneliti DNA Mitokondria dari lima populasi di Indonesia yaitu Batak di Sumatera, Dayak di Kalimantan, Toraja di Sulawesi, Trunyan di Bali, dan Suku Jawa di di Pulau Jawa. Menurutnya, lima suku tersebut mewakili lima populasi besar sesuai teori migrasi di Indonesia.
Redaktur : Hastina
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.