Gerabah Tak Lekang oleh Zaman
PURWOREJO, REQNews - Kali ini, Reqnews membawa oleh-oleh cerita tentang gerabah dari salah satu daerah di Jawa Tengah. Beberapa waktu lalu, kami yang melakukan perjalanan ke beberapa kota di Jawa Tengah, menyempatkan singgah di Purworejo, sebuah kecamatan di Kabupaten Banjarnegara.
Klampok menjadi salah satu desa yang menunjang pariwisata Kecamatan Purworejo. Sebagai salah satu kecamatan yang menunjang pariwisata, Purworejo Klampok mempunyai kelebihan tersendiri, karena daerah ini dikenal dengan hasil gerabahnya yang bagus.
Banyak pengunjung dari berbagai daerah yang datang, khususnya mereka yang datang dari daerah-daerah sekitar, seperti Purwokerto, Purbalingga dan Kebumen, menyempatkan mampir membeli oleh-oleh gerabah.
Di sepanjang jalan utama kita akan banyak menemukan toko-toko gerabah, salah satunya adalah di jalan Raya Timur Klampok Banjarnegara. Dari orang-orang yang kami temui sepanjang jalan, mereka merekomendasikan agar kami mengunjungi toko gerabah yang bernama Toko Mustika.
Toko ini sudah cukup terkenal, selain sudah berdiri cukup lama dari tahun 1975, hampir semua produknya merupakan hasil sendiri. Bila ingin mengetahui proses pembuatan gerabah, kita bisa melihat di toko ini, karena di belakang tokonya ada pabrik pembuatan gerabah.
Pemilik toko gerabah Keramik Mustika adalah sosok seorang ibu yang luar biasa. Hj. Siti Djoeriyah Suparyo memulai usahanya sedari muda bersama almarhum suaminya. Awalnya ia hanya memiliki tempat kecil untuk memperoduksi gerabah. Secara bertahap usahanya terus meningkat, kini ia memiliki beberapa toko dan produknya juga dijual oleh toko-toko gerabah lainnya.
Hebatnya lagi, berbagai perusahaan teh terkemuka, memesan gerabah berupa tempat air beserta cangkir yang diberi merek perusahaan teh tersebut. Dalam sekali permintaan, perusahaan-perusahaan tersebut memesan dalam jumlah yang banyak.
Meski produk gerabah sekarang ini banyak dibuat menggunakan plastik, namun tetap saja ada banyak orang yang masih setia dengan produk gerabah yang berbahan tanah lihat ini. Saya sendiri menyukainya dan bagi saya, gerabah tanah liat terlihat klasik dan indah.
Wanita yang tidak muda lagi ini, namun memiliki semangat yang besar dalam mengelola usahanya, mengajak kami berkeliling pabrik pembuatan gerabahnya. Ia menjelaskan satu demi satu tahapan dalam pembuatan gerabah. Wah, cukup menarik! Teryata hasil gerabah yang kita lihat tersebut, sebelum menjadi produk yang bagus, memiliki tahapan yang panjang, sehingga gerabah itu menjadi cantik dan indah.
Di pabriknya ia juga memperlihatkan tempat pembakaran modern yang sudah menggunakan oven berukuran cukup besar, di situlah tempat pembakaran gerabah-gerabah yang sudah dicetak dan dicat. Di sudut yang lain, ia memperlihatkan tempat pembakaran tradisional yang dulu dipakainya. Dengan oven, Ibu Suparyo, begitu Ibu ramah ini biasa disapa oleh para karyawannya, dapat memproduksi gerabah lebih cepat.
Kami dengan seksama melihat satu persatu proses pembuatan gerabah, yang diawali dengan proses persiapan tanah lihat, yang disiram air hingga basah merata, didiamkan beberapa hari, barulah digiling /diinjak-injak agar lebih liat. Lalu mulailah tahap pembentukan, terlihat mudah teryata ketika mencoba, sungguh sulit, dibutuhkan kesamaan gerak dan konsentrasi.
Setelah terbentuk, lalu di jemur, setelah benar-benar kering gerabah tersebut dikumpulkan dalam oven/tungku pembakaran, gerabah-gerabah tersebut kemudian dibakar selama beberapa jam hingga benar-benar keras.
Lalu masuk dalam proses akhir yaitu proses penyempurnaan, gerabah-gerabah tersebut di cat khusus atau diglasir sehingga terlihat indah dan menarik. Setelah melihat prose pembuatan, kami kembali ke toko yang ada di depan pabrik pembuatan gerabah, tibalah saatnya memborong berbagai produk gerabah, untuk oleh-oleh ke Jakarta.
Redaktur : Desi
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
