REQNews.com

Mengaku Tak Dilibatkan! IDI Kaltara Sayangkan Pemecatan Dua Dokter Spesialis di Nunukan

News

Jumat, 30 Desember 2022 - 10:32

Ilustrasi Dokter (Foto: Ilustrasi)Ilustrasi Dokter (Foto: Ilustrasi)

KALIMANTAN UTARA, REQnews - Dua dokter spesialis yang merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan bertugas di pedalaman RI – Malaysia dipecat oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Kedua ASN tersebut yaitu drg AA yang bertugas di Rumah Sakit Pratama Sebatik dan dr TY yang bertugas di Unit Pembantu Teknis (UPT) Puskesmas Desa Atap, Kecamatan Sembakung.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Nunukan, Kalimantan Utara, dr Sholeh Sp. A pun menyayangkan adanya pemecatan tersebut karena tak melibatkan pihaknya.

‘’IDI tidak dilibatkan dalam proses pemecatan tersebut, sehingga kita tidak bisa memberi masukan dan saran terhadap regulasi pemecatan terhadap dua rekan kami yang dipecat,’’ kata Sholeh kepada wartawan, Kamis 29 Desember 2022.

Menurutnya, saat ini Indonesia sedang mengalami krisis dokter spesialis. Sehingga Menteri Kesehatan RI Gunadi Sadikin pun mengagendakan program beasiswa untuk mencetak dokter spesialis di Indonesia.

‘’Sangat sulit mendapat dokter spesialis, sehingga seharusnya saat kita memiliki kualitas tersebut harus dijaga bagaimana baiknya. Sayangnya, pemecatan sudah terjadi dan IDI sama sekali tidak dilibatkan dalam proses tersebut,’’ kata dia.

Dirinya mengatakan bahwa kedua dokter yang dipecat merupakan aset Kabupaten Nunukan yang berharga, di saat negara kekurangan dokter spesialis justru keduanya dipecat.

Bahkan, menurutnya dokter spesialis sangat berharga dan rumah sakit swasta pasti akan berebut ingin menjalin kerja sama. Sehingga dengan adanya pemecatan tersebut merupakan sebuah kerugian bagi Nunukan. 

‘’IDI berharap akan dilibatkan dalam pengambilan keputusan bagi para dokter. Agar kami bisa memberikan pandangan dan penjelasan spesifikasi ilmu kesehatan yang dibutuhkan Nunukan," lanjutnya.

Sholeh mengatakan bahwa kedua dokter yang dipecat, seharusnya mendapat haknya untuk bisa berkembang dan memperbaiki kualitas diri dengan melanjutkan pendidikan. 

Ia menyebut bahwa salah satu dokter yang dipecat yaitu dr TY, telah mengabdi di pedalaman RI selama 10 tahun, yang pastinya ingin mendapatkan akses pendidikan berkelanjutan demi karirnya. 

Tetapi, kata dia, sangat disayangkan hak tersebut tak diperoleh dr TY. Menurutnya, dengan kualifikasi tersebut, dokter TY akhirnya nekat mengambil studi spesialis mikrobiologi dan lulus. 

"Namun sayangnya malah dipecat. Kebijakan tersebut sungguh menjadi penyesalan dan hal yang sangat kami sayangkan,’’ tambahnya. 

Padahal, Sholeh mengatakan jika dokter dengan analisa mikrobiologi menjadi unsur penting dalam dunia medis. 

‘’Misalnya jenis kumannya A, maka ditembak antibiotiknya ini, atau jenis kumannya B, dosisnya segini dan seterusnya. Mikrobiologi itu spesifikasi yang sangat dibutuhkan," lanjut dia.

"Apalagi di Kaltara belum ada. Spesialis gigi juga tak kalah penting, makanya sekali lagi, kami dari IDI, sangat menyesalkan pemecatan itu,’’ kata Sholeh.

Menurutnya, Kabupaten Nunukan yang berada di pedalaman terpencil, jauh dari wilayah lain, akses transportasi dan kesejahteraan juga kurang terjamin kurang diminati untuk penugasan. Sementara keberadaan dokter spesialis di wilayah tersebut, sangat dibutuhkan.

‘’Jadi meskipun Pemda sudah membuka peluang untuk dokter kontrak, itu tidak menyelesaikan masalah. Dokter kontrak yang datang hanya dokter umum, sementara keberadaan dokter spesialis adalah kebutuhan yang sangat berarti," ujarnya.

Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Nunukan Sura’i mengatakan, kedua dokter tersebut dipecat karena meninggalkan tugasnya tanpa izin dari Bupati Nunukan Asmin Laura Hafid. 

Menurutnya, sikap kedua dokter terkesan tidak bertanggungjawab dengan statusnya sebagai aparatur sipil negara (ASN), yang harus selalu taat pada pimpinan. 

Seorang ASN juga terikat dengan PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS. Sehingga ketika ASN melanggar kode etik, maka integritasnya dipertanyakan. 

Redaktur : Hastina

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.