REQNews.com

Parah! Polisi AS Kembali Tembak Kulit Hitam, Pemilik Restoran YaYa's

News

Rabu, 03 Juni 2020 - 09:32

Emosi warga kulit hitam atas tewasnya David McAtee (Foto:BBC)Emosi warga kulit hitam atas tewasnya David McAtee (Foto:BBC)

AMERIKA, REQNews - Polisi Amerika Serikat kembali menembak pria kulit hitam. Kali ini, David McAtee (53), seorang pemilik restoran asal Louisville, Kentucky, Amerika Serikat (AS), dia meregang nyawa setelah tertembak selama protes kematian George Floyd pada Senin, 1 Mei 2020.

Dalam berbagai pemberitaan, McAtee pun dilaporkan tertembak ketika polisi dan Garda Nasional tengah mencoba menegakkan jam malam ketika protes berlangsung.

Dilansir dari Bussiness Insider, McAtee dinyatakan tewas pada Senin pagi setelah polisi dan Garda Nasional dikirim untuk membubarkan kerumunan protes di kota Kentucky.

Sementara itu, ABC News menambahkan bahwa McAtee tertembak dan tewas tepat di tempat biasa ia mendirikan kedai YaYa's BBQ-nya, yaitu di parkiran Dino Food Mart di persimpangan 26th Street, Louisville.

Sementara itu, melalui laman Twitter miliknya, Gubernur Kentucky Andy Beshear telah menjelaskan bahwa insiden dipicu lantaran polisi telah ditembaki selama protes. Saat itulah, pihak berwenang memanggil Departemen Kepolisian Metro Louisville (LMPD) dan Garda Nasional untuk menangani protes dan membubarkan kerumunan di kawasan parkir Dino Food Mart.

Namun, dalam mengurai kerumunan tersebut, Garda Nasional dan LMPD Louisville ternyata justru membalas tembakan dan akhirnya aksi ini berujung pada kematian McAtee.

Karena insiden ini, pihak berwenang setempat kini berupaya melancarkan penyelidikan lebih lanjut. Selain itu, kasus ini juga diketahui berbuntut pada pemecatan kepala polisi LMPD, Steve Conrad serta instruksi menghentikan untuk dua petugas lainnya.

Wali kota Louisville Greg Fischer dan pengganti Conrad, Asisten Kepala Polisi Robert Schroeder juga telah mengonfirmasi bahwa para petugas yang terlibat dalam insiden belum mengaktifkan kamera tubuh ketika penembakan terjadi.

"Jenis kegagalan institusional ini tidak akan ditoleransi. Karena itu, saya telah membebaskan Steve Conrad dari tugasnya sebagai kepala Departemen Kepolisian Metro Louisville," ucap Fischer.

"Dua petugas yang menembakkan senjata telah melanggar kebijakan karena tidak mengenakan atau tidak mengaktifkan kamera mereka. Ini benar-benar tidak dapat diterima dan tidak ada alasan.

"Kami akan meninjau seluruh insiden untuk menentukan apakah ada pelanggaran kebijakan lain yang terjadi. Saya jamin kami akan menindaklanjutinya dan akan ada pendisiplinan atas kegagalan penggunaan kamera," tambah Schroeder.

Lebih lanjut, Schroeder membeberkan bahwa ada dua petugas LMPD dan dua Garda Nasional yang terlibat dalam aksi pembalasan penembakan selama protes.

"Dua petugas LMPD, Katie Crews dan Austin Allen, ditempatkan pada cuti administratif sambil menunggu penyelidikan. Garda Nasional juga akan melakukan peninjauan sendiri terhadap para anggotanya," lanjut Schroeder.

Selain membocorkan nama-nama petugas yang terlibat hingga alasan utama penyebab tewasnya McAtee, Schroeder juga berikrar bahwa pihaknya akan berupaya menjaga transparansi publik dengan merilis video pada saat insiden berlangsung.

"Meskipun tidak ada kamera tubuh, departemen kepolisian akan merilis video kejadian dari kamera terdekat serta audio dari transmisi radio polisi dalam upaya untuk meningkatkan transparansi," imbuh Schroeder.

Terlepas dari proses penyelidikan kepolisian, insiden yang menimpa McAtee ini diketahui sukses memantik respons keras dari masyarakat, khususnya komunitas Louisville. Pasalnya, laporan stasiun radio lokal setempat, WFPL, sempat membeberkan laporan bahwa jasad McAtee sempat dibiarkan tergeletak begitu saja di jalanan selama 12 jam setelah pembunuhan.

"Penembakan itu terjadi tidak lama setelah (jam) tengah malam, dan tubuhnya (McAtee) tampaknya baru dikeluarkan dari lokasi kejadian setelah tengah hari pada hari itu," terang WFPL.

Tidak hanya itu, kegeraman masyarakat setempat makin menjadi-jadi lantaran selama hidup McAtee ternyata dikenal sebagai seorang yang dermawan. Ibunya, Odessa Riley, bahkan menuturkan secara langsung bagaimana McAtee dijuluki sebagai 'pilar komunitas' lantaran kerap memberikan makanan gratis kepada warga, tidak terkecuali para petugas kepolisian.

"Dia (McAtee) memberi mereka makanan gratis. Dia memberi makan polisi dan tidak menuntut mereka untuk membayar," ucap Riley.

Sementara itu, kematian McAtee ini terjadi ketika polisi mulai meningkatkan respons mereka terhadap berbagai protes yang berlangsung di seluruh negeri. Banyak laporan yang juga telah menunjukkan bagaimana kepolisian kerap menggunakan kekerasan terhadap para demonstran yang tidak bersenjata.

Protes meletus di seluruh negeri dan di beberapa negara di seluruh dunia atas pembunuhan Floyd, yang meninggal setelah seorang petugas polisi di Minneapolis menekan lehernya dengan lutut selama lebih dari delapan menit.

Redaktur : Desi

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.