Profil Dua Polisi 'Artis' yang Dimutasi ke Humas, Ada Brigadir Penakluk John Kei-Hercules

Kamis, 21 Oktober 2021 – 10:30 WIB

Aipda Monang Parlindungan Ambarita dan Aiptu Jakaria atau biasa dikenal Jacklyn Choppers (Foto: Istimewa)

Aipda Monang Parlindungan Ambarita dan Aiptu Jakaria atau biasa dikenal Jacklyn Choppers (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Dua polisi 'artis' yakni Aiptu Jakaria atau biasa dikenal Jacklyn Choppers dan Aipda Monang Parlindungan Ambarita baru-baru ini dimutasi ke bagian Humas Polda Metro Jaya.

Seperti diketahui, keduanya merupakan anggota polisi yang aktif di bidang media sosial bahkan mempunyai banyak pengikut atau followers.

Aipda Ambarita mendapat sorotan usai video aksinya menggeledah paksa HP warga viral di media sosial. Atas hal ini, Ambarita juga harus menjalani pemeriksaan Bidang Propam Polda Metro Jaya.

Sementara Aiptu Jakaria sempat viral karena aksi dirinya mengungkap berbagai kejahatan. Bahkan ia pernah mengalami diberondong tembakan hingga membuat 11 peluru bersarang di tubuhnya.

Seperti apa sosok keduanya?

Jacklyn Choppers

Siapa yang tidak mengenal Aiptu Jakaria atau biasa disapa Bang Jack alias Jacklyn Choppers. Sosok polisi nyentrik itu sudah banyak mengungkap kasus kejahatan kelas atas. Sebut saja penjahat kelas kakap, seperti John Kei dan Hercules. 


Dirinya tak pernah takut dengan pelaku kejahatan. Katanya tak pernah ada kesan mengerikan saat menangkap mereka. 

Polisi kelahiran Februari 1975 ini memiliki nama asli Jakaria. Lantaran hobinya terhadap motor custom, dia sering dijuluki sebagai Jacklyn Choppers.
 
Jacklyn lulus dari sekolah kepolisian pada tahun 1996. Sejak saat itu ia langsung aktif sebagai abdi bhayangkara.
 
Perjalanan kariernya sebagai polisi diawali saat bertugas di Polres Metro Jakarta Pusat.

Selama 23 tahun berkiprah menjadi polisi banyak pengalaman unik yang pernah dialami.

Jacklyn pernah jadi sasaran amuk 40 orang. Ketika itu, dirinya hendak menolong rekannya sesama anggota krimsus yang menangani kasus perjudian.


Bukan hanya diamuk 40 orang, ia juga bisa bertahan hidup saat tubuhnya dihujani 12 peluru. Peristiwa itu terjadi pada 2006 lalu, saat ia dan tim melakukan pengejaran pelaku perampokan mesin ATM Rp 2,8 miliar di Cawang, Jakarta Timur.
 
Ia dan timnya melakukan pengejaran hingga ke Bandung untuk menangkap si pelaku utama. Disana terjadi baku tembak di dalam mobil. Akhirnya kena 12 peluru, 2 di bagian jantung, 1 dekat ulu hati, 2 di dekat lambung sebelah kiri, 2 lagi di sebelah kanan, ini 1, terus 3 di lengan kiri. 

Polisi sempat menyarankannya untuk amputasi. Namun, Jacklyn memilih bertahan dengan keadaannya. Bahkan ia juga sengaja mentato beberapa bagian tubuhnya untuk menutupi luka bekas tembak. 

Sebelum dimutasi, ia merupakan anggota Subdit IV Jatanras (Kejahatan dan Kekerasan) Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Lelaki yang dibesarkan di wilayah Tasikmalaya ini mengaku sudah dua kali menangkap John Kei, pertama di kasus pembunuhan Tan Harry Tantono alias Ayung (45) pada 2012 silam. Kemudian, penangkapan kedua saat kelompok John Kei menyerang dan membunuh salah satu anak buah Nus Kei, yang merupakan paman John Kei sendiri pada pertengahan Juni 2020 lalu.

Bang Jack mengaku sudah pernah beberapa kali berbincang langsung dengan John Kei dan mengingatkannya. Namun, John Kei tetap saja berulah dan melakukan kejahatan sehingga dibekuk polisi. 

 

Aipda Monang Parlindungan Ambarita

Ambarita mulai menjadi polisi dengan mendaftar di Polda Metro Jaya pada 1998. Ada kisah menarik sebelum dirinya menjadi polisi. Saat lulus SMA, dia mendaftar ke Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Namun, ia tidak lolos tes.

Setahun berikutnya, Ambarita mencoba daftar Bintara Polisi. Namun, takdir belum berpihak pada dirinya dirinya dinyatakan tidak lolos. Ia pun memutuskan pergi ke Jakarta. 

Di Jakarta, Ambarita bertemu dengan teman kakak perempuannya.

Dari situ, ia ditawari kerja di perusahaan cat. Krisis moneter mulai terjadi pada 1997. Ambarita terkena imbasnya.

Ia salah satu pegawai yang dipecat.

Di tengah waktu menganggurnya, Ambarita masih menyimpan keinginan untuk menjadi polisi hingga akhirnya ia mendaftar pada 1998 dan lulus seleksi. 

Ambarita adalah polisi Sabhara yang merupakan pentolan dari Tim Raimas Backbone Polres Metro Jakarta Timur.

Ia eksis di beberapa program televisi swasta. Dalam program tersebut, Ambarita dan tim memperlihatkan proses penangkapan pelaku kejahatan maupun ketika melakukan patroli ketika menemukan adanya gangguan kamtibmas.

Aipda Ambarita diperlihatkan sebagai sosok polisi yang tegas dalam melakukan penindakan. Melalui akun YouTube Raimas Backbone Official, Aipda Ambarita tampak ikut serta mengisi konten. Bahkan, jumlah subscriber akun YouTube tersebut terbilang banyak, yakni 1,39 juta.

Aipda Ambarita sendiri diketahui memimpin Raimas Backbone sejak 2017. Tim Raimas Backbone bertugas mengurai, membubarkan, dan melokalisasi massa yang melakukan tindakan perusakan yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.