REQNews.com

Diperlihatkan Video Dugaan Penyiksaan Muslim Uighur, Cina Tetap Berkelit

News

Rabu, 22 Juli 2020 - 16:30

Video dugaan penyiksaan pemerintah Cina terhadap muslim Uighur (Foto:Istimewa)Video dugaan penyiksaan pemerintah Cina terhadap muslim Uighur (Foto:Istimewa)

LONDON, REQNews - Duta Besar Cina untuk Inggris tetap berkelit saat dirinya diperlihatkan video dugaan penyiksaan terhadap kelompok muslim Uighur di Xinjiang dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi BBC.

Wawancara eksklusif yang disiarkan langsung BBC pada Minggu, 19 Juli 2020 kemarin, menampilkan Duta Besar Liu Xioaming dan jurnalis terkemuka Inggris, Andrew Marr. Dalam kesempatan itu, Andrew menampilkan rekaman video yang diambil menggunakan drone di atas sebuah kamp konsentrasi di Xinjiang, Cina.

Video memperlihatkan para tahanan kepalanya dicukur botak serta ditutup matanya dan diborgol. Video tersebut telah diverifikasi oleh pakar dari Australian Strategis Policy Institute, Nathan Ruser. Dia menyebut video tersebut "sangat mengganggu".

Duta Besar Liu berusaha berkelit usai melihat tayangan video, dia menyanggah tayangan tersebut berkaitan dengan kekerasan pada muslim Uighur di Xinjiang.

"Saya tidak tahu dari mana Anda mendapatkan rekaman video ini. Anda tahu, terkadang Anda memiliki transfer tahanan. Anda tahu, di negara mana pun," kata Liu.

Liu malah balik menuduh ada upaya dari negara-negara barat memanipulasi video tersebut sebagai bentuk propaganda memojokan Cina melakukan kekerasan pada Muslim Uighur.

"Biarkan saya memberi tahu Anda ini. Yang disebut intelijen Barat terus melakukan tuduhan palsu terhadap Cina. Mereka mengatakan satu juta atau lebih warga Uighur telah dianiaya."

"Dalam 40 tahun terakhir, populasi Uighur di Xinjiang meningkat dua kali lipat. Populasi bertambah dua kali lipat. Jadi tidak ada batasan populasi. Tidak ada yang disebut aborsi paksa dan sebagainya," lanjutnya.

Tayangan video tersebut muncul di saat ketegangan Barat dan Cina meningkat karena penerapan Undang-Undang Keamanan Nasional yang membatasi kebebasan warga Hong Kong. Selain itu, Amerika Serikat dan Inggris diketahui tengah melakukan perlawanan terhadap penggunaan produk yang dibuat oleh raksasa telekomunikasi Cina, Huawei.

Redaktur : Desi

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.