Ahmad Taufan Damanik, Ketua Komnas HAM yang Pernah Dituding Pro HTI, dan Disebut Boneka Cendana

Kamis, 06 Mei 2021 – 16:04 WIB

Ahmad Taufan Damanik (Foto: Istimewa)

Ahmad Taufan Damanik (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Pelabelan teroris terhadap Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) - Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua tidak setujui Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Ahmad Taufan Damanik.

Penyematan kelompok teroris terhadap KKB dinilai pihaknya bukanlah jalan untuk mengakhiri konflik bersenjata di Papua. Jalan terbaik menurutnya adalah mengedepankan tindakan persuasif dengan menggelar dialog damai.

Pria yang akrab disapa Taufan ini mengaku, kerap mendapat perundungan ketika mengkritisi pelabelan teroris terhadap KKB di Papua. 

Diantaranya digunjingi menjadi komisaris PT Freeport di Papua dan berfoto bareng bersama Tommy Soeharto. 

 

Lantas seperti apa sosok Ahmad Taufan Damanik?

Pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara 29 Juni 1965 ini memulai karirnya menjadi dosen politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera (Fisip USU) sejak tahun 1987-2003. Masa kecilnya dihabiskan di kampung halamannya. 

Selain sebagai dosen, Taufan aktif dalam isu dan kegiatan perlindungan terhadap hak anak.

Dosen aktivis 98 ini juga dikenal sebagai ketua KKSP Medan, ketua Presidium Koalisi Nasional NGO Pemantau Anak yang sekarang sedang meyiapkan Laporan Komprehensif tentang Pelaksanaan Hak Anak di Indonesia, anggota IFM-SEI, satu organisasi pendidikan anak yang bermarkas di Brussel Belgia. Taufan pernah menjabat sebagai perwakilan Indonesia untuk Komisi Hak Anak di Komisi ASEAN untuk Promosi dan Perlindungan Hak Perempuan dan Anak (ACWC) tahun 2013–2016. Sebagai Konsultan Evaluation Project on Andaman Refugee, Save The Children Indonesia, Tahun 2016, Konsultan Lepas Proyek Penanganan Anak Korban Konflik Berbasis Masyarakat, Save the Children Aceh, Tahun 2008 dan Konsultan Lepas untuk Issu Children In Armed Conflict, UNICEF, Banda Aceh, Tahun 2007 serta Konsultan Lepas untuk Issu Separated Children, Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh Nias, Tahun 2006.

Saat wawancara terbuka bersama Panitia Seleksi Komisioner Komnas HAM 2017-2022, Taufan sempat dicecar dengan pertanyaan isu kedekatannya dengan Gatot.

Taufan dituding menjadi tim sukses Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho yang ditangkap KPK karena kasus suap. Seolah mengkonfirmasi kebenaran itu dirinya pernah mendapat penghargaan dari Gubernur Sumatera Utara, tahun 2010. 

Namun, tudingan itu dibantahnya. Menurutnya Gatot adalah koleganya sesama dosen di USU. Sehingga saat Gatot maju sebagai gubernur, Taufan membantu Gatot menyusun strategi kampanye.

Taufan juga membantah kedekatannya dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Selama ini ia hanya diundang pembicara dalam diskusi itu. 

Kejadian yang cukup menghebohkan adalah pernah beredar sebuah foto dan caption yang menyebut dirinya sebagai boneka keluarga cendana. Pada foto itu tersemat tulisan "Pantas selama ini #komnasHAM selalu berseberangan, ternyata Ahmad Taufan Damanik ketua Komnas HAM boneka cendana ... ".

Dalam foto tersebut menampilkan gambar putra bungsu Presiden kedua RI, Tommy Soeharto bersama seorang laki-laki yang dilingkari dengan garis merah adalah Taufan. 

Adapun foto yang disertai keterangan tersebut menampilkan gambar putra bungsu Presiden kedua RI, Tommy Soeharto bersama seorang laki-laki yang dilingkari dengan garis merah.

Namun, dirinya menegaskan bahwa foto tersebut tidak benar (hoaks). 

Komnas HAM pun memastikan laki-laki itu bukan Ahmad Taufan Damanik. Selain itu Komnas HAM juga menegaskan bahwa Taufan tidak pernah berfoto bersama anggota keluarga Cendana, termasuk Tommy.

Pria berusia 56 tahun ini merupakan Komisioner Komnas HAM RI periode 2017-2022 yang sekaligus merangkap sebagai ketua.

Pada Oktober 2017, namanya masuk dalam komisioner Komnas HAM. Setelah mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di DPR dari tujuh nama yang dipilih melalui mekanisme musyawarah mufakat tersebut, salah satunya adalah Ahmad Taufan Damanik.

Taufan juga pernah menjadi salah satu tim Panelis dalam ajang Debat Pilpres 2019 yang berlangsung pada tanggal 17 Januari 2019. Dirinya bersama panelis lainnya yaitu Bagir Manan, Hikmahanto Juwana, Agus Rahardjo, Bivitri Susanti dan Margarito Kamis.