Cara Brigjen Khrisna Murti Hadapi Tantangan Mengelola Lembaga Strategis

Minggu, 30 Juni 2019 – 11:30 WIB

Brigjen Pol Khrisna Murti (Foto: Istimewa)

Brigjen Pol Khrisna Murti (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Berbagai jabatan yang diemban, sukses ia laksanakan. Sejak 22 Juli 2016 ia dipercaya menjadi Kepala Biro Misi Internasional (Karo Misinter) Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Mabes Polri. Dengan bangga Brigjen (Pol) Krishna Murti, S.IK., M.Si, menceritakan mengenai berbagai aktivitas dirinya di divisi ini.

Menurut Krishna, betapa luasnya cakupan tugas yang dilakukan divisinya. Divhubinter merupakan institusi di dalam lingkungan internal kepolisian RI institusi yang bertugas dan mengelola hubungan, interaksi antara Polri dengan organisasi-organisasi di negara lain. Baik itu organisasi kepolisian, nonkepolisian, maupun organisasi yang bersifat internasional.

Lebih lanjut Krishna menerangkan bahwa di era sekarang telah merubah cara orang berinterkasi, komunikasi, berekonomi, berpolitik, bersosialisasi, yang efeknya kepada perubahan perilaku dan budaya.

Di era globalisasi menurut Krishna, kita semua tidak dapat dihindari untuk menghadapi ancaman dan tantangan global. Apa yang terjadi di dalam negeri tidak bisa dihindari adalah dampak dari peristiwa global yang merembet secara cepat.

Di zaman sekarang ini, perkembangan teknologi informasi semakin mempengaruhi hidup manusia. Salah satunya adalah pengaruh media sosial. Tidak bisa dipungkiri kalau kehadiran media sosial memang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, di mana tujuan media sosial awalnya agar komunikasi dan berbagai kegiatan yang dilakukan manusia menjadi lebih mudah.

“Media sosial, bukan saja membuat dunia semakin dekat, tetapi ada di kepala,” ujar Krishna.

Kemajuan ilmu dan teknologi yang semula bertujuan mempermudah pekerjaan manusia, kenyataannya teknologi telah menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi kehidupan manusia. Karena kekhawatiran akan adanya penyalahgunaan, termaksud dampak implikasi negatif, kejahatan, keamanan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat, ternyata tidak saja memberikan dampak positif tetapi juga memberikan efek negatif. Perkembangan teknologi internet memunculkan kejahatan yang disebut dengan cyber crime atau kejahatan melalui jaringan internet. Munculnya beberapa kasus cyber crime seperti pencurian kartu kredit, hacking terhadap berbagai situs, manipulasi data dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kejahatan lintas negara dewasa ini telah menjadi salah satu ancaman serius terhadap keamanan dan kemakmuran global. Salah satu mekanisme multilateral yang penting dalam menanggulangi kejahatan lintas negara. Karena itu, Krishna mengatkan bahwa polisi sadar akan persoalan tersebut, harus bekerjasama dengan dunia internasional dalam berbagi informasi, kemudian membangun kapabilitas organisasi, melakukan tugas bersama, memetakan permasalahan kejahatan, saling merekatkan hubungan dan jangan sampai satu kejahatan menyebar ke negara-negara lain.

Demikianlah yang dikelola divisi hubungan internasional Polri yang di dalamnya ada struktur setesibi Interpol yang bertugas menangani masalah kejahatan, konferensi internasional, komunikasi internasional, kemudian komunikasi hubungan bilateralnya.

“Struktur yang saya pimpin namaya biro misi internasional Polri yang bertugas mengelola seluruh kerja sama internasional kepolisian, non kejahatan, misi perdamaian, misi kemanusian dan hubungan organisasi internasional termasuk organisasi kepolisian negara lain seperti Asiana Pol, PBB, oragnisasi besar lainnya,” ujar pria kelahiran lahir 15 Januari 1970.

