Profil Kopassus, Pasukan Elite yang Pernah Tumpas Pembajakan Pesawat Garuda di Bangkok

Kamis, 18 November 2021 – 17:04 WIB

Pasukan Kopassus TNI AD (Foto: Istimewa)

Pasukan Kopassus TNI AD (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) merupakan bagian dari Komando Utama (KOTAMA) tempur yang dimiliki oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Sebagai pasukan elite, Kopassus memiliki kemampuan khusus seperti mampu bergerak cepat di setiap medan, pengintaian, menembak dengan tepat dan anti teror.

 

 

Dilansir dari berbagai sumber, Kopassus memiliki tugas penting seperti Operasi Militer Perang (OMP) di antaranya yaitu Direct Action berupa serangan langsung untuk menghancurkan logistik musuh, Anti Teror, Advance Combat Intelligence (Operasi Inteligen Khusus) dan Combat SAR.

Kopassus juga memiliki tugas Operasi Militer Selain Perang (OMSP) seperti Humanitarian Asistensi (bantuan kemanusiaan), perbantuan terhadap kepolisian/pemerintah, AIRSO (operasi anti insurjensi, separatisme dan pemberontakan) dan SAR Khusus serta Pengamanan VVIP.

Korps baret merah itu, memiliki motto Tribuana Chandraca Satya Dharma yang memiliki arti "Berani, Benar, Berhasil". Mereka juga dikenal dengan slogan yang menggetarkan jiwa: "Lebih Baik Pulang Nama daripada Gagal dalam Tugas."

Tepatnya pada Juli 1950, timbul pemberontakan di Maluku oleh kelompok yang menamakan dirinya RMS (Republik Maluku Selatan). Pada saat itu pimpinan Angkatan Perang RI saat itu segera mengerahkan pasukan yang bertugas untuk menumpaskan kelompok pembelot tersebut.

Dipimpin langsung oleh Panglima Tentara Teritorium III Kolonel Alexander Evert Kawilarang dan Letkol Slamet Riyadi sebagai Komandan Operasi. Kopassus berhasil menumpas gerakan pemberontakan, namun jumlah korban tewas di pihak TNI juga tidak sedikit.

Setelah melakukan evaluasi, ternyata musuh dengan kekuatan yang relatif lebih kecil sering dan mampu menggagalkan serangan TNI yang kekuatannya jauh lebih besar. Hal itu disebabkan karena semangat anggota pasukan musuh yang lebih tinggi dan alutsista yang lebih lengkap.

Dari segi taktik dan pengalaman tempur musuh yang baik serta didukung kemampuan tembak tepat dan gerakan perorangan menjadi faktor penentu. Letkol Slamet Riyadi kemudian mempelopori pembentukan suatu satuan yang mampu bergerak cepat dan tepat untuk menghadapi berbagai sasaran di medan yang berat.

Tetapi cita-cita Letkol Slamet Riyadi tidak dapat terwujud saat itu karena ia gugur pada salah satu pertempuran berdarah dan dilanjutkan oleh Kolonel Alexander Evert Kawilarang.

Pada tanggal 16 April 1952 melalui Instruksi Panglima Tentara dan Teritorial III No. 55/Inst/PDS/52 dibentuklah Kesatuan Komando Teritorium III yang menjadi cikal bakal korps baret merah.

Mayor Mohammad Idjon Djanbi, mantan perwira pasukan khusus Belanda yang sudah menjadi warga negara Indonesia yang pernah bergabung dengan Korps Special Troopen dan pernah bertempur dalam Perang Dunia II tersebut dipercayakan menjadi Komandan pertama korps baret merah.

Idjon Djanbi (pegang kertas), membentuk pasukan khusus Indonesia yang saat ini bernama Kopassus.

Namun, sebelum berganti nama menjadi Kopassus, pasukan elite ini sempat beberapa kali berganti nama, seperti pada 1952 Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD). Tahun 1953 mengalami perubahan nama Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD).

Tahun 1955 berubah menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dengan menambah kualifikasi Para kepada setiap prajuritnya, pada 1966 satuan ini kembali mengalami perubahan nama menjadi Pusat Pasukan Khusus TNI AD (PUSPASSUS TNI AD).

Lalu pada tahun 1971 nama satuan ini berganti menjadi Komando Pasukan Sandi Yudha (KOPASSANDHA), hingga 1985 akhirnya satuan ini berganti nama menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Kopassus merupakan salah satu unit militer yang cukup disegani karena sepak terjangnya di dunia militer tak pernah diragukan lagi, bahkan sejumlah operasi berbahaya pun sukses dilaksanakan. 

Sejumlah negara di dunia meminta Kopassus melatih pasukan militernya. Bahkan, 80 Persen pelatih militer di negara-negara Afrika Utara merupakan perwira Kopassus. Tentara Kerajaan Kamboja (Royal Cambodian Amry), juga sudah lama memakai pelatih militer dari Kopassus.

Salah satu prestasi Kopassus yang paling mendunia adalah penyelamatan Pesawat Garuda yang dibajak teroris pada 31 Maret 1981. Saat itu, pesawat dengan rute Pekanbaru-Jakarta memberi kabar adanya pembajakan. Wakil Panglima ABRI saat itu, Laksamana Sudomo, langsung membuat rencana penyelamatan sandera.

Kopassandha (Komando Pasukan Sandi Yudha), nama Kopassus waktu itu, ditugaskan menggelar operasi penyelamatan. Di bawah pimpinan Letnan Kolonel Infanteri Sintong Panjaitan, pesawat berhasil diselamatkan di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand.

Bahkan, banyak yang menilai bahwa keberhasilan itu melebihi pasukan khusus Israel saat membebaskan sandera di Entebbe, Uganda. Pasca-operasi itu, pasukan Kopasandha yang melakukan penyerbuan pesawat, lantas menjadi embrio terbentuknya unit antiteror di Kopassus saat ini, yakni SAT-81 Gultor.