Rocky Gerung: Yang Terbakar Itu Pasar Gelap Keadilan, Bukan Kejagung
JAKARTA, REQnews – Insiden kebakaran Gedung Utama Kejaksaan Agung beberapa waktu lalu membuat Rocky Gerung angkat bicara. Menurut dia, gedung Kejaksaan Agung tidak terbakar.
“Yang terbakar itu adalah pasar yaitu pasar gelap keadilan. Jadi yang ada di depan kita itu gambar pasar gelap kekuasaan karena disitu terjadi transaksi ketidakadilan,” kata Rocky di acara ILC TVone, beberapa waktu lalu.
Ia pun menambahkan, jika gedung yang terbakar tersebut menyimpan heritage yang bernama justice alias keadilan. Dan karena itu, lanjut dia, publik Indonesia menganggap bahwa biarkan aja gedung itu jangan diperbaiki lagi.
Alasannya, gedung tersebut akan menjadi heritage yang dikenang orang bahwa itulah pasar gelap keadilan. “Jadi jangan di perbaiki itu. Saya usulkan biarkan itu mangkrak seterusnya bahkan dengan jelaga yang masih menempel di dindingnya. Supaya ada pelajaran sejarah, orang akan ingat dia jadi monumen pemberantasan korupsi,” ujarnya.
Rocky pun mencoba menafsirkan dengan memakai ilmu Badan Intelijen Negara (BIN). Yakni Hermeneutic of Suspicion, menafsirkan kecurigaan itu hal yang standar di dalam cara berpikir intelijen itu. Mencurigai untuk menemukan yuristik awal atau keterangan awal mengapa orang nggak percaya.
“Nah saya mau hubungkan itu dengan soal tadi, mengapa publik nggak percaya bahwa itu cuma terbakar, itu cuma soal korsleting listrik, itu akibat dari gedung tua. Publik nggak percaya keterangan itu. Karena tadi cara berpikirnya semacam suspicion buat di belakang kasus ini ada yang mau disembunyikan.”
Menurut dia, kondisi ini lebih berbahaya dari sekedar gedung yang terbakar, karena yang terbakar adalah rasa keadilan publik itu yang terbakar. “Jadi, saudara-saudara saya ringkas aja bahwa peristiwa ini harus diingat sebagai monumen buruk dari penegakan keadilan, monumen buruk. Nah kalau dia direnovasi maka yang buruk itu tidak lagi diingat oleh orang,” ujarnya.
“Karena itu biarkan gedung Kejaksaan dalam keadaan yang kumal atau buruk begitu karena itu baik untuk ingatan publik. Sama seperti kita merayakan hari kemerdekaan kita datangi, kunjungi Makam Pahlawan. supaya kita ingat yang baik. Padahal sebetulnya sejarah itu baik kalau kita tidak mengingat si pahlawan tapi kita mengingat si pengkhianat gitu,” kata dia.
Ia menyebutkan bahwa sejarah yang baik adalah sejarah yang ditulis untuk mengingat pengkhianatan bukan kepahlawanan. "Nah kita mengingat ada pengkhianatan nggak dalam penegakan hukum kita? Bagaimana kita ingat biarkan gedung itu melarat semacam itu supaya ingatan kita tentang keadilan dipelihara terus oleh akal sehat kita."
Redaktur : Rani
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.