IFBC Banner

RKH Fakhrillah Aschal, Ulama yang Jenazahnya Viral Dibawa Pakai Tandu Panjang Diiringi Ribuan Warga

Minggu, 15 Mei 2022 – 22:01 WIB

RKH Fakhrillah Aschal

RKH Fakhrillah Aschal

JAKARTA, REQnews - Baru-baru ini jagat maya dihebohkan dengan viralnya proses pemakaman seorang ulama yang tak biasa. Dalam video terlihat jenazah ulama tersebut digotong menggunakan tandu yang berukuran sangat panjang.

Jenazah itu lantas diiringi ribuan santri dan warga yang tumpah ruah. Mereka bahkan terlihat berebut ikut menandu jenazah sang ulama.

Belakangan diketahui, jenazah viral itu merupakan jenazah Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangkalan RKH Fakhrillah Aschal, cicit KH Syaikhona Kholil. Almarhum wafat pada Sabtu, 14 Mei 2022 pagi sekitar pukul 05.25 WIB.

RKH Fakhrillah Aschal adalah pengasuh Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil, Demangan Barat, Bangkalan, Madura. Kiai Fakhrillah juga merupakan generasi atau keturunan keempat dari almarhum KH Syaikhona Kholil.

KH Syaikhona Kholil adalah seorang ulama besar yang menjadi guru banyak kiai dan tokoh besar di nusantara. Salah satu di antaranya Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Lora Ismail Al-Kholili, selah seorang cicit Syaikhona Kholil, dalam sebuah postingan di akun Instagramnya, menuliskan tentang sosok Kiai Fakhri.

"Innalillahi wa inna ilaihi Rajiun, selamat jalan Kiai Dzikir dan Sholawat," tulisnya, dikutip Minggu, 15 Mei 2022.

Di mata Lora Ismail, Kiai Fakhri memiliki jasa sangat besar. Bangkalan yang dulunya lebih ramai dengan orkes atau dangdutan, berkat sentuhan tangan dingin Kiai Fakhri dapat berubah menjadi Kota zikir dan salawat.

Tagline itu juga tertulis dalam sebuah papan besar di pintu masuk Kabupaten Bangkalan. Kiai Fakhri adalah orang yang kali pertama mengusulkan tagline tersebut untuk Bangkalan.

"Saya sendiri menyaksikan bahwa nama yang diusulkan bukan isapan jempol. Kiai Fakhri langsung terjun sendiri ke masyarakat dan ke pelosok daerah untuk memasyaratkan salawat di seantero Bangkalan," ungkap Lora Ismail.

Ia menyaksikan langsung totalitas dan perjuangan Kiai Fakhri dalam menyebarkan zikir dan salawat di Bangkalan. Dalam satu malam, katanya, almarhum bisa memiliki jadwal pengajian hingga sebanyak delapan sampai sembilan titik.

"Itu belum termasuk jadwal-jadwal beliau (Kiai Fakhri, Red) di siang hari seperti mengajar dan lain sebagainya," sambungnya.

Lora Ismail berharap, semangat dan perjuangan Kiai Fakhri dalam mengajak masyarakat untuk mencintai salawat dan zikir tetap abadi serta menjadi amal jariyah.

"Berbagai grup salawat di Bangkalan juga kebanyakan terbentuk karena terinspirasi oleh Kiai Fakhri. Semoga perjuangannya tetap abadi," tandasnya.