18 Tahun Lalu Tepat Hari Ini, Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid Disandera di Irak
JAKARTA, REQnews - Hari ini tepatnya 18 tahun yang lalu yaitu 18 Februari 2005, dua jurnalis Metro TV yaitu Meutya Hafid dan juru kamera Budiyanto disandera Mujahidin Irak. Meutya Hafid yang saat ini sudah menjabat sebagai Ketua Komisi I DPR RI, tengah menjalankan tugas sebagai wartawan yaitu liputan. Namun, situasi di lapangan ternyata tidak bersahabat sehingga keduanya mengalami peristiwa penculikan.
Mereka pun pasrah kepada yang Maha Kuasa karena saat itu hanya ada dua peluang yaitu antara hidup dan mati. Penyanderaan ini pun langsung menjadi sorotan dunia dan memperlihatkan bahwa nyawa begitu berharga dibandingkan dengan berita yang eksklusif sekalipun.
Berbekal pengalaman sebagai jurnalis yang andal dan profesional, Meutya Hafid kala itu langsung mendapatkan penugasan dari Redaksi Metro TV untuk meliput ke Irak pasca kejatuhan Saddam Hussein. Meski gerakan pejuang mujahidin Irak menjadi momok menakutkan bagi para wartawan namun hal itu tidak membuat Meutya Hafid gentar.
Ia bersama dengan seorang juru kamera bernama Budiyanto bergegas berangkat untuk melaksanakan tugas di Irak. Hal ini dilakukan supaya narasi pemberitaan tidak hanya berasal dari satu sumber saja yaitu dari media asing atau luar.
Kehadiran keduanya di Irak membuat was-was karena situasi di sana yang kurang kondusif. Apalagi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Irak masih tutup. Dalam situasi inilah, tepatnya pada Peringatan kematian cucu Nabi Muhammad di Karbala, mereka disekap oleh Mujahidin Irak.
Penyandera menganggap kedatangan dua wartawan asal Indonesia merupakan utusan pemerintah yang kala itu dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun akhirnya Presiden SBY langsung mengklarifikasi jika keduanya murni menjalankan tugas tanpa membawa kepentingan politik. Maka, SBY meminta Mujahidin Irak untuk membebaskan keduanya. Negosiasi yang alot akhirnya menemui titik terang, yaitu keduanya bisa lepas dari jerat Mujahidin Irak.
Mereka akhirnya dibebaskan pada 21 Februari 2005. Peristiwa ini pun langsung diabadikan oleh Meutya dalam sebuah buku berjudul ‘168 jam dalam Sandera: Memoar Seorang Jurnalis yang Disandera di Irak.’
Redaktur : Giftson Ramos Daniel
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.