REQNews.com

5 Puisi Terbaik Sapardi Djoko Damono, Penyair Legendaris yang Jadi Google Doodle Hari ini

Leisure

Monday, 20 March 2023 - 07:30

Google Doodle Sapardi Djoko DamonoGoogle Doodle Sapardi Djoko Damono

JAKARTA, REQnews - Hari ini, Senin 20 Maret 2023, sosok penyair legendaris Sapardi Djoko Damono menjadi Doodle Google, sebagai peringatan ulang tahunnya yang ke-83.

Pengguna Google, akan mendapati sosok Sapardi dalam ilustrasi memegang payung di tengah rintik hujan.

Ilustrasi itu ibarat menggambarkan puisi terbaik Sapardi, yakni ‘Hujan Bulan Juni’.

Sapardi Djoko Damono lahir di Solo 20 Maret 1940 dan meninggal dunia di Tangerang Selatan pada 19 Juli 2020.

Selain dikenal sebagai penyair, Sapardi Djoko Damono adalah akademisi dan guru besar dengan gelar Profesor juga Doktor.

Ia pernah menjadi Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1995-1999 sebelum diangkat sebagai Guru Besar.

Puisi-puisinya masih dibacakan dan dinikmati oleh semua kalangan sampai hari ini. Disajikam dengan cara dibaca pada umumnya, bahkan sampai dibuatkan musikalisasi hingga pentas sastra lainnya.

Di antara sederet banyak puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, berikut adalah beberapa yang terbaik.

1. Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu.

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu.

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu.

2. Aku Ingin

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

3. Yang Fana adalah Waktu

Yang fana adalah waktu
Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.

“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.

4. Hatiku Selembar Daun

Hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput.

Nanti dulu,
biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang,
yang selama ini senantiasa luput.

Sesaat adalah abadi
sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

 

Redaktur : Ryan Virgiawan

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.