REQNews.com

Ini Keunikan Desa Wisata Penglipuran Bali yang Mendunia

Leisure

Kamis, 09 Maret 2023 - 11:00

Desa Wisata Penglipuran (Foto:Disparda.baliprov.go.id)Desa Wisata Penglipuran (Foto:Disparda.baliprov.go.id)

JAKARTA, REQNews - Jika Anda berkunjung ke Desa Wisata Penglipuran maka akan disambut dengan kalimat “Selamat Datang di Desa Wisata Penglipuran”  tertulis jelas di papan warna cokelat, tepat di salah satu pintu masuk menuju permukiman.

Desa Wisata Penglipuran, terletak di Kecamatan Kubu, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, yang berjarak 45 kilometer dari Kota Denpasar ke arah timur menuju Bukit Kintamani.

Dikutip dari disparda.baliprov.go.id, lokasinya dari Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, jarak tempuhnya sekitar dua jam yang jalannya berkelok, menanjak dan tidak terlalu lebar.

Di sana, pengunjung disambut pagar berukir dan patungnya khas Bali, lalu ratusan rumah adat berjajar dan sebagian di antaranya terbuat dari bambu.

Tipe jalan di desa itu berundak-undak, sehingga dipastikan tak ada kendaraan jenis apapun melintas, dan mayoritas rumah maupun pekarangannya serupa.

Total terdapat 77 pekarangan dan setiap pekarangan terdiri dari dua rumah adat, dapur tradisional dan balai sakenem (tempat upacara) serta tempat suci bernama Sanggahan.

Setiap pekarangan terdapat empat pintu, yaitu bagian depan akses ke jalan desa, kanan dan kiri ke tetangga, serta belakang menuju jalan melingkar sebagai jalan kendaraan.

Jumlah penduduk di desa yang namanya kini mendunia tersebut sebanyak 1.038 orang jiwa dan 240 kepala keluarga.

“Jumlahnya bisa berubah, sebab ada warga di sini yang setelah menikah dengan warga desa lain ikut dengan keluarga, tapi ada juga yang tinggal di sini,” ujar Ketua Pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Moneng.

Pria yang merupakan sesepuh adat setempat itu bersyukur bisa memperkenalkan desanya ke masyarakat luas, bahkan tak hanya dikenal wisatawan dalam negeri, tapi juga luar negeri.

Tak hanya bangunan tempat tinggal, pakaian dan bahasa sehari-hari pun menjadi perhatian agar tak sirna.

Kunci pengelolaan desa adat di sana, kata dia, adalah komitmen memegang teguh prinsip budaya dan menghormati budaya yang datang dari luar sehingga tidak terjadi benturan.

“Kami menghargai budaya orang lain yang dibawa ke sini, tapi desa ini juga punya prinsip budaya yang harus dijaga dan dihormati,” tuturnya.

Di era modernisasi zaman sekarang, desa wisata Penglipuran tak kehilangan daya magisnya, bahkan justru menjadi salah satu destinasi yang paling dicari wisatawan di Pulau Dewata, bahkan ada rumah adat dari bambu yang berusia seabad (100 tahun) atau lebih.

“Desa kami memang berada di kawasan hutan bambu, karena itu kakek saya mewariskan rumah bambu kepada bapak, lalu diwariskan ke saya lagi,” ucap Nanglibat (76), warga Penglipuran, saat menceritakan `desa bambu` yang sepertiga dari 112 hektare luas desa itu merupakan hutan bambu.

Saat itu, ayahnya menyebut usia rumah bambu itu sudah 90 tahun, sehingga kalau dihitung dari kakeknya hingga ayahnya, tentu berusia lebih dari satu abad, tapi kakek dan ayahnya memang pandai merawat warisan turun temurun itu, sehingga terlihat masih bagus.

“Ada dua rumah bambu di rumah saya dan salah satunya sudah saya ganti atapnya dari ilalang menjadi genteng, karena lapuk,” tutur bapak dari dua anak yang bekerja sebagai petani di desa seberang, Desa Kubu.

Ia juga membangun dua rumah lagi untuk anaknya yang terbuat dari batu bata dan kayu. “Saya sendiri yang membangun untuk anak-anak saya, tapi satunya saya tempati, karena satu anak saya ikut suaminya di Jawa,” paparnya.

Ya, deretan rumah adat di Desa Adat Penglipuran memang tidak semuanya terbuat dari bambu, bahkan mayoritas sudah terbuat dari batu bata dan kayu, tapi setiap rumpun rumah untuk satu keluarga itu ada 1-2 rumah di antara 6-7 rumah yang ada itu terbuat dari bambu.

Untuk memasuki setiap rumpun rumah itu, wisatawan harus melewati “angkul-angkul” (pintu gerbang khas Bali). Desa adat yang dirancang khusus untuk wisata itu diresmikan sebagai desa wisata sejak tahun 1995 oleh Menteri Pariwisata saat itu, Soesilo Soedarman.

Selain angkul-angkul, juga ada bangunan suci (merajan), dapur, tempat tidur (bale), ruangan tamu, lumbung (tempat menyimpan padi) dan kamar mandi.

Hal yang mungkin baru adalah ruangan tamu atau “Bale Delod” yang disulap menjadi toko untuk tempat memajangkan aneka jenis cindera mata hasil karya warga setempat yang sebagian sudah tidak hanya bertani. Cindera mata yang dipajang antara lain kain tenunan tradisional.

Ya, Anda dapat keluar-masuk ke ratusan rumah adat berbahan baku bambu dari hutan bambu yang diperkirakan sudah ada sejak abad XI itu dengan leluasa. Perkiraan dari abad XI itu dibuktikan dengan adanya bangunan suci (pelinggih) “Ratu Sakti Mas Pahit” di sekitar Desa Penglipuran.

 

Redaktur : Desi

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.