Budiman Sujatmiko Angkat Isu Radikal, Refly Harun: Kenapa Tak Geram saat Juliari Batubara Korupsi
JAKARTA, REQnews - Pakar hukum tata negara, Refly Harun mengatakan kecewa dengan narasi yang dibangun oleh Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Budiman Sudjatmiko. Menurut dia, narasi yang dibangun Budiman mirip dengan pemerintahan Joko Widodo saat ini.
Diketahui, Refly Harun dan Budiman satu angkatan di Universitas Gajah Mada (UGM). Semasa kuliah, Budiman dikenal sebagai aktivis yang pemberani melawan rezim Soeharto yang otoriter.
“Saya sebenarnya agak sedikit kecewa dengan Budiman, kita kan satu angkatan di UGM, dan Budiman sebenarnya sangat terkenal sebagai aktivis yang berani pada waktu bahkan sampai merasakan jeruji penjara di masa orde baru,” ucap Refly Harun melalui kanal YouTube-nya, Senin, 11 Oktober 2021.
Menurut Refly Harun, Budiman saat ini sering berbicara tentang radikal, terorisme dan ekstrimisme. Tuduhan-tuduhan itu mirip dengan penguasa saat ini.
“Ketika (Budiman) menjadi bagian dari kekuasaan, menurut saya, ya narasinya, narasi penguasa hari ini. Kenapa narasi penguasa hari ini, ya tadi, radikal, radikul, ekstrimisme dan lainnya,” ucap Refly Harun.
Refly mengatakan, Budiman seharusnya resah dan marah dengan kasus korupsi yang dilakukan rekan separtainya, yaitu Juliari Batubara. Bukan malah mengungkit dan menuduh soal radikal-radikul.
“Budiman Sudjatmiko kenapa tidak pernah geram dengan teman satu partainya Juliari Batubara yang melakukan korupsi di tengah pandemi seperti ini. Korupsi yang dilakukan oleh teman satu partainya yang justru harusnya berbuah hukuman yang jauh lebih berat,” ucaply Harun.
Menurut Refly, saat ini kasus korupsi jauh lebih banyak dibanding kasus kasus terorisme. Permasalahan lain yang mesti dirasakan oleh Budiman, kata dia, adalah kekuasaan saat ini cenderung otoriter.
“Saya tidak tahu kenapa Budiman tidak underline ini, padahal dia merasakan betul bagaimana otoritarisme orde baru,” ucap Refly.
Refly mengatakan, sifat otoriter Pemerintah dilihat dari banyaknya para aktivis yang ditangkap karena mengkritik pemerintah.
“Seperti Anton Permana, Zumhur Hidayat, Syahganda Nainggolan dan beberapa aktivis lainnya. Ini menunjukan bahwa negara tidak siap berdemokrasi,” kata Refly Harun.
Sebelumnya, Budiman Sudjatmiko mengaku kasihan dengan pengeboman sebuah Masjid di Afganistan. Budiman bilang bukan non muslim yang melakukan pengeboman itu. Dia lantas menolak jika Densus 88 dibubarkan seperti yang diusulkan oleh Fadli Zon.
“Yang meledakkan masjid dan menewaskan puluhan jama’ahnya di Kabul ini BUKAN orang-orang “kafir”. Sudah 3 kali kejadian serupa dalam seminggu. Kebayang kalau Densus 88 di Indonesia dibubarkan, pesta pora aksi-aksi teroris seperti ini” ujar Budiman di akun Twitter-nya.
Redaktur :
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
