Gegara Hijab, Iran Tembak Mati 5 Demonstran yang Protes Kematian Mahsa Amini
IRAN, REQNews - Unjuk rasa di Iran yang memprotes kematian Mahsa Amini berujung tragis. Pihak kemanan menembak mati lima demonstran, dilansir dari CNN.
Menurut Organisasi Hengaw untuk HAM, 5 orang ditembak mati selama demonstrasi di wilayah Kurdi, Iran, pada Senin 19 September 2022.
Sementara itu, 75 lainnya terluka di kota-kota lain selama akhir pekan. Penjabat Komisaris Tinggi PBB bidang HAM, Nada al-Nashif, juga mengeluarkan peringatan atas tanggapan kekerasan dari pasukan keamanan Iran terhadap demonstrasi.
Di sisi lain, Gubernur Teheran Mohsen Mansouri menuduh para demonstran menyerang polisi dan menghancurkan properti publik.
Dalam unggahan Twitter pada Senin 19 September 2022 malam, ia mengeklaim bahwa para demonstran sangat terorganisir dan terlatih untuk menciptakan gangguan di Teheran.
Aksi protes besar-besaran meletus setelah kematian Amini. Wanita 22 tahun itu meninggal di Teheran setelah ditangkap oleh polisi moral Iran pekan lalu karena jilbabnya 'kurang pantas'.
Menurut otoritas Iran, Amini meninggal pada Jumat 16 September 2022 setelah terkena serangan jantung dan jatuh koma usai ditangkap pada Selasa 13 September 2022. Sebaliknya, keluarganya membantah putri mereka sudah memiliki penyakit jantung sebelumnya.
Berdasarkan rekaman CCTV yang disunting dan dirilis media pemerintah Iran, Amini terlihat jatuh pingsan di pusat 'pendidikan ulang', tempatnya dibawa untuk menerima 'bimbingan' soal pakaiannya.
Polisi moral Iran merupakan bagian dari penegakan hukum negara tersebut. Mereka bertugas untuk menegakkan aturan sosial yang ketat dari Republik Islam, termasuk norma pakaian yang mewajibkan perempuan mengenakan jilbab di depan umum.
Menurut pernyataan Kantor HAM PBB (OHCHR) pada Selasa 20 September 2022 bahwa polisi moral telah memperluas patroli jalanan dalam beberapa bulan terakhir. Para perempuan yang jilbabnya 'longgar' pun menjadi subjek pelecehan verbal sekaligus fisik dan penangkapan.
"OHCHR telah menerima banyak video terverifikasi tentang perlakuan kejam terhadap wanita, termasuk menampar wanita di wajah, memukuli mereka dengan tongkat, dan melemparkannya ke van polisi," bunyi pernyataan itu.
Al-Nashif mendesak kematian Amini, tuduhan penyiksaan, dan perlakuan buruk diselidiki segera oleh otoritas yang kompeten dan independen.
Sementara itu, polisi Iran mengatakan kalau kematian Amini adalah insiden kemalangan. Mereka membantah ia terluka fisiknya saat dalam tahanan. Otoritas Iran mengaku telah melakukan autopsi pada jasad Amini. Menurut direktur organisasi kedokteran forensik Iran, Mehdi Forozesh, hasilnya akan dipublikasikan setelah pemeriksaan lebih lanjut oleh para ahli medis.
Redaktur : Desi
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.