Profil Kombes Pol Sumy Hastry, Ahli Forensik yang Jadi 'Tumpuan Harapan' Terungkapnya Kasus Subang

Kamis, 14 Oktober 2021 – 10:30 WIB

Kombes Pol Sumy Hastry, dokter ahli forensik yang tangani kasus pembunuhan Subang. (Foto: Istimewa)

Kombes Pol Sumy Hastry, dokter ahli forensik yang tangani kasus pembunuhan Subang. (Foto: Istimewa)

SUBANG, REQNews - Proses pengungkapan kasus pembunuhan ibu-anak di Subang masih terus diupayakan kepolisian.

Salah satu sosok yang menjadi tumpuan harapan masyarakat untuk pengungkapan kasus ini adalah ahli forensik, Kombes Pol Sumy Hastry.

Belum lama ini, Kombes Sumy Hastry sempat memberikan sinyal jika pelaku pembunuhan Subang bakal segera terungkap dalam waktu dekat. Pasalnya, sudah banyak barang bukti yang ditemukan penyidik hingga kini.

Namun, dia meminta seluruh masyarakat untuk bersabar dan mendukung proses yang tengah diupayakan petugas gabungan.

Wanita yang akrab disapa Dokter Hastry ini pun optimistis tersangka pembunuhan bakal segera ditetapkan.

"Alhamdulillah, ini baru selesai TKP Subang. Pasti terungkap," tulis dr Sumy Hastry Purwanti dalam Insta Story-nya, usai melakukan autopsi ulang jenazah korban, dikutip Kamis, 14 Oktober 2021.

Ada beberapa alasan mengapa masyarakat harus menaruh harapan kepada dr Sumy Hastry Purwanti yang melakukan autopsi ulang terhadap jenazah korban Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu.

Pertama, Sumy Hastry Purwanti merupakan dokter profesional di kepolisian. Dia merupakan polisi wanita pertama yang menjadi dokter forensik. Keterampilan Hastry pun kabarnya telah teruji dalam banyak peristiwa-peristiwa besar.

Unutk diketahui, Hastry mulai fokus pada bidang forensik saat terlibat dalam operasi di tempat kejadian pembunuhan tahun 2000. Saat itu, belum ada polwan yang menjadi dokter forensik.

Perempuan kelahiran 23 Agustus 1970 itu menjadi perempuan pertama dari anggota tim forensik asal Indonesia. Ia juga bergabung dalam berbagai operasi tim Identifikasi Korban Bencana atau Disaster Victim Identification (DVI) Polri.

Tugas pertamanya ialah mengidentifikasi korban bom Bali I pada 2002. Di tengah proses studinya, Hastry mendapat tugas mengidentifikasi korban bom Kedutaan Besar Australia di Jakarta (2004), kecelakaan pesawat Mandala di Medan (2005), dan bom Bali II (2005).

Selain itu, partisipasi Hastry dalam proses identifikasi tampak dalam bencana gempa bumi Yogyakarta (2006), bom Hotel JW Marriott, Jakarta (2009), identifikasi jenazah teroris Noordin M Top (2009), gempa bumi Padang, Sumatera Barat (2009), dan kecelakaan pesawat Sukhoi SSJ-100 di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat (2012).