REQNews.com

Menelusuri Gemerlapnya Kegelapan Destinasi Seks di Belanda

Leisure

Sunday, 07 February 2021 - 17:32

Red Light District (RLD) (Foto: Insider)Red Light District (RLD) (Foto: Insider)

JAKARTA, REQnews- Pesona wisata malam kota Amsterdam, Belanda memang mempunyai daya tarik sendiri, sebut saja Red Light District (RLD) di daerah bernama De Wallen, semua jenis hiburan bagi pria dan wanita disajikan secara legal.

Mulai dari prostitusi, toko alat bantu seks dan video porno, hotel 'esek-esek' sampai kedai kopi ganja ada di sana. Kawasan RLD juga menyediakan agen perjalanan wisata dalam suatu paket bagi para turis, khususnya yang berasal dari luar Belanda.

Melihat semakin banyaknya turis yng berkunjung ke RLD, Pemerintah Kota Amsterdam memutuskan untuk mengubah citra negatif tersebut. Dimulai pada 2008, saat Wali Kota Amsterdam Job Cohen meluncurkan proyek 1012, yang merupakan kode pos daerah De Wallen.

Proyek tersebut bertujuan untuk mengubah citra Amsterdam dari kota lokalisasi pekerja seks komersial (PSK) terbesar di Belanda menjadi kota kreatif. Alhasil, ratusan PSK yang menjadi penghuni toko-toko di RLD digantikan oleh seniman dengan berbagai keahlian mulai dari melukis, patung, dan toko pakaian jadi. Beberapa restoran dan kedai kopi juga nampak bermunculan di distrik tersebut.

Namun, program Wali Kota Cohen tak berjalan mulus. Tahun 2017, Cohen baru berhasil menutup 150 dari sekitar 470 rumah bordil termasuk museum seks sebagai bagian terpenting dari wilayah RLD.

Alih-alih mengurangi dan merubah citra tersebut Kawasan RLD justru menajadi kawasan pelacuran di Belanda yang dikenal seantero dunia sebagai daerah prostitusi terbesar dan tertua di peradaban manusia modern.

Nama 'red light' sendiri datang dari berkembangnya rumah bordil pada paruh kedua abad 18 Masehi. Para PSK dikumpulkan oleh germonya masing-masing di sebuah rumah yang terpasang lampu merah sebagai 'tanda' bagi pencari prostitusi.

Membentang seluas sekitar enam hektar, RLD kini dipadati dengan ratusan rumah bordil berjejer dan berhimpit dengan pintu kaca berisi seorang wanita di malam hari, siap menyambut para pria hidung belang. Tak hanya itu, RLD juga dipenuhi super market yang mejual berbagai macam alat prostitusi. Demi mengait wisatawan, sepanjang jalan RLD dihiasi plang 'sex shop', 'live show', dan 'hotel'.  

Meski kawasan tersebut lumayan bebas, namun perlu diketahui, hanya orang yang telah berusia 16 tahun ke atas yang boleh keluar. Jika wajah terlihat terlalu muda, tak segan penjaga keamanan menanyakan kartu identitas. 

Perjalanan menuju RLD tak butuh waktu lama, kawasan De Wallen terletak di jantung Amsterdam, berdekatan dengan Dam Square yang merupakan 'alun-alun' ibu kota Belanda.

Perlu diperhatikan jika Anda berkunjung ke RLD bukan berarti dengan membayar pelanggan bisa bertindak sesuka hati. Sejumlah norma telah ditetapkan bagi pelanggan maupun pengunjung kawasan De Wallen, seperti: dilarang memfoto para PSK, jangan menyentuh jendela, menghargai perempuan, jangan mengintip celah pintu, jangan berdiri di depan pintu, bayar di awal dan diskusikan mana yang boleh dan tidak dilakukan, selalu gunakan kondom, menjaga kebersihan, jangan memaksa apalagi menggunakan kekerasan.

Redaktur : Rani

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.