Karena itu, divisi yang dipimpin Krishna telah banyak mengirimkan polisi ke luar negeri termasuk menerima polisi dari negara lain. Mereka bertugas bukan hanya melindungi warga negara Indonesia di luar negeri, bukan hanya melindungi warga asing di Indonesia, tetapi juga bertugas meningkatkan kapabilitas organisasi Polri.

Bayangkan, ujar Krishna, ada 4400 anggota Polri di Indonesia, bila bisa dikirimkan ribuan polisi ke luar negeri dengan event seminggu, setidaknya menambah wawasan berpikir mereka. Ilmunya bertambah, mindset berubah, mereka mengetahui dunia internaasional, dan ketika kembali ke Indonesia mereka melakukan pengelolaan kepolisian Indonesia dengan lebih baik, inilah yang dilakukan Polri.

Dishubinter merupakan divisi strategis karena memiliki tugas untuk menjaga harga diri bangsa, eksistensi Indonesia, menujukkan bahwa Indonesia adalah bagian dari dunia yang memberi kontribusi terhadap perdamaian dunia dalam penanggulangan kejahatan dunia dan transnasional. Divisi ini menjadi ujung tombak peningkatan citra, reputasi dan kepercayaan dunia internasional terhadap Mabes Polri.

Ada banyak bentuk kerja sama internasional yang dilakukan Polri, mulai dari intelijen, pelatihan, penanggulangan kejahatan, penumpasan kejahatan, misi perdamian, misi kemanusia dengan PBB dan lainnya. Jadi kepolisian pergi ke luar negeri dengan banyak saluran. FPU itu hanya satu kanal, ada banyak kanal lain, seperti sekolah FBI, Perancis, Eropa, S1, S2, senior course dan lain sebagainnya.

Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1991 ini menjelaskan, untuk misi internasional, minimal 500 orang dikirim. Bayangkan setahun ada 500 polisi Indonesia yang tambah pintar, yang pulang harus jadi agen of change. Krishna memberikan contoh sejarah peradaban Jepang ketika restorasi meiji dilakukan, sekitar abad 17, Jepang banyak mengirimkan orang ke Eropa untuk mempelajari revolusi dan ketika mereka pulang be smart, merubah peradaban industri Jepang menjadi negara maju.

“Kalau melihat polisi sekarang dengan masa 20 atau 30 tahun lalu kita jauh berbeda, jauh berubah. Bagaimana kita menjunjung tinggi hak asasi manusia, melaksanakan pola soft of trust, proaktif polisi, demokratik polisi, yang mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Itulah yang dilakukan oleh kami,” Ucap Krishna.


Dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, penjahat juga berubah dan makin kreatif melahirkan kejahatan baru. Atas dasar itu, polisi juga harus selalu belajar dan mengikuti perkembangan teknologi.

Polri mengirimkan polisi-polisi terbaiknya untuk belajar ke negara lain. Berkat ilmu dan pengetahuan yang dipelajari harus diwujudkan di dalam negeri. Ilmu yang dipelajari itu tidak selamanya ditiru atau dikopas tetapi dimodifikasi. Inilah tantangan yang dihadapi polisi masa kini. Karenanya, Polri akan merekrut polisi cerdas di atas rata-rata dan harus punya kemampuan untuk menyerap masalah.

Kerja sama Polri tidak satu dua negara, tetapi semua negara, terutama negara yang tergabung dalam PBB yang berjumlah 190 negara. Dalam kerja sama, Polri harus hati-hati, tidak serampangan, ada kode etik, ada banyak aturan main yang harus diikuti termasuk mengetahui atau memahami politik luar negeri Pemerintah Indonesia.

Khrisna mengaku ada banyak kendala atau tantangan yang dihadapi divisi yang dipimpinnya. Kesulitan tersebut termasuk anggaran. Toh semua itu harus diatasi, ditemukan jalan keluarnya.