Kombes Deonijiu De Fatima,Kapolres yang Pernah Bertugas di Gegana,Densus 88 dan Daerah Rawan Konflik

Senin, 11 Oktober 2021 – 11:06 WIB

Kombes Pol Deonijiu De Fatima (Foto: Tangkap layar divisi Humas Polri)

Kombes Pol Deonijiu De Fatima (Foto: Tangkap layar divisi Humas Polri)

JAKARTA, REQnews - Siapa yang tidak mengenal Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Deonijiu de Fatima, pria kelahiran Aileu, Timor Portugis ini selalu ditempatkan di garda terdepan dan posisi-posisi yang sulit.

Sebut saja, pengalaman bertugas Kombes Pol Deonijiu di Gegana, Densus 88, dan daerah rawan konflik. Dirinya juga dikenal sebagai polisi penjinak bom.

Lulusan Akpol 1996 ini menjabat sebagai Kapolres Metro Tangerang Kota sejak 16 November 2020 dan berpengalaman dalam bidang Brimob.

Kapolrestro Tangerang Kota ini sempat mendapat predikat “Bukan Polisi Tidur” dalam acara televisi Mata Najwa.

Acara tersebut digelar pada 16 Agustus 2014 silam saat Kombes Pol Deonijiu De Fatima masih menjabat Kepala Detasemen A Brimob Polda Metro Jaya.

Deonijiu De Fatima juga pernah menjabat sebagai Kasubden C Satuan Gegana Korbrimob Polri, Wakaden D Pelopor Satbrimob Polda Metro Jaya.


Juga Kaden Gegana Satbrimob Polda Metro Jaya, Kaden A Satbrimob Polda Metro Jaya, Kasubag Intel Korbrimob Polri, Wakapuslat Korbrimob Polri, dan pada 2018 menjabat sebagai Dansat Wanteror Pasgegana Korbrimob Polri.

Saat itu dalam tayangan Mata Najwa yang diunggah YouTube MetroTVnews, tanggal 16 Juli 2014, dirinya bercerita butuh ketenangan menjadi seorang penjinak bom.

"Kembali pada person-nya harus memiliki ketenangan yang bagus, kemudian tidak ceroboh, punya perhitungan yang pasti, sehingga apabila dia dihadapkan pada bom tersebut, tidak grogi," katanya saat itu.

Kombes Pol Deonijiu pun juga pernah ditempatkan di daerah konflik yakni di Timor Timur, Aceh, Ambon, Papua hingga Poso.

Bagi dirinya, menduduki posisi strategis saat ini bukan tanpa perjuangan. Ada cerita tersendiri di balik pencapaian seorang Kombes Pol Deonijiu hingga saat ini.

Tepatnya saat kelas 2 pendidikan Sekolah Dasar (SD) pada 1982, dirinya pernah putus sekolah. 

Bahkan ia pernah tidak tinggal di rumah dan dan disebut sebagai berandal di Timor Timur (sekarang Timor Leste).

Kehidupannya berubah setelah ia dimbil untuk bekerja oleh tentara yang disebut sebagai tenaga bantuan operasi (TBO).

Setiap tentara yang berdinas di Timor Timor pada saat itu akan mencari anak-anak untuk membantu mereka, mengangkat barang saat pindah, dan lainnya serta menjadi penunjuk jalan.

Deonijiu pun menjalani tugas barunya tersebut selama 4 tahun. Hidup dan tinggal bersama tentara membuat dirinya mempunyai tekad yang kuat untuk menjadi seorang tentara.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA dirinya mengikuti tes Akabri. Deonijiu memiliki banyak pengalaman, pandai berkomunikasi dengan tentara dan polisi sehingga ia mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk ikut tes.

Menurutnya jika ada kemauan tanpa uang dirinya bisa lolos di Akabri. 

Takdir berpihak kepada Deonijiu dan dia pun lolos.

Saat berpangkat AKBP,  Deonijiu sempat membuat buku mengenai dirinya dan membagikan buku tersebut kepada anak panti asuhan.

Bukan tanpa tujuan, ia ingin buku tersebut menjadi motivasi bagi anak-anak panti asuhan bahwa meskipun kondisi mereka seperti itu, tapi harus tetap semangat untuk meraih masa depan.