Krishna Murti, Jenderal Polisi Ganteng yang Menangani Kasus Bom Sarinah dan Kopi Sianida

Rabu, 06 Oktober 2021 – 13:09 WIB

Brigjen Krishna Murti (Foto: Istimewa)

Brigjen Krishna Murti (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Polisi satu ini dikenal sebagai sosok tampan, energik dan inovatif. Dalam melaksanakan tugas, ia membuang jauh-jauh image polisi yang seram dari caranya bertindak. Ya, dia adalah Krishna Murti.

Krishna Murti saat ini telah berpangkat Brigadir Jenderal (Brigjen) Polisi setelah menjabat sebagai Wakapolda Lampung, hingga Kabagkembangtas Romisinter Divhubinter Polri (2016) dan Karomisinter Divhubinter Polri (2017).

 

Nama Krishna banyak dicari netizen Indonesia pasca menangani kasus kopi sianida yang melibatkan Jessica-Mirna serta insiden bom Sarinah Thamrin yang terjadi pada Kamis 14 Januari 2016.  Aksi dirinya melawan para teroris yang meledakkan gerai kopi Starbucks dan Pos Polisi Sarinah dikenal sebagai aksi yang berani.

Tak hanya itu, Perwira tinggi Polri yang terkenal dengan jargon Turn Back Crime ini juga aktif di media sosial untuk memberi berbagai reaksi tentang setiap polemik yang tengah terjadi di tanah air. Mulai dari yang serius hingga yang lucu tak lepas dari postingan di akun instagramnya.

Pria kelahiran Ambon, Maluku ini mengawali kariernya sebagai Perwira Pertama Polda Jawa Tengah setelah lulus dari dari Akpol pada tahun 1991. Dirinya sempat diledek atasannya lantaran Krishna mengambil sekolah kedinasan pada Satuan Kerja Lalu Lintas. Namun, hal tersebut tak membuat dirinya berputus asa dan tetap mengambil pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kemampuan individu.

 

Pada tahun 1996, Krishna yang kala itu berpangkat Letnan Satu dikirim ke Bosnia sebagai negara konflik antara negara pecahan Kroasia dan Serbia. Dia didaulat sebagai anggota polri yang dinas di jajaran PBB.

Saat ditugaskan di wilayah konflik kawasan Afrika Tengah 2019, ada moment yang menarik perhatian ketika Krishna belanja sayur di pasar dan tampak sebuah kendaraan taktis ( Rantis) PBB sedang mengawal Krishna.

Selepas kembali ke tanah air, pria kelahiran 15 Januari 1970 ini didaulat sebagai Kanit Reserse Narkoba di Polwitabes Surabaya. Ia pun banyak menangani kasus-kasus peredaran narkoba yang melibatkan warga sipil, polri, hingga tentara.

Pada tahun 2000, Krishna menjadi lulusan terbaik PTIK sehingga ia pun mengemban tugas yang lebih besar lagi dengan pangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) yang ditempatkan sebagai Sekretaris Pribadi Kapolda Metro Jaya.

Tak lama setelah itu, ia pun naik jabatan sebagai Kapolsek Penjaringan Jakarta Utara selama 3.5 tahun hingga naik pangkat menjadi Komisaris Polisi (Kompol).

Tepat pada usia 30 tahun, ia menduduki posisi Wakil Kapolres Depok dan masuk ke Lembaga pendidikan untuk melanjutkan Sekolah Pimpinan (sespin) di Singapura dan Ausitralia hingga 2009.

Sempat menjadi dosen Lemdikpol, Krishna kemudian dikirim ke Sudan dan membangun system keamanan bertaraf internasional di sana. Karena terbiasa terjun ke medan perang, serangan tembakan yang dilakukan para pemberontak ke kendaraan yang ditumpanginya saat di Bosnia adalah hal yang biasa.

Kariernya kian moncer, Krishna memperoleh popularitasnya saat menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya. Dalam menjalani tugasnya, ia juga secara tidak langsung menampilkan sosok polisi yang gagah dan dicintai rakyat.

Krishna jugalah yang mempopulerkan jargon Turn Back Crime di Indonesia. Ia mendapatkan sambutan antusias dari masyarakat. 

Selama bertugas di periode 2015-2017, banyak kasus besar yang berhasil dibongkarnya. Krishna dianggap berhasil dan berprestasi. 

Sejak itu, Krishna Murti layaknya selebriti. Berpenampilan gagah dan tampan mengundang perhatian publik, khususnya wanita. Namanya makin tersohor seiring sering tampilnya Krishna di layar kaca dan media sosial.