REQNews.com

Penyanyi Ngetop Ini Dihukum 22 Tahun Penjara Karena Mendanai Terorisme

News

Friday, 18 December 2020 - 17:16

Fadel Shaker, penyanyi terkenal Timur Tengah, sebelum berubah menjadi Muslim militan Lebanon. Foto: European Pressphoto AgencyFadel Shaker, penyanyi terkenal Timur Tengah, sebelum berubah menjadi Muslim militan Lebanon. Foto: European Pressphoto Agency

Beirut, REQNews.com -- Fadel Shaker, penyanyi ngetop Lebanon, dijatuhi hukuman 22 tahun penjara dalam pengadilan in absentia akibat terbukti mendanai kelompok teroris pimpinan Ahmed al-Assir.

Shaker diadili in absentia bersama 15 tersangka lainnya, 15 Februari 2020 lalu. National News Agency melaporkan Shaker dan tersangka lain menyediakan layanan logistik kepada teroris, dan terlibat dalam tindakan.

Pengadilan menjatuhkan hukuman tujuh tahun penjara kepada Shaker, karena terbukti membeli senjata dan amunisi untuk kelompok Al-Assir.

Vonis 15 tahun untuk Shaker dijatuhkan karena terlibat dalam bentrokan dengan tentara Lebanon di pinggiran kota Abra, sebelah selatan pelabuhan Sidon, tahun 2013 lalu. Shaker juga diharuskan menjalani kerja paksa.

Shaker terkenal di Lebanon dan sekujur Timur Tengah berkat lagu-lagu tentang cina dan kehilangan. Ia menghimpun banyak dukungan, sampai dia mengubah penampilannya.

Tahun 2012, Shaker meninggalkan kariernya. Ia tampil dengan janggut berantakan dan jubah putih. Ia bergabung dengan Kelompok Al-Assir.

Al-Assir populer karena keterlibatannya dalam pemberontakan di Suriah. Ia mengkritik Hizbullah Lebanon yang didukung Iran dan secara terbuka menyokong Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Shaker tidak lagi bernyanyi tentang cina dan mendayu-dayu. Ia menukar lirik lagu, dengan lebih relijius untuk mendukung Al Assir.

Al-Assir memerintahkan penyerangan tentara Lebanon di Abra. Pertempuran berlangsung dua hari tanpa jeda, menewaskan puluhan orang termasuk 17 tentara Lebanon.

Dalam vido yang viral, Shaker mengatakan; "Kami mengirim pulang dua mayat untuk kalian kemarin." Klaim itu diinterpretasikan beberapa orang sebagai pengakuan Shaker telah membunuh dua tentara Lebanon.

Sejak itu Shaker melarikan diri. Ia tinggal di kamp pengungsi Palestina Ain al-Hilweh di Sidon -- tempat dia dibesarkan ibu asal Lebanon dan ayah Palestina.

Pasukan Lebanon tidak bisa memasuki kamp, yang membuat penangkapan Shaker tidak mungkin dilakukan.

Redaktur : Teguh Setiawan

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.