Genosida Rwanda 1994, Pembersihan 800 Ribu Nyawa Suku Tutsi (Bagian 1)
JAKARTA, REQnews - Tahun 1994 adalah masa paling mencekam dan gelap dalam sejarah Rwanda, negara terpadat di Afrika Tengah.
Pembantaian besar-besaran dilakukan suku Hutu yang mendominasi sebagai mayoritas, terhadap suku Tutsi dan Hutu berpaham moderat.
Ekstremis suku Hutu, yang dikenal dengan nama Interahamwe menyisir pelosok negeri, menyiksa, memperkosa hingga membunuh secara keji para Tutsi.
Meskipun peristiwa ini dipicu pembunuhan terhadap Presiden Juvenal Habyarimana yang berasal dari suku Hutu, namun pemicunya adalah dendam yang begitu lama pasca penjajahan Belgia terhadap Rwanda.
Dalam sejarahnya, Rwanda ketika masih berbentuk kerajaan sejak pertengahan abad ke-18 dipimpin oleh raja-raja dari suku Tutsi.
Tahun 1884, Jerman menjajah Rwanda. Puluhan tahun setelahnya, pada 1916 ketika Perang Dunia I berkecamuk, Belgia menginvasi negara tersebut dan mengambil alih pemerintahan.
Sebagai penguasa kolonial, Belgia menerapkan kebijakan pemerintahan Tutsi, yang menjadi raja-raja di Rwanda. Sementara Hutu, tersingkirkan dari panggung kekuasaan.
Tahun 1959, Hutu melakukan pemberontakan dan membantai Tutsi, lalu mendirikan negara bebas dengan sistem republik pada 1962.
Hutu mendominasi nyaris semua sektor di Rwanda kala itu. Sementara Tutsi, jumlahnya semakin sedikit, Rwanda terus mencekam.
Kemudian, pada 1990, Front Patriotik Rwanda yang diinisiasi Tutsi, mendeklarasikan perang saudara hingga tahun 1994, terjadilah salah satu peristiwa genosida terbesar sepanjang sejarah umat manusia.
Pembunuhan Presiden Juvenal Habyarimana
Tanggal 6 April 1994, pesawat yang ditumpangi Presiden Rwanda Juvenal Habyarimana ditembak jatuh. Ia berada di helikopter pemberian Prancis. Namun, sumber lain mengatakan presiden berada di pesawat jet jenis Dassault Falcon 50.
Kala itu, Habyarimana sedang bersama dengan Presiden Burundi Cyprien Ntarymira, setelah melakukan pertemuan di Tanzania, untuk membahas perdamaian di Rwanda serta Burundi.
Habyarimana, berencana menyatukan etnis yang ada di Rwanda, dan membagi kekuasaan berdasarkan suku-suku tersebut. Misi perdamaian ini tertuang dalam Arusha Accord atau Piagam Arusha yang disepakati tahun 1993 ketika Habyarimana baru menjadi presiden.
DI Rwanda, penduduknya secara garis besar terbagi menjadi tiga suku, yakni Hutu 85 persen, Tutsi 14 persen, dan Twa 1 persen.
Untuk melancarkan misinya, Habyarimana mengangkat Perdana Menteri Agathe Uwilingiyama dari Hutsi. Namun, hal itu justru semakin membuat suku Hutu marah besar, karena bagi mereka pemerintahan yang ideal adalah hanya satu suku.
Pembantaian Dimulai
Memanasnya situasi di Rwanda, mengakibatkan presiden tewas. Begitu juga dengan Perdana Menteri Uwilingiyama.
Hutu melalui siaran di radio, mengumumkan bahwa Presiden Habyarimana telah dibunuh oleh pemerontak Tutsi.
Jalan-jalan di Rwanda diblokir. Interahamwe menyusuri setiap sudut wilayah, terutama di ibu kota untuk melakukan pembantaian besar-besaran.
Interahamwe dibantu oleh Pasukan Pengawal Presiden dan kelompok Impuzamugambi menyapu rata para Tutsi. Bahkan, mereka yang sesama Hutu juga ikut dibunuh, jika terbukti mendukung Piagam Arusha.
Pria, perempuan, anak-anak bahkan petinggi agama sekalipun, jika diketahui merupakan Tutsi, maka habislah nyawa mereka.
Pembantaian ini berlangsung selama 100 hari. Rwanda menjadi negara banjiir darah, mayat tergeletak di jalan tak dikuburkan, menjadi pemandangan paling tragis.
Tragedi ini menjadi salah satu pembersihan etnis terburuk di abad ke-20, setelah genosida Armenia, peristiwa Holodomor, Holocaust dan pembantaian di Kamboja. (Bersambung)
Redaktur : Ryan Virgiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.