Cuma Wanita Cantik Ini yang Berani Lawan Prabowo Subianto, Namanya Farah Putri Nahila

Senin, 07 Juni 2021 – 11:40 WIB

Farah Puteri Nahlia (Foto: Istimewa)

Farah Puteri Nahlia (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PAN, Farah Puteri Nahlia menentang rencana Kementerian Pertahanan (Kemenhan) yang dipimpin Prabowo Subianto berutang Rp 1.700 triliun untuk pembelian Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista).

"Saat ini Indonesia sedang menghadapi pandemi Covid 19. Upaya penanganan menjadi prioritas utama pemerintah agar ekonomi kita kembali pulih," ujar Farah dalam keterangan tertulisnya pada Minggu 6 Juni 2021.

Menurutnya, upaya menjaga ketahanan ekonomi masyarakat lebih urgen dan mendesak dilakukan tanpa mengurangi visi strategis penguatan pertahanan militer.

Anggota DPR periode 2019-2024 termuda itu menilai pembelian alat peralatan pertahanan keamanan (Alpahankam) atau Alutsista dengan anggaran sebesar itu tergesa-gesa dan belum terencana secara matang.

Sebab, dalam pertahanan nasional perlu membaca visi menjadi strategi lalu menjadi doktrin pertahanan untuk membuat roadmap yang sesuai dengan Nawacita.

Sesuai latar belakang keilmuannya, Farah duduk sebagai anggota Komisi I yang membidangi pertahanan, luar negeri, komunikasi dan informatika, serta intelijen.

Ia berkeinginan untuk memanfaatkan ilmunya ke dalam perancangan UU di bidang pertahanan dan keamanan, intelijen, dan informasi publik. Ia tertarik dengan isu terkait hak-hak TKI karena di dapilnya sendiri banyak yang bekerja sebagai TKI. 

Farah menyampaikan terkait program lima tahun kedepan, saat dirinya lolos menjadi anggota DPR, akan membentuk Paguyuban Neng Farah. Organisasi itu bertujuan untuk menyerap aspirasi masyarakat sebagai bahan kebijakan dalam membangun Subang, Majalengka, dan Sumedang.

Selain itu, Farah juga berencana melakukan pengembangan UMKM untuk mendorong ekonomi masyarakat kecil. Akan ada skill training memasak produk khas lokal, menjahit atau bimbel atau konsultasi gratis untuk para pelajar. 

Wanita kelahiran Semarang, 2 Januari 1996 itu merupakan anak dari pasangan HM Fadil Imran dan Ina Adiati. Sang ayah adalah seorang Brigadir Jenderal Polisi yang lahir di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. HM Fadil Imran sudah menjabat sebagai Dirtipid Siber Bareskrim Polri sejak 3 Februari 2017.

Saat menduduki bangku SMP, ia sudah menunjukkan jiwa kepemimpinannya dengan menjadi Wakil Bendahara di OSIS. Lulus dari SMP Al Azhar Bumi Serpong Damai, Tangerang pada tahun 2010, Farah kemudian melanjutkan studi ke Sinarmas World Academy (SWA).

Gelar D3-nya ia peroleh dari University Foundation Programme, David Game College London. Ia telah menamatkan studi S1 dan S2 di bidang politik dan hubungan internasional di Royal Holloway, University of London.

Farah mengambil jurusan bidang politik dan hubungan internasional. Selama berkuliah, ia pun aktif dalam beberapa organisasi seperti English Teaching Programme pada tahun 2011.

Tahun 2012, ia juga berpartisipasi dalam Habitat for Humanity Indonesia, sebuah LSM yang membantu pembangunan atau perbaikan rumah tinggal sehingga menjadi hunian yang layak, sederhana, dan terjangkau untuk keluarga berpenghasilan rendah. 

Selanjutnya, ia pernah menjabat sebagai Komisaris Utama Masa Studio pada tahun 2018. Selain itu Ia juga pernah menjalani masa magang di Direktorat HAM dan Kemanusiaan, Direktorat Jendral Kerjasama Multilateral Kementerian Luar Negeri di tahun yang sama.

Setelah enam tahun tinggal di luar negeri, ia memilih untuk kembali ke Indonesia. Menurutnya percuma kalau ilmu yang telah ia dapat tidak diwujudkan untuk pembangunan dan keperluan tanah airnya.

Ia merupakan sosok yang sangat cinta dan peduli terhadap Indonesia. Hal ini dibuktikan ketika ia pernah membantu memulangkan TKW asal Subang yang bermasalah di luar negeri. 

TKW bernama Ibu Een itu sudah lama tidak digaji dan tidak dapat pulang dari negara tempat dia bekerja meskipun sudah beberapa kali berusaha. Berkat koordinasi Farah Puteri Nahlia dengan BPNTKI, akhirnya keinginan Ibu Een dapat tercapai.