Profil Rahmat Effendi, Wali Kota Bekasi yang Kena OTT KPK

Rabu, 05 Januari 2022 – 19:45 WIB

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi (Foto: Istimewa)

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi (Foto: Istimewa)

BEKASI, REQnews - Rahmat Effendi atau yang dikenal dengan panggilan Bang Pepen merupakan Wali Kota Bekasi yang menjabat sejak 3 Mei 2012 menggantikan Mochtar Mohamad yang tersandung masalah korupsi.

Pria kelahiran Bekasi, Jawa Barat 3 Februari 1964 itu kemudian terpilih kembali dalam pilkada dan menjadi wali kota periode 2013-2018, dan periode 2018-2023. Rahmat sebelumnya pernah bekerja sebagai asisten pergudangan dan supervisor logistik di PT. Halliburton Indonesia.

Ia juga merupakan Direktur PT. Rampita Aditama Rizki, bahkan dirinya juga menjadi Anggota DPRD Kota Bekasi 1999–2004 dan Ketua DPRD Kota Bekasi 2004–2008. Rahmat juga pernah menduduki beberapa jabatan seperti Ketua LKMD Pekayon Jaya, Ketua PK Golkar Bekasi Selatan.

Kemudian menjadi Ketua DDP MKGR Kota Bekasi, Ketua DPD AMPI Kota Bekasi, Wakil Sekjen DPD MKGR, Pengurus KONI Kota Bekasi, Ketua Perbasi Kota Bekasi, Pengurus Daerah PSSI Jawa Barat, Anggota RAPI Kota Bekasi, Penasehat ORARI Kota Bekasi, Dewan Penasehat Pekat Indonesia Bersatu Bekasi.

Rahmat sudah menjadi pelaksana tugas (Plt) wali kota sejak 2011 dan kemudian dilantik menjadi wali kota defintif pada 3 Mei 2012 karena wali kota sebelumnya yaitu Mochtar Mohammad mendapat kekuatan hukum tetap dari Mahkamah Agung dengan dinyatakan bersalah dan dikenakan hukuman penjara selama enam tahun.

Pemberhentian Mochtar sebagai wali kota Bekasi berdasarkan SK Mendagri Nomor: 131.32.329 tahun 2012 tanggal 5 April 2012. Rahmat kemudian dilantik di Gedung DPRD Kota Bekasi, yang dipimpin oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan saat itu.

Selain dihadiri oleh seluruh jajaran Muspida dan anggota DPRD Kota Bekasi, hadir juga Aburizal Bakrie yang saat itu menjabat sebagai ketua umum Partai Golkar dan Sekjen Golkar Idrus Marham. Pada pilkada 2013, Rahmat lalu maju bersama Akhmad Syaikhu berhasil menang satu putaran dengan perolehan 43 persen.

Rahmat pada tahun 2019 pernah mencetuskan ide penggabungan Bekasi ke dalam wilayah Provinsi DKI Jakarta, sehingga Bekasi berubah nama menjadi Jakarta Tenggara. Usulan tersebut dikeluarkan atas alasan bahwa Bekasi dianggap tak terurus selama masuk Provinsi Jawa Barat.

Hal itu karena anggaran Jakarta mencapai Rp 86 triliun dibandingkan dengan anggaran yang didapatkan saat ini yang sejumlah 6 sampai 7 triliun rupiah, sementara yang dibutuhkan adalah 12 sampai 15 triliun rupiah. Rahmat Effendi juga menyebut bahwa warga di Bekasi merupakan "medok Betawi" atau lebih kental unsur budaya Betawi dibandingkan Sunda di Jawa Barat. 

Namun, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap bahwa Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi terjaring operasi tangkap tangan pada Rabu 5 Januari 2022 siang tadi. “Benar, KPK telah melakukan giat tangkap tangan terhadap penyelenggara negara di wilayah Bekasi Jawa Barat siang hari ini,” ujar Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron kepada wartawan.

Ghufron mengatakan bahwa Rahmat ditangkap bersama dengan seorang pengusaha. Saat ini, Rahmat dan pihak lain yang ditangkap masih dalam pemeriksaan intensif oleh penyidik KPK.

Penangkapan tersebut dilakukan setelah sebelumnya heboh mengenai anggaran karangan bunga yang dialokasikan Pemkot Bekasi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2022 yang jumlahnya yang fantastis, mencapai Rp 1,1 Miliar.

Pos anggaran tersebut ditemukan dalam situs Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Bekasi dengan kode tender 19841359. Dalam situs tersebut tertulis jumlah pagu paket pengadaan senilai Rp 1.139.790.000. Adapun nilai Harga Perhitungan Sendiri (HPS) sebesar Rp 1.138.229.761.

Sebelum ditangkap KPK, Rahmat Effendi mengatakan bahwa pemberian ucapan berupa karangan bunga merupakan salah satu bentuk perhatian Pemerintah Kota Bekasi kepada masyarakat. Karangan bunga tersebut nantinya akan digunakan saat menyampaikan ucapan duka, ucapan selamat, ataupun peresmian sebuah acara.

"Karangan bunga itu untuk ucapan duka, ucapan bahagia, perkawinan, lalu juga peresmian. Karangan bunga itu ada yang bentuknya agak besaran, ada yang sedang, bahkan ada yang sederhana," kata Rahmat saat ditemui di Stadion Patriot Chandrabaga, Kota Bekasi, Selasa 4 Januari 2022.

Karena menurutnya, pemerintah Kota Bekasi dapat menerima puluhan undangan setiap harinya. Saat wali kota tidak bisa memenuhi undangan, maka pihak yang mengundang akan mendapatkan kiriman bunga. “Jadi jangan dilihat nilainya tapi ini bentuk perhatian Kepala Daerah terhadap warganya," ujarnya.