Sosok Marie Thomas, Dokter Perempuan Pertama di Indonesia, Asal Sulawesi!

Kamis, 18 Februari 2021 – 11:32 WIB

Marie Thomas, Dokter perempuan pertama di Indonesia (Foto: Istimewa)

Marie Thomas, Dokter perempuan pertama di Indonesia (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Namanya Marie Thomas, wanita kelahiran Likupang, Sulawesi Utara, 17 Februari 1896. Ia dikenal sebagai wanita Indonesia pertama yang menjadi seorang dokter.

Marie merupakan alumni dari Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (STOVIA atau Sekolah tot Opleiding van Indische Artsen) pada tahun 1922. Kemudian, ia menjadi dokter spesialis bidang obstetri dan ginekologi.

Tercatat dalam sejarah, ia merupakan dokter Indonesia pertama yang menjadi spesialis dalam bidang itu. Berdasarkan pengalamannya, ia kemudian mendirikan sebuah sekolah kebidanan di Bukittinggi.

Marie merupakan anak dari Adriaan Thomas dan ibunya bernama Nicolina Maramis. Ayahnya itu, memiliki karier dalam bidang militer. Sehingga keluarganya harus terus pindah ke berbagai daerah di Indonesia.

Dalam menempuh pendidikan, Marie menjalaninya tak semudah dibayangkan. Awalnya STOVIA tidak menerima wanita sebagai mahasiswa. Namun, kebijakan tersebut berubah sebagian besar karena usaha Aletta Jacobs (dokter wanita pertama di Belanda).

Ketika Jacobs mengunjungi Hindia Belanda pada tahun 1911, ia mendesak masalah ini kepada Gubernur Jenderal A.W.F. Idenburg. Karena itu, STOVIA pun mengizinkan wanita bersekolah di sana.

Namun, terdapat kendala baru yaitu mereka tidak bisa dipekerjakan oleh Layanan Kesehatan Sipil (Burgerlijke geneeskundige dienst). Maka, mereka harus membayar studi mereka sendiri di STOVIA.

Untuk mengatasi masalah tersebut, saudara perempuan Aletta yaitu Charlotte Jacobs (wanita pertama yang memperoleh gelar dalam bidang farmakologi di Belanda), membantu mendirikan sebuah yayasan untuk mengumpulkan dana bagi siswa perempuan yang belajar STOVIA.

Yayasan itu didirikan pada 1 September 1912 dengan bantuan Marie van Zeggelen dan Elisabeth van Deventer. Itu diberi nama Perkumpulan untuk Membentuk Dana Studi untuk Pendidikan Dokter Hindia Wanita (SOVIA atau Vereeniging tot Vorming van een Studiefonds voor Opleiding van Vrouwelijke Inlandsche Artsen).

Marie pun mulai belajar di STOVIA pada bulan September 1912 dan ia didukung oleh yayasan SOVIA itu. Pada saat pendaftaran, Marie adalah satu-satunya siswa perempuan di antara sekitar 200 siswa laki-laki.

Setelah dua tahun berlalu, barulah sekolahnya menerima siswa perempuan kedua yang bernama Anna Warouw yang juga berasal dari daerah Minahasa. Marie Thomas menyelesaikan studinya di STOVIA pada tahun 1922 dan ia diakui sebagai lulusan wanita pertama STOVIA.

Kemudian, ia memulai prakteknya di rumah sakit utama di Batavia bernama Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ) (sekarang Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo).

Lalu, sejumlah daerah pun pernah ia tempati. Seperti, Medan, Manado, dan kembali ke Batavia, bekerja di Rumah Sakit Budi Kemuliaan yang didirikan oleh yayasan SOVIA.

Selain itu, Marie pun menjadi asisten Nicolaas Boerma, seorang dokter Belanda yang spesialisasi dalam bidang obstetri. Ia adalah salah satu dokter pertama di Indonesia yang memakai alat pengaturan kelahiran dan intrauterine device.

Pada 16 Maret 1929, Marie menikah dengan Mohammad Joesoef, seorang dokter asal Solok yang juga sama-sama kuliah di STOVIA. Kemudian, mereka pindah ke Padang, Sumatra Barat.

Di Padang, Marie mengambil jabatan pada Layanan Kesehatan Masyarakat (DVG atau Dienst der Volksgezondheid). Setelah itu, mereka kembali lagi ke Batavia setelah beberapa tahun berada di Padang.

Di Batavia, Marie terlibat dengan partai Persatuan Minahasa, yang di dalamnya Sam Ratulangi juga menjadi anggota. Kemudian Marie dan suaminya kembali ke Sumatra Barat, kali ini menetap di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi).

Pada tahun 1950, ia mendirikan sekolah kebidanan di Bukittinggi, yang merupakan sekolah kebidanan pertama di Sumatra dan yang kedua di Indonesia. Marie pun meninggal dunia pada 10 Oktober 1966, di usia 70 tahun.