Lebih Dari Setengah Abad, Aparat Masih Dihantui Sosok D.N. Aidit
JAKARTA, REQnews- Setengah Abad Lebih Setelah Kematiannya, Aparat Masih Parno Sama Sosok D.N. Aidit. Polisi di Probolinggo menyita empat buku, keempat buku itu ialah Aidit : Dua Wajah Dipa Nusantara (terbitan KPG dan TEMPO), Menempuh Jalan Rakyat: D.N Aidit (Yayasan “Pembaruan”), D.N. Aidit: Sebuah Biografi Ringkas (TB. 4 Saudara) , dan Sukarno, Marxisme & Leninisme : Akar Pemikiran Kiri & Revolusi Indonesia (Komunitas Bambu).
Buku-buku itu ditarik dari lapak literasi gratis. Padahal sejak 2010, Mahkamah Agung memutuskan aparat tak boleh merazia buku.
Selain itu dua pegiat literasi yang menjaga lapak baca gratis itu juga dibawa ke kantor polisi. Mereka adalah Muntasir Billah (24) dan Saiful Anwar (25) dan diinterogasi sampai sekitar pukul 23.30.
"Polisi mengambil buku dengan mengatakan, ‘Ini buku bermasalah, Mas, buku ini kami sita. Anda juga kami bawa untuk dimintai keterangan di kantor." kata Zainul, rekan Billah dan Saiful di Komunitas Vespa Literasi, kepada seperti yang dikutip dari CNN.
Kapolsek Kraksaan Kompol Joko Yuwono memberikan penjelasan ironis yang membuat kita sadar, Indonesia memang darurat literasi. Dilansir Kompas, Joko mengatakan dua pegiat literasi ditangkap karena keempat buku yang dijajakan dilarang beredar di Indonesia. "Keempat eksemplar buku yang dinilai pro-komunis itu diamankan. Buku-buku itu saat ini sudah dilarang di Indonesia, buku-buku kami amankan," ujar Joko.
Aksi razia buku dan tangkap orang itu langsung dicecar habis-habisan oleh para pegiat literasi lain. Respons duta baca Indonesia yang juga presenter terkenal Najwa Shihab merangkum semua kegelisahaan masyarakat yang sebal sama terulangnya kasus tersebut.
Siapa Sosok D.N. Aidit.?
D.N. Aidit adalah sosok yang memperoleh banyak pengikut dan dukungan karena program-program mereka untuk rakyat kecil di Indonesia. Dalam dasawarsa berikutnya, PKI menjadi pengimbang dari unsur-unsur konservatif di antara partai-partai politik Islam dan militer. Berakhirnya sistem parlementer pada tahun 1957 semakin meningkatkan peranan PKI, karena kekuatan ekstra-parlementer mereka. Ditambah lagi karena koneksi Aidit dan pemimpin PKI lainnya yang dekat dengan Presiden Sukarno, maka PKI menjadi organisasi massa yang sangat penting di Indonesia.
D.N Aidit tewas pada 22 November 1965. Seiring kematiannya, dan gejolak politik Indonesia masa itu, partai yang dia pimpin pun tinggal sejarah. Nyatanya tangkaian insiden penyitaan buku menunjukkan ketakutan berlebihan, seakan-akan hantu Aidit bisa bangkit lagi dan mendadak menguasai Indonesia. (Ran)
Redaktur : Safwan Hadi Rachman
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